Tampilkan postingan dengan label serial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serial. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2010

Sang Pemburu Hantu (bagian empat)

"Aku tak sabar lagi! Aku semakin semangat! Bagaimana kalai kita langsung ke ruangan pembuatan keripik kentang?" ujarku sambil menggendong Corell.
"Ya, boleh saja. Hei, apakah kau punya balsem? Kurasa, lututku ini tinggal diberi balsem aja, langsung sembuh," Corel mengorek-ngorek tasku. "masa kau sama sekali tidak membawa kotak P3K?" keluhnya.
"Yang kuingat, kita tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Tahu? Massy! Dimana tempat ruangan pembuatan keripik kentang itu?" kerapatkan lagi ear speakerku.
"Hhhmm... letaknya di belakang balkon. Di tingkat empat. Hei! Kenapa kau terburu-buru?"
"Sepertinya, di situlah sarang Kepala Hantu (kayak kepala sekolah aja!), jadi, kalau Pimpinan mati, otomatis yang lainnya datang, dan langsung lawan aja. Nggak usah muter-muter!" jawabku.
"Terserah kamu aja deh! Kamu kan yang menggantikan Anna sebagai ketua pimpinan. Jadi aku nurut. Kau sudah sampai di balkon?"
"Hai! Sekarang hampir terbit fajar! Kita harus membunuh semua hantu di rumah ini! Sebelum ada korban lagi!" pekik Corell. Dia panik.
"Tenang saja. Kita sudah sampai. Mau menunggu di sini?" tanyaku. Kuletakkan Corell, dan dia duduk. Bersandar. Ia pun mengangguk lemah.
"Kurasa, hari ini hanya aku dan Massy pahlawannya. Walaupun kau juga sedikit membantu." godaku.
"Huh... awas saja besok-besok!" Corell menendang ujung kaki.
"Hei, kalian! Cepatlah! Ini bukan waktunya untuk main-main!" bentak Massy.
Akhirnya aku membuka pintu kayu yang besar itu.

"KKRRIITTT!!!!!!" suara pintu berderit. Kututup telinga kiriku. Yang tidak memakai ear speaker.
"Fyuh... tuhan, selamatkan aku." bisikku pelan. Langkah demi langkah, kusibak tirai yang kotor dan berdebu.Dan langsung terlihat....
Banyak mesin sederhana yang terbuat dari kayu. Juga kursi goyang, yang bergoyang kencang. Hampir jatuh. Tapi sepertinya, kursi itu dikendalikan.... oleh hantu!
"HEI KAU! Keluar dari persembunyian! Secepatnya! Aku tak takut padamu!" teriakku kencang.
"Oh ya?" seseorang membisikkan kata itu di dekat telingaku.
"Kamu jangan sembarangan, Ellie! Kamu langsung loncat aja, sih...." bisik Massy bergetar.
"Siapa itu?" hantu itu mengagetkan lagi.
"Ini teman kecilku! Dia ada di telingaku! Dia akan membantuku, melawanmu! Dan... euph! lewph....eeppphh!!!!" rasanya aku seperti disekap.
"Kalau begitu... dia tidak boleh membantumu. Kau harus sendirian melawanku." kata hantu itu. Ear speaker tiba-tiba jatuh. Pelan. Tapi, ear speaker itu remuk. Hancur lebur. kabelnya putus semua. aku tak percaya ini.
"Sekarang, ada yang membantumu?" kata hantu itu dengan sombong dan penuh kemenangan.
"Memang tidak! Tapi, aku pasti bisa melawanmu! Dan, wow! aku kagum padamu. Sepertinya, kau hebat sekali..." pujiku tak tulus.
"Iya...aku sangat kuat! Aku berhasil menakut-nakuti semua pegawai di pabrik kentang ini. Sedangkan kau... sama sekali tidak menakutkan di mataku..." hantu itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Hii... wajahnya menyeramkan!

