Aku melihat... di youtube.....
Tragedi.... kapal yang.... menabrak gunung es....
Orang-orang.... tenggelam di.... lautan... bersuhu dibawah nol derajat.....
Betapa dinginnya.... saat itu.....
Kisah nyata.... yang dibuat film...
yang bisa... membuat orang... yang menontonnya.... menjadi menangis... deras....
Berawal dari ibuku yang menyuting aku saat membawakan lagu TITANIC dengan piano. Ibu memasukkannya ke facebook. Lalu, aku meminta ibuku untuk mendownload MP3 lagu TITANIC itu....
Ibuku, membuka youtube dan situs untuk mendownload MP3. Di youtube, ibu membuka lagu TITANIC yang berselang-seling. Lagu dan filmnya. Saat lagu itu selesai... ibuku berkata: "Hah... kapalnya nabrak es!" aku dan adikku yang sedang makan lalu ke kamar ibu, dan meminta ibu untuk mengulanginya.
Aku kaget.... jantungku berdegup kencang.... melihat kapal patah... yang patahannya itu menarik seluruh badan kapal.... ke dasar laut.....
Ada ibu yang memeluk keempat anaknya.... tidak menyelamatkan diri.... pasrah begitu saja... mati tenggelam di kapal itu.... ada juga sepasang suami-istri.... yang terbangun karena suara air yang deras.... tapi mereka... tidur kembali.... pasrah mati di situ.... dengan keadaan tidur....
Orang-orang yang... tenggelam.... banyak yang mengorbankan nyawanya.... untuk menyelamatkan orang lain... sungguh.....
TITANIC
Jumat, 11 Juni 2010
Usap air matamu
Matahari hatiku telah terbenam...
Ku teringat akan kepergianmu
Aku berjalan perlahan-lahan
Menuju tujuan ini
Aku ingat-ingat
Masa lalu bahagia
Milik kita, bersama
Kutatap wajahmu, tuk terakhir kalinya
Kupeluk erat tubuhmu.....
Senyuman manismu, tak akan kulupakan
Usap air matamu, berhentilah menangis
Berdoalah saja, kita bisa bertemu lagi
Pelangiku, berjuta warna
Bintang-bintang beribu cahaya
Kita bersama, di antaranya....
Berdoalah saja.....
Kita bisa, bertemu lagi sahabatku....
NB:
bersama sama dengan sahabatku banyak (geng)
ini juga udah kubikin lagu lho!
Ku teringat akan kepergianmu
Aku berjalan perlahan-lahan
Menuju tujuan ini
Aku ingat-ingat
Masa lalu bahagia
Milik kita, bersama
Kutatap wajahmu, tuk terakhir kalinya
Kupeluk erat tubuhmu.....
Senyuman manismu, tak akan kulupakan
Usap air matamu, berhentilah menangis
Berdoalah saja, kita bisa bertemu lagi
Pelangiku, berjuta warna
Bintang-bintang beribu cahaya
Kita bersama, di antaranya....
Berdoalah saja.....
Kita bisa, bertemu lagi sahabatku....
NB:
bersama sama dengan sahabatku banyak (geng)
ini juga udah kubikin lagu lho!
Jumat, 23 April 2010
Boneka buatan Sarti
"Gggrr...!!!!! Bosannya minta ampyuuunn...!!!!!!" Sarti menendang-nendang angin. Ia sedang berbaring di kasurnya.
"Mama juga, ke Jakarta ikut seminar. Papa, belum pulang kerja. Bi Asih, pulang kampung, anaknya sakit. Kak Fendi, baru pulang nanti malem dari kampus. Bosen-bosen-bosen.....!!!!!!!!!" Sari memukul-mukul dinding kamarnya.