Perlahan-lahan... tapi pasti! Kutarik pistol jaringku. Tapi aku tiba-tiba tertaik ke depan. Kurasa, hantu itu ingin menghancurkan pistolku ini. Otomatis, kupencet tombol 'tembak'. Hantu itu memang kena jaring, tapi dia menembus jaring itu???!!! Baru kali ini, ada yang bisa menembus jaring bayangan ini.
"Bagaimana? Aku hebat kan? Sekarang, kau akan kalah!Dan botol ini, kuhancurkan! Anak buahku! Ayo makan!!!!!" teriak hantu itu. Sepertinya memanggil teman-temannya. Hii... bagaimana ini??? Sepertinya aku akan dimakan seperti kakak Bu Looley.
Hantu-hantu itu, yang kira-kira jumlahnya ada sepuluh lebih. Langsung menerkamku. Kututup mataku. Mungkin ini adalah akhir riwayatku... pikirku. Tapi ini tidak mungkin! hati nuraniku mengelak. Aku jadi bingung. Akhirnya aku pasrah, dan kujatuhkan diriku. Aku akan....
"Hya! CIATT!!! Hwa! Hwa! Hwa!" kudengar teriakan yang kukenal. Corell! Dia membawa sesuatu di tangannya. Bentuknya balok, tipis, dan dia memencet tombol. Dan bersamaan dengan itu, langsung terdengar bunyi; "JEPRET!"

"Apa itu? Kakimu sudah nggak sakit, apa?" tanyaku bingung.
"Diam! sekarang bantu aku! Cepat ambil pistolmu, dan botol hantu!" perintah Corell tegas.
"Baik!" aku hanya menjawab singkat, dan kulakukan perintahnya.
Aku menembakkakn jaring-jaring. Hantu-hantu itu, satu persatu tertangkap. Hingga semua anak buah Kepala Hantu tertangkap semua. Jaringku masih banyak. Jadi aku terus-terusan menembakkan jaring ke Kepala Hantu.
"Corell! Ini tidak mempan! dan jaringku, tinggal satu!"
"Biar aku yang lakukan!" Corell yang tadi duduk kelelahan, akhirnya berdiri susah payah. Kutarik lengannya. Kurasa, kakinya terkilir parah. Dan memar.
"JEPRET!" terdengar suara itu. Dan... Kepala Hantu itu langsung menghilang seketika.
"Kalian hebat! Kalian hebat! Kalian hebat!" puji Massy keras. Lewat ear speaker Corell tentunya.
"Ya, tentu saja kami hebat!" kami membusungkan dada.
Dan tentunya, tersenyum lebar!

Minggu, 01 Agustus 2010

Sang pemburu hantu (bagian tiga)

"Ellie!!!!! Corell!!!!! JAWAB! JAWAB!" Massy terus memanggil. Suaranya melengking di telingaku.
Lima menit kemudian, barulah bayangan yang berkelebat itu pergi. Aku terjatuh. Lututku lemas sekali. Tanganku tegang. Dan aku baru sadar, kalau Corell masih pingsan.
"Ellie! Bagaimana? Apakah kau tadi melihat bayangan yang berkelebat? Sekarang, bagaimana keadaanmu? Apakah aku harus menyusul? Oh... belum pernah aku mengalami misi seberat ini! Baru awal saja, sudah jatuh...." Massy terus bertanya dengan cemas.
"Aku tak apa-apa. Tetapi Corell.... dia pingsan! Mungkin dia sudah lama tak melihat hantu. Makanya dia kaget." jelasku.
"Oh, kalau begitu.... pakaikan Bau Penyengat!" usul Massy. Aku pun membuka tasku. Kukeluarkan sebuah botol berisi cairan. Yang baunya tidak sedap! Tetapi melegakan hidung. Ini dibuat oleh Maddy.
Kubuka botolnya, lalu kudekatkan ke hidung Corell.
"UHUK! UHUK! UHUK!" Corell terbatuk. "Oh... aku pingsan ya? Habis aku kaget sih! Aduh, aduh...." Corell memegang keningnya.
"kita lanjut yuk! Ke loteng. Mungkin banyak informasi disana." ajakku. Kutarik tangan Corell.
Kami pun berjalan menuju loteng yang ada di tingkat tiga.

"KRIEKKK......" aku membuka pintu. Debu langsung bertebaran dimana-mana. Saat kusorotkan senter ke dalam, banyak barang-barang yang tak terpakai. Diselimuti kain putih yang banyak terdapat sarang laba-laba.
"Wow. Kurasa, loteng di penginapan tak sekotor ini." gumam Corell. Aku mengangguk.
"Kalian sudah sampai loteng? Kalau sudah, kalian cari sofa besar. Sofa itu tidak ditutupi kain. Warnanya merah. Nah, kamu lihat ke kolong sofa. itu. Menurut GM-3000, disitulah salah satu sarang hantu. Diperkirakan, hanya ada satu hantu di loteng. Tapi kau harus mengendap-endap. Oke?" pesan Massy lewat ear speaker.
"Oke." jawabku dan Corell berbarengan.

Dan aku pun melihat sebuah sofa besar warna merah. Kutarik tangan Corell. Dia merintih sedikit, tetapi kutempelkan jari telunjukku ke depan bibir. Akhirnya dia mengerti. Kami segera merayap ke kolong sofa. Lalu.....
"HANTU ITU! HANTU ITU! Dia lari ke sana!" pekik Corell. Kami berlari ke arah yang ditunjuk Corell.
"TEMBAK! Tembak, Ellie! TEMBAK!!!" suruh Corell. Karena aku tegang, akhirnya Corell yang menembak. Bukan aku.
Corell segera menembak dengan tembakan hantu. Sayangnya, hantu itu gesit sekali! Kami jadi lari-larian kesana kemari. Aku sudah lupa pengalaman berburu hantu ini. Massy berteriak di ear speaker. Tapi kami tak mendengarkan. Kami sibuk mengejar hantu.
BRUK!!! "Ouch... sakit!" Corell terjatuh. dia sepertinya tersandung kabel yang diseret hantu itu.
"Dasar hantu JAHIL!" ejekku. Aku segera mengobati luka Corell. Saat aku ingin memasukkan obat luka ke dalam tas... tasku tak ada!
"Bagaimana ini... pistolku ada di dalam, begitu juga botolnya." kataku sedih.
"Pakailah punyaku dulu. Kau kejar hantu itu."
"Kamunya?"
"Aku tetap disini. Aku belum bisa lari, nih. Tapi kalau kamu mau keluar loteng, gendong aku ya?"
"Tapi.... ya udah, ah!" aku memakai tas milik Corell. Corell kududukkan di sofa merah itu.
Tapi saat Corell duduk, malah ada satu hantu lagi yang berkeliaran. Seperti kaget. Aku melongo. Aku segera mengejar hantu itu.
"Rasakan ini! HIAA!!! HIAA!!! HIAA!!!" kutembak hantu itu dengan peluru jaring. Tetapi hantu itu cepat. Cepat sekali! Secepat kilat!

"Kalau mau menangkapku, coba lebih keras lagi. Atau temanmu akan kumakan...." tiba-tiba hantu itu ada di depanku. Hii.... seram! Apalagi rajanya! Brr... bergetar tubuhku!
"Hei! apa yang kau lakukan? Cepat tembak hantu itu! Dia tidak bisa lihat ke bawah, pelan-pelanlah... TEMBAK DIA!" bisik Massy. Akhirnya, kutembak hantu yang masih ada di depanku itu dengan gesit. Walau masih ragu dan ketakutan.
"Ellie! Kau berhasil menangkapnya!" pekik Corell gembira.
Kubuka mataku. Soalnya, saat aku menembak, aku menutup mataku. Sudah lama banget sih, nggak nangkep hantu. Pokoknya, aku dah lupa rasanya memburu hantu. Sudah beberapa tahun yang lalu lamanya tak menangkap hantu.
Kuangkat jaring yang berisi hantu itu. Hantu itu memberontak, menggigit-gigit tali jaring. Tetapi tali jaring itu tak akan putus. Kecuali manusia yang membukanya. Kumasukkan ke dalam botol hantu. Jaring pun langsung tersedot.
"GREAT! Good job, Ellie! Okay, next. Second ghost. Come on,"

Jumat, 16 Juli 2010

Roti bakar buatan Fira

"Fir, kamu punya cemilan nggak? Aku laper nih! Habis lari-lari di taman." tanya Mako. Fira, Lolli, dan ketujuh teman barunya sedang ada di kamar Lolli.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.

"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.

"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.

Jumat, 18 Juni 2010

Teman baru, di Apartemen



"Selamat tidur, Honey..." Mama menyelimuti Fira dengan lembut. "Mimpi indah." Mama mematikan lampu, lalu menutup pintu dengan perlahan-lahan.
Fira pura-pura tidur. Sebenarnya, ia berniat untuk menata barang-barangnya malam ini. Yang sebelumnya dilarang oleh orang tuanya. Tetapi, Fira nekat untuk menata barang-barang itu malam ini. Lagi pula, besok kan libur. Tak apa kalau aku tidur larut malam. Batin Fira.
Fira membuka kotak kardusnya.Ia megambil koleksi bukunya, Lalu menatanya di rak yang sudah disediakan. Ia menata lagi yang lainnya. Seperti; baju-baju, boneka, stiker, mainan, tissue, dan lain-lain.
Hingga pukul setengah sebelas malam, pekerjaan Fira baru selesai. Fira belum mengantuk. Ia sangat gembira atas kejutan kedua orang tuanya.