Sarti keluar dari kamarnya dan menggerutu di ruang tengah. KRUYUK! Perut Sarti tiba-tiba berbunyi. "Masak mi, ah." Sarti ke dapur dan memasak mi instan sendirian. Ia menambahkan sedikit sambal di mangkuknya. Dan, walla! Mi buatan Sarti untuk sarti sudah siap! Sarti membawa mangkuk mi-nya ke ruang makan.
"Selamat makan, Sarti." Sarti mengambil garpu dan memakan mi dengan nikmat. Hawa yang dingin, ditembus oleh kuah mi yang hangat. Sarti dengan lahap memakai mi-nya. Saat mi sudah habis, Sarti mencuci piringnya.
"Home alone...." gumam Sarti saat mencuci piring. Selesai mencuci piring, Sarti masuk ke kamarnya.
"Makanan untuk keadaan daruratku. Oke, sebaiknya keripik kentang saja. Mungkin nanti sore, Papa membawa makanan untuk makan malam. Ini adalah keadaan darurat. Perutku masih minta diisi, tapi sudah tidak ada makanan. Dan mungkin, soda? Yap. Sudah lengkap. Saatnya menonton teve." Sarti menutup laci makanan darurat. Lalu berjalan ke ruang tengah dan menyalakan teve.
Sambil memakan keripik kentang dan meminum soda, tiba-tiba mata Sarti teralih ke benang wol yang bertumpuk-tumpuk di kamar Kak Fendi. Sarti mendekati benang wol yang sebukit semut itu. Sisa benang wol sebanyak ini, berarti benang wol yang asli masih banyak! Pikir Sarti. Sarti mematikan teve dan menelepon Kak Fendi.
"Halo, ada apa Sarti? Kakak sedang kuliah."
"Kak, sisa benang wol yang ada di kamar kakak, boleh Sarti ambil?"
"Ambil saja, Kakak juga bingung mau diapakan sisa benang wolnya. Pendek-pendek sih! Nggak bisa dipake deh."
"Boleh, kak? Terima kasih. Asslamualaikum."
"Wa'alaikum sallam."
"Mama juga, ke Jakarta ikut seminar. Papa, belum pulang kerja. Bi Asih, pulang kampung, anaknya sakit. Kak Fendi, baru pulang nanti malem dari kampus. Bosen-bosen-bosen.....!!!!!!!!!" Sari memukul-mukul dinding kamarnya.
Sarti keluar dari kamarnya dan menggerutu di ruang tengah. KRUYUK! Perut Sarti tiba-tiba berbunyi. "Masak mi, ah." Sarti ke dapur dan memasak mi instan sendirian. Ia menambahkan sedikit sambal di mangkuknya. Dan, walla! Mi buatan Sarti untuk sarti sudah siap! Sarti membawa mangkuk mi-nya ke ruang makan.
"Selamat makan, Sarti." Sarti mengambil garpu dan memakan mi dengan nikmat. Hawa yang dingin, ditembus oleh kuah mi yang hangat. Sarti dengan lahap memakai mi-nya. Saat mi sudah habis, Sarti mencuci piringnya.
"Home alone...." gumam Sarti saat mencuci piring. Selesai mencuci piring, Sarti masuk ke kamarnya.
"Makanan untuk keadaan daruratku. Oke, sebaiknya keripik kentang saja. Mungkin nanti sore, Papa membawa makanan untuk makan malam. Ini adalah keadaan darurat. Perutku masih minta diisi, tapi sudah tidak ada makanan. Dan mungkin, soda? Yap. Sudah lengkap. Saatnya menonton teve." Sarti menutup laci makanan darurat. Lalu berjalan ke ruang tengah dan menyalakan teve.
Sambil memakan keripik kentang dan meminum soda, tiba-tiba mata Sarti teralih ke benang wol yang bertumpuk-tumpuk di kamar Kak Fendi. Sarti mendekati benang wol yang sebukit semut itu. Sisa benang wol sebanyak ini, berarti benang wol yang asli masih banyak! Pikir Sarti. Sarti mematikan teve dan menelepon Kak Fendi.