Aku harus tidur! kata Fira dalam hati. Akhirnya, Fira tidur. Fira tidur dengan lelap. Ia bermimpi, sedang bertemu Alice di Wonder Land.
**************
"Fira, yuk bangun! Udah pagi nih!" Mama mengguncangkan tubuh mengil Fira.
"Iya, Ma. Fira bangun." Fira melipat selimutnya. Lalu berlari ke kamar mandi untuk mandi tentunya.
Setelah mandi, Fira mencari baju yang pas untuk hari ini. Ia pun lari ke ruang makan. Untuk sarapan.

Mama telah menyiapkan roti bakar dengan mentega, telur mata sapi, daging goreng, dan susu sapi segar.
"Fira nanti mau berenang? Sekalian, cari teman baru." usul Papa tiba-tiba yang sedang mengunyah daging gorengnya.
"Mau, Papa! Fira mau! Nanti habis sarapan ya? Terus. Ini, Fira lagi perlu pulpen baru. Tiga buah. Untuk sekolah besok. Tinta pulpen Fira habis, Pa." Fira menambah telur mata sapi lagi.
"Oke, nanti setelah ke kolam renang, kita beli makanan dan kebutuhan kita di toko dekat apartemen ya?"
"ASYIK!" Fira pun menghabiskan sarapannya.

Lalu, Fira mengemas barang-barang yang diperlukan untuk berenang nanti. Ia memasukkannya ke ransel yang akan ia tenteng. Fira mengambil kaca matanya, lalu memakainya. Fira ingin mengucir rambutnya menjadi buntut kuda dengan karet rambut polkadot.


Fira membuntuti Papanya yang berjalan ke kolam renang. Mama juga ikut, tentunya. Sampai di kolam renang, Fira langsung mengganti bajunya, sedikit lari dan pemanasan, lalu langsung....
BYUR!!!! Fira segera berenang bolak-balik seperti ikan di akuarium. Fira memang pintar di bidang olahraga renang dan senam laintai.
Setelah agak capek, Fira duduk di tepi kolam. Ada seorang gadis sebaya Fira, mendekati Fira.
"Wow! Kau pintar renang ya? Itu hobimu?" tanya gadis itu.
"Iya. Aku sudah belajar renang sejak TK." jawab Fira. "Ngomong-ngomong, namamu siapa?"
"Eh iya, namaku Lolli. Namamu?" Lolli balas bertanya.
"Fira. Kamu di ruang nomor berapa. Kalau aku, di 302."
"Hah? Kau baru ya? Pantas aku tak pernah melihatmu. Aku di 305. Aku baru tiga bulan tinggal disini. Aku berenang sendiri. Maukah kau nanti kuajak ke rumahku?"
"Maksudmu, ruang apartemen nomor 305 milikmu?" Lolli mengangguk. Fira pun mengajak Lolli untuk berlomba berenang.
Ternyata, Lolli juga pintar berenang. Fira nyaris kalah, lho!

"Fyuhh.... Lolli! Aku capek, nih! Aku mau bilas, ganti baju, habis itu makan." Fira melepas kacamata renangnya.
"Aku ikut, ya? Yuk!" Lolli juga melepas kaca matanya.
Akhirnya, kedua teman baru itu berjalan ke ruang bilas.
**************
"Ma, Pa. Ini teman baru Fira. Namanya Lolli Asa Fendiana. Dipanggil Lolli." Fira memperkenalkan Lolli kepada orang tuanya di kafe.
"Oh, salam kenal Lolli! Kami orang tua Fira. Orang tua kamu mana?" tanya Papa Fira.
"Saya sendiri. orang tua saya ada acara pernikahan. Saya jaga rumah."
"Wah, kamu mandiri, ya! Tuh, Fira... Tirulah Lolli!" Mama menunjuk Lolli. Pipi Lolli bersemu merah karena malu.
"Papa! Mama! Nanti aku mau ke rumah Lolli. Boleh nggak?"
"Kamu nggak jadi beli alat tulis di toko?" Papa balas bertanya.
"Fira udah buatin daftar. Cuma sedikit, kok! Slurrppp.... ah... segar! Boleh ya, Pa? Kasihan Lolli. Sendirian..."