"Halo, ada apa Sarti? Kakak sedang kuliah."
"Kak, sisa benang wol yang ada di kamar kakak, boleh Sarti ambil?"
"Ambil saja, Kakak juga bingung mau diapakan sisa benang wolnya. Pendek-pendek sih! Nggak bisa dipake deh."
"Boleh, kak? Terima kasih. Asslamualaikum."
"Wa'alaikum sallam."
Klik! Sarti menutup telepon. Sarti mengambil semua sisa-sisa benang wol itu dan membawanya ke kamar. Ia buang dulu bungkus keripik kentang dan minuman sodanya yang telah habis.
Di kamar, Sarti mengunci pintu dari dalam. Ia memandang wol yang kini bertumpuk di samping meja belajarnya. Sarti kebingungan. "Mau kuapakan ya? Aku tadi cuma menuruti perintah hatiku! Tunggu, berpikir! Pasti benang wol ini bisa dibuat sesuatu." Sarti berputar-putar menglilingi tumpukan benang wol. "Kain perca punya Mama! Ya, aku perlu itu!" Sarti membuka kunci pintu kamar, dan berlari ke kamar Mama. Ia mengorak-arik sebuah kotak yang dipenuhi kain perca. "Ah, tak ada gunanya memilih. Banyak sekali kainnya. Sebaiknya langsung kubawa!"Sarti mengangkat kotak itu dan diletakkan di kamarnya.
Sarti sudah menyiapan mata boneka, spidol, gunting, lem UHU, dan alat menjahit. Sekarang, Sarti sedang duduk sambil meminum air dingin. Lalu, Sarti mengambil satu kain perca yang lebar, dan segenggam benang wol sisaan. Kainnya dibentuk mangkok di tangan kanan. Benang wolpun dimasukkan ke mangkuk kain perca. Setelah itu, sisa mengkuk kain yang masih panjang, digunakan untuk membungkus. Pelan-pelan, Sarti menjahit bungkusan itu. Lalu, Sarti menempelkan mata boneka dan seutas benang wol yang dibentuk menjadi bibir tersenyum dengan lem UHU. Sarti mengambil spidol dan menggambar baju di boneka wol bungkus. Setelah itu, Sarti menggunting beberapa kain perca dan ditempelkan di boneka wol bungkus yang sudah ada pola bajunya. Tinggal di tempel.
"Nah, Boneka Wol Bungkus buatan Sarti sudah selesai...!!!!" Sarti membuat lebih banyak boneka Wol Bungkus. Sampai-sampai, sisa wol habis. Seperempat kain perca ibu digunting-gunting untuk baju Boneka Wol Bungkus.
Puas dengan Boneka Wol Bungkus buatannya, Sarti meletakkan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus di ruang tamu. Bersamaan dengan itu, Papa pulang dan melihat ke arah Boneka Wol Bungkus.
"Wow, sayang. Itu boneka yang bagus sekali! Harganya memangnya murah, sampai kau beli dua puluh satu sebegini banyaknya?" Papa menepuk pundak Sarti.
"Papa, ini semuanya buatan Sarti! Namanya Benoka Wol Bungkus. Sisaan benang wol di kamar Kak Fendi dibungkus dengan kain perca Mama, lalu dijahit. Dan ditempeli mata boneka serta bibir tersenyum dari seutas wol. Satu lagi, bajunya juga dari kain perca milik Mama!"
GREK! Saat penjelasan Sarti selesai, pintu terbuka. Kak Fendi!
"Apa yang kau lakukan pada sisaan benang wol milik Kak Fendi, Sarti?" tanyanya.
"Membuat Boneka Wol Bungkus! Ini, bagus kan? Aku buat banyak sekali! yang ini keluarga kita. Ini aku, ini Kak Fendi, ini Mama, yang ini Papa. Yang disampingku ini, Bi Asih! Papa ambil Boneka Wol Bungkus Papa dan Mama. Taruh di kamar saja! Kak Fendi juga, Aku akan meletakkan Boneka wol Bungkus Bi Asih di kamarnya!" Sarti mengambil Boneka Wol Bungkus miliknya dan Bi Asih. Boneka Bi Asih diletakkan di meja kecil yang sering untuk tempat mukena dan Al-qur'an. Milik Sarti diletakkan di meja belajar.
Sarti dan Kak Fendi diajak makan malam diluar bersama Papa. Katanya untuk merayakan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus buatan Sarti. Saat dibilangin seperti itu, wajah Sarti bersemu merah dan dia hanya meringis kesenangan.
Di kamar, Sarti mengunci pintu dari dalam. Ia memandang wol yang kini bertumpuk di samping meja belajarnya. Sarti kebingungan. "Mau kuapakan ya? Aku tadi cuma menuruti perintah hatiku! Tunggu, berpikir! Pasti benang wol ini bisa dibuat sesuatu." Sarti berputar-putar menglilingi tumpukan benang wol. "Kain perca punya Mama! Ya, aku perlu itu!" Sarti membuka kunci pintu kamar, dan berlari ke kamar Mama. Ia mengorak-arik sebuah kotak yang dipenuhi kain perca. "Ah, tak ada gunanya memilih. Banyak sekali kainnya. Sebaiknya langsung kubawa!"Sarti mengangkat kotak itu dan diletakkan di kamarnya.
Sarti sudah menyiapan mata boneka, spidol, gunting, lem UHU, dan alat menjahit. Sekarang, Sarti sedang duduk sambil meminum air dingin. Lalu, Sarti mengambil satu kain perca yang lebar, dan segenggam benang wol sisaan. Kainnya dibentuk mangkok di tangan kanan. Benang wolpun dimasukkan ke mangkuk kain perca. Setelah itu, sisa mengkuk kain yang masih panjang, digunakan untuk membungkus. Pelan-pelan, Sarti menjahit bungkusan itu. Lalu, Sarti menempelkan mata boneka dan seutas benang wol yang dibentuk menjadi bibir tersenyum dengan lem UHU. Sarti mengambil spidol dan menggambar baju di boneka wol bungkus. Setelah itu, Sarti menggunting beberapa kain perca dan ditempelkan di boneka wol bungkus yang sudah ada pola bajunya. Tinggal di tempel.
"Nah, Boneka Wol Bungkus buatan Sarti sudah selesai...!!!!" Sarti membuat lebih banyak boneka Wol Bungkus. Sampai-sampai, sisa wol habis. Seperempat kain perca ibu digunting-gunting untuk baju Boneka Wol Bungkus.
Puas dengan Boneka Wol Bungkus buatannya, Sarti meletakkan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus di ruang tamu. Bersamaan dengan itu, Papa pulang dan melihat ke arah Boneka Wol Bungkus.
"Wow, sayang. Itu boneka yang bagus sekali! Harganya memangnya murah, sampai kau beli dua puluh satu sebegini banyaknya?" Papa menepuk pundak Sarti.
"Papa, ini semuanya buatan Sarti! Namanya Benoka Wol Bungkus. Sisaan benang wol di kamar Kak Fendi dibungkus dengan kain perca Mama, lalu dijahit. Dan ditempeli mata boneka serta bibir tersenyum dari seutas wol. Satu lagi, bajunya juga dari kain perca milik Mama!"
GREK! Saat penjelasan Sarti selesai, pintu terbuka. Kak Fendi!
"Apa yang kau lakukan pada sisaan benang wol milik Kak Fendi, Sarti?" tanyanya.