"Nggak usah lebay deh, Fir!" Lolli berbisik sambil menginjak kaki Fira. Fira meringis kesakitan.
"Boleh. Sana gih! Mama sama Papa harus cepat-cepat beli kebutuhan di toko."
"Oke, Ma! Yuk, Lolli!"

Lolli dan Fira masih di dalam lift. Tiba-tiba, muka Lolli pucat saat lift mulai naik ke lantai dua.
"Kamu kenapa?" tanya Fira cemas.
"Cuma... Heebbhhh... akhu chuma... khalau naikh lhift.... sukha khayak ghini... thenangg ajha..."
Sampai di lantai tiga, hanya beberapa menit saja, muka Lolli mulai segar. Fira lega melihatnya.
"Yuk masuk. Ini rumahku. itu kamarku." Lolli membuka pintu.
Beberapa detik saja, mulut Fira terbuka lebar. Sampai air liurnya menetes di karpet kamar Lolli.
"KAMU JOROK, FIR!" teriak Lolli kesal sambil mengelap karpetnya.
"Huupp!!! Sori, ya. Cuma.... kamarmu penuh dengan BONEKA! Itu mainan yang paling kusukai."
"Sebenarnya aku tak suka boneka. Ini kado, hadiah, bingkisan... sebenarnya aku suka permainan anak umum. Seperti ular tangga, monopoli, catur, basket, menggambar, komputer, browsing... semacam ITU!"
"Aku tak menyangka... tapi aku suka sekali dengan permainan MONOPOLI! yuk kita main. Aku ingin membeli Korea Utara, Amerika, Afrika, Jepang...."
*************
"Tunggu sebentar, Fir. Kamu lanjutkan saja bagianmu. Tapi jangan curang." Lolli berjalan menuju ruang tengah.
"Oke. Aku nggak bakal curang, kok." Fira mengocok dadunya.

Lolli di ruang tengah menelepon beberapa anak apartemen yang sudah kenal dekat dengan dirinya. Satu jam kemudian, anak-anak yang ditelepon Lolli datang.
"Hai, Lolli. Apa yang akan kamu tunjukkan pada kami?" tanya seorang anak.
"Tunggu sajalah. Masuk yuk!" Lolli mengajak tujuh anak perempuan sekaligus masuk ke kamarnya.
"FIRA! Mau nambah teman nggak?" Lolli mengagetkan Fira yang sedang duduk membaca komik.
"Hei, aku Lina."
"Vera."
"Karin, aku bisa meramal lho!!!"
"Lola."
"Katherine, dari Inggris."
"Mako, dari Jepang. Konichiwa! Kamu suka nyanyi, nggak?"
"Lita. Hai, apa kabar?"

"Aku Fira, teman-teman baruku. Aku baru dua hari di apartemen ini. terima kasih mau jadi temanku."
"Berterima kasihlah pada Lolli. Kalian main apa? Monopoli? Nggak seru! Gimana kalo kita main petak umpet di halaman?" usul Vera.
"YA!!!" ucap seluruh anak dari kamar Lolli. Mereka semua keluar dari kamar Lolli. Lalu turun ke halaman.

"Lolli, mau jadi sahabatku nggak?" Fira menggandeng tangan Lolli saat berlari bersama. Mencari tempat persembunyian.
"Tentu saja," Lolli tersenyum manis. Semanis permen LOLIPOP yang disukai Fira.


Rabu, 16 Juni 2010

Tinggal di RUMAH SUSUN???!!!! (boongan)

"Fira, sayang! Ayo, kita mau berangkat. Sudah kamu bawa kopermu?" Mama memanggil Fira yang masih ngambek di kamarnya.
"Kenapa kita malah jadi tinggal di RUMAH SUSUN, Ma? Disana bau, sempit, kotor.... kenapa kita nggak ngontrak rumah yang lebih baik aja? Kenapa nggak Papa aja yang kesana, terus kalau malam minggu Papa kesini? Fira nggak mau tinggal di RUMAH SUSUN!!!!" teriak Fira kencang.
"Aduh-aduh Fira... nanti kalau rumah ini laku, kita cari rumah ya? Kalau nggak ada, kita terpaksa di rumah susun. Ini untuk sementara kok. Papa kan pindah kerja kesana. Kita harus ikut dong... Kalau rumah ini dibeli, baru deh kita cari...."
"Rumah yang lebih baik, bagus, bersih, luas... dari pada di RUMAH SUSUN!!!!!" potong Fira. Fira menyambar koper merah jambunya dan meletakkannya ke bagasi mobil dengan keras. Ia masuk ke tempat duduk di depan.