"Membuat Boneka Wol Bungkus! Ini, bagus kan? Aku buat banyak sekali! yang ini keluarga kita. Ini aku, ini Kak Fendi, ini Mama, yang ini Papa. Yang disampingku ini, Bi Asih! Papa ambil Boneka Wol Bungkus Papa dan Mama. Taruh di kamar saja! Kak Fendi juga, Aku akan meletakkan Boneka wol Bungkus Bi Asih di kamarnya!" Sarti mengambil Boneka Wol Bungkus miliknya dan Bi Asih. Boneka Bi Asih diletakkan di meja kecil yang sering untuk tempat mukena dan Al-qur'an. Milik Sarti diletakkan di meja belajar.
Sarti dan Kak Fendi diajak makan malam diluar bersama Papa. Katanya untuk merayakan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus buatan Sarti. Saat dibilangin seperti itu, wajah Sarti bersemu merah dan dia hanya meringis kesenangan.
Jumat, 12 Maret 2010
Pesta Siaga
Seminggu yang lalu, aku lomba Pesta Siaga. Aku dipilih. Aku sudah memakai seragam siaga, sudah lempangnya, semuanya sudah ku siapkan. Di sekolah, kami semua yang mengikuti Pesta Siaga didoakan semoga menang. Belum ada setengah jam, kami semua sudah disuruh masuk ke mobil untuk ke SD Kalongan, tempat di mana Pesta Siaga diadakan.
Sampai di sana, kami semua harus mencari tempat untuk menyimpan tas dan barang-barang untuk menari nanti. kami semua dibagi tas pramuka bertuliskan: Gudep Pramuka SD Isriati Moenadi. Aku mengisinya dengan selendang, jajan, alat tulis, dan minuman. Kami langsung upacara selama satu jam.
Setelah upacara, Barung Ungu (barung putri sekolahku), mulai mencari kedai. yang pertama, Kedai toleransi Agama. Aku menjadi cadangan. Jadi, aku hanya duduk menunggu. Setelah toleransi agama, kami berpindah menuju crazy ball: permainan melempar bola melewati holahop dan harus masuk keranjang. Aku berhasil memasukkan. setelah crazy ball, kami berjalan menuju kedai Pengetahuan Umum dan jabatan Mabi. Aku untungnya mengenal gunung Merapi. Aku meletakkan kertas Gunung Merapi di atas kertas Magelasng. Kami berjalan lagi. Setelah itu, aku tak tahu apa. Pokoknya, ada banyak kedai. Toleransi Agama, Hafalan surah pendek, Pengetahuan umum dan jabatan Mabi, pacuan bola, PBB, pentas budaya, dan lain-lain.
Kami sudah melewati semua warung. Tinggal menunggu ketua barung mendapat nilai. sambil menunggu, kami semua sholat di musola, membeli jajan... Akhirnya, pengumuman. Tetapi masih harus upacara lagi. Sekolah kami memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.
Aku masih ingat saat mau menari di warung pentas budaya. Sudah antri, hampir dekat. Eh-eh-eh-eh.... Kok kasetnya nggak ada? Ternyata kasetnya masih di bawa Pak Adli terus nggak sengaja kebawa jalan-jalan. Jadi, kami semua nunggu duduk sambil protes. Ah, untuk setengah jam kemudian Pak Adli datang membawa kaset. Tapi masalahnya, sekarang kulitku makin item gara-gara menunggu di bawah terik sinar matahari.
Sepanjang perjalanan pulang, aku dan teman sebarung bernyanyi yel-yel tetang lalu lintas, kebersihan, wajib belajar, dan demam berdarah. Pokoknya, ini adalah Pesta Siaga yang tidak pernah kulupakan!
Sampai di sana, kami semua harus mencari tempat untuk menyimpan tas dan barang-barang untuk menari nanti. kami semua dibagi tas pramuka bertuliskan: Gudep Pramuka SD Isriati Moenadi. Aku mengisinya dengan selendang, jajan, alat tulis, dan minuman. Kami langsung upacara selama satu jam.
Setelah upacara, Barung Ungu (barung putri sekolahku), mulai mencari kedai. yang pertama, Kedai toleransi Agama. Aku menjadi cadangan. Jadi, aku hanya duduk menunggu. Setelah toleransi agama, kami berpindah menuju crazy ball: permainan melempar bola melewati holahop dan harus masuk keranjang. Aku berhasil memasukkan. setelah crazy ball, kami berjalan menuju kedai Pengetahuan Umum dan jabatan Mabi. Aku untungnya mengenal gunung Merapi. Aku meletakkan kertas Gunung Merapi di atas kertas Magelasng. Kami berjalan lagi. Setelah itu, aku tak tahu apa. Pokoknya, ada banyak kedai. Toleransi Agama, Hafalan surah pendek, Pengetahuan umum dan jabatan Mabi, pacuan bola, PBB, pentas budaya, dan lain-lain.
Kami sudah melewati semua warung. Tinggal menunggu ketua barung mendapat nilai. sambil menunggu, kami semua sholat di musola, membeli jajan... Akhirnya, pengumuman. Tetapi masih harus upacara lagi. Sekolah kami memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.
Aku masih ingat saat mau menari di warung pentas budaya. Sudah antri, hampir dekat. Eh-eh-eh-eh.... Kok kasetnya nggak ada? Ternyata kasetnya masih di bawa Pak Adli terus nggak sengaja kebawa jalan-jalan. Jadi, kami semua nunggu duduk sambil protes. Ah, untuk setengah jam kemudian Pak Adli datang membawa kaset. Tapi masalahnya, sekarang kulitku makin item gara-gara menunggu di bawah terik sinar matahari.
Sepanjang perjalanan pulang, aku dan teman sebarung bernyanyi yel-yel tetang lalu lintas, kebersihan, wajib belajar, dan demam berdarah. Pokoknya, ini adalah Pesta Siaga yang tidak pernah kulupakan!
Sabtu, 06 Maret 2010
Main tebak-tebakkan#2
Tito mulai berpikir di tempat tidurnya.Apa yang ingin dia lakukan untuk berbuat kebaikan. Ia penasaran dengan apa yang akan diberikan Kak Vania.
Tiba-tiba, seorang nenek tua di depan rumah Tito meminta-minta. Tito langsung melonjak senang dan memberikan nenek tua itu makanan dan uang sebanyak tiga ribu. Karena hanya tiga ribu yang ia punya.
"Terima kasih nak, sekarang kau sudah berubah. Semoga tuhan mengasihimu...." Nenek tua itu pun melanjutkan perjalanan. Tito bingung, apa yang dimaksud nenek tua tadi dengan kau sudah berubah??? Ternyata, Tito beru menyadari. dirinya sangat pelit, nakal, dan sombong. Tito pun bangga dengan apa yang barusan ia lakukan. tito juga lupa dengan hadiah yang mau diberikan kak Vania.
tito tidur siang di sofa ruang tamu. Sambil menunggu orang tuanya pulang....
Sore harinya, Tito ke rumah Dania untuk meminta maaf. Di tengah jalan, seorang ibu setengah baya kesusahan membawa dua koper yang kelihatannya berat. Di kedua pundaknya terdapat dua kresek dari mini market. Tito langsung menghampiri ibu itu.
"Bu, biar saya bantu mengangkat barang-barangnya...."
"Tak usah, nak. Teerr..." Belum selesai kalimat ibu itu, Tito sudah mengangkat koper yang tadi diletakkan ibu itu saat menjawab ajakan Tito.
"Ibu mau ke mana?" Tanya Tito.
"Ke Jalan Mawar nomor 9. Tuh, di depan nak...." Ibu itu senang dengan tito yang membawakan dua kresek sekaligus satu kopernya. wajah ibu itu terlihat sangat cerah, karena lelahnya sedikit demi sedikit rasa capeknya hilang dibantu Tito.
Sampai di depan rumah ibu setengah baya, Tito meletakkan koper dan dua kresek di tanah. Keringat mengucur di badannya.
"Terima kasih, nak... ini, ibu beri sedikit uang...."