"Mau minum, Sayang? Nih, Mama beli Royal Tea kesukaanmu. Sama biskuit gandum." sambil menyetir, Mama mengambil sebuah botol dan plastik kecil beriwsi biskuit.
"Trims, Ma." dengan wajah dongkol, Fira meminum royal tea, dan memakan biskuit gandumnya. Selama beberapa menit, hati Fira jadi agak dingin.
"Maap ya, Ma. Fira kaget aja kita harus tinggal di rumah susun. itu aja." ujar Fira.
"Nggak papa. Lagian, lamu pasti bakal kaget kalo melihat rumah susun itu." Mama menyengir dan menyalakan radio. Fira jadi heran.

Mama membelokkan mobil ke kiri. Fira jadi bingung. Perasaan, rumah susun yang di sini itu.... kalo nggak salah di kanan, dekat pasar. Kok malah kesini ya Aku belum pernah lewat sini. Apa rumah susunnya bagus, bersih, luas? Penasaraaannn!!!!! Batin Fira sambil memukul-mukul pahanya.
"Kenapa, honey?? Minum royal tea-nya dong. Biar kamu adem ayem, dan nggak pusing tujuh keliling." usul Mama. Fira meminum royal tea-nya lagi. Beberapa menit.... pikirannya dingin juga....
"Tidur dulu sayang. Tempatnya masih jauh." Mama menutup mata Fira dengan tangan.
"Ya udah.... aku tidur ya, Ma?" Mama mengangguk.

Dua jam telah berlalu.....
"Honey, yuk turun! Kita udah sampe nih... sebelumnya, kamu pake penutup mata ini dulu ya?" Mama memasangkan penutup mata di mata Fira.
"Uh... Mama! Penasaran nich!" Mama hanya tersenyum. Tapi tak dilihat oleh Fira.
"Kopernya, biar Mama yang bawa." Mama membuka bagasi. Terdengar suaranya.
"Lho? Tapi kan... Mama bawa... Terus itu... Anu.... lho kok??" Fira tambah bingung. Dia jadi linglung memikirkan semuanya.
"Oke! Kamu pegang tangan Mama yang ini ya? Kamu jalan ikutin Mama aja. Dan... ssssttt!!!! Jangan bicara sepatah kata pun. Oke?" Fira mengangguk.

Mama sebenarnya tidak membawa koper. Tapi Papa. Tapi itu kejutan untuk Fira. Nanti....

"Ok, Fira! Kamu boleh buka penutup matanya!!!!"
Fira membuka penutup mata.... dan ia melihat sebuah ruangan luas... mewah... bagus.... bersih.....
"Mama... ini RUMAH SUSUN-nya???!!!!!!!!!!! Bohong ah!!!!" Fira berlari bolak-balik melihat sana-sini.
"Selamat Ulang Tahun untuk Fira!!!!" Papa keluar dari persembunyiannya. Membawa kue tart besar dengan lilin berbentuk hello kitty membawa boneka bentuk angkan sebelas.
"Surprise for you!!! Fira, my honey!!!!" Mama membawa kotak kado besar lalu memeluk Fira dengan erat.

"Fira, kita bukan di RUMAH SUSUN. Tapi di... APARTEMEN!!!!" seketika, mulut Fira menganga lebar.
"Itu kado untuk kamu, tapi... itu karena Papa kerja disini juga. Sebenarnya, Papa bukan di kota sebelah. Papa bohong. Maaf ya.... Sekarang tiup lilinnya dong..." Papa menyodorkan kue tart ke depan Fira. Fira meniup lilinnya.
"YEEI!!!!" seru Mama dan Papa.
"Nih, kado dari Mama...." Mama menyerahkan kotak besar yang dibawa Mama tadi. Fira membukanya dan....
Isinya KOTAK!!! Bukan kotak biasa. Saat dibuka, hhmmm.... terdengar suara alunan musik yang merdu.

"Trims, Mama! Trims, Papa!" Fira memeluk Mama-Papanya. Mencium kedua pipi orang tuanya.
"Ayo, kita rayakan dengan royal tea, and biscuit!!!!!" Mama membawa nampan. Dengan tiga cangkir royal tea ang yummy biscuit! Hhhmmm...
"Happy Brithday To You!!!!"
Mulut Fira terbuka lebar (senyum).