"Tidak usah bu, terima kasih..." tolak Tito.
"Kau tidak boleh menolah rejeki. Ambillah, untuk membeli minuman dingin. Sudah, sana pergi! Orang tuamu pasti menunggu di rumah." ibu itu mendorong tubuh Tito perlahan.
"Tapi..."
"Sudahlah, nak. Pergilah, Ibu ikhlas." Tito pergi membawa uang sepuluh ribu pemberian ibu tadi. Ia menunda ke rumah Dania karena hari mulai gelap.
Besok saja minta maafnya.... Batin Tito. Sampai di rumah, ia langsung mandi membersihkan keringatnya. Ia lalu meminum minuman dingin yang tadi ia beli.
Tak sia-sia aku berbuat kebaikan. Hatiku senang, aku juga menjadi bangga!
Tiba-tiba, seorang nenek tua di depan rumah Tito meminta-minta. Tito langsung melonjak senang dan memberikan nenek tua itu makanan dan uang sebanyak tiga ribu. Karena hanya tiga ribu yang ia punya.
"Terima kasih nak, sekarang kau sudah berubah. Semoga tuhan mengasihimu...." Nenek tua itu pun melanjutkan perjalanan. Tito bingung, apa yang dimaksud nenek tua tadi dengan kau sudah berubah??? Ternyata, Tito beru menyadari. dirinya sangat pelit, nakal, dan sombong. Tito pun bangga dengan apa yang barusan ia lakukan. tito juga lupa dengan hadiah yang mau diberikan kak Vania.
tito tidur siang di sofa ruang tamu. Sambil menunggu orang tuanya pulang....
Sore harinya, Tito ke rumah Dania untuk meminta maaf. Di tengah jalan, seorang ibu setengah baya kesusahan membawa dua koper yang kelihatannya berat. Di kedua pundaknya terdapat dua kresek dari mini market. Tito langsung menghampiri ibu itu.
"Bu, biar saya bantu mengangkat barang-barangnya...."
"Tak usah, nak. Teerr..." Belum selesai kalimat ibu itu, Tito sudah mengangkat koper yang tadi diletakkan ibu itu saat menjawab ajakan Tito.
"Ibu mau ke mana?" Tanya Tito.
"Ke Jalan Mawar nomor 9. Tuh, di depan nak...." Ibu itu senang dengan tito yang membawakan dua kresek sekaligus satu kopernya. wajah ibu itu terlihat sangat cerah, karena lelahnya sedikit demi sedikit rasa capeknya hilang dibantu Tito.
Sampai di depan rumah ibu setengah baya, Tito meletakkan koper dan dua kresek di tanah. Keringat mengucur di badannya.
"Terima kasih, nak... ini, ibu beri sedikit uang...."
"Tidak usah bu, terima kasih..." tolak Tito.
"Kau tidak boleh menolah rejeki. Ambillah, untuk membeli minuman dingin. Sudah, sana pergi! Orang tuamu pasti menunggu di rumah." ibu itu mendorong tubuh Tito perlahan.
"Tapi..."
"Sudahlah, nak. Pergilah, Ibu ikhlas." Tito pergi membawa uang sepuluh ribu pemberian ibu tadi. Ia menunda ke rumah Dania karena hari mulai gelap.
Besok saja minta maafnya.... Batin Tito. Sampai di rumah, ia langsung mandi membersihkan keringatnya. Ia lalu meminum minuman dingin yang tadi ia beli.
Tak sia-sia aku berbuat kebaikan. Hatiku senang, aku juga menjadi bangga!
Senin, 01 Maret 2010
Makanlah sayur!
Bapak tukang mulai mengukur
Tikus rumah menggigit kawat
Anak-anak makanlah sayur
Agar tubuh sehat dan kuat
Tikus rumah menggigit kawat
Anak-anak makanlah sayur
Agar tubuh sehat dan kuat
Langganan:
Postingan (Atom)
