Senin, 27 September 2010

Mimi

"Tujuh pangkat dua, tuh, berapa sih, Mim?"
"Entahlah,"
"Kamu bisa ke rumahku, nanti sore?"
"Entahlah,"
"Bisakah nanti kamu online, di facebook?"
"Entahlah,"
"Mau minum teh di rumahku?"
"Entahlah,"
"Aku punya boneka baru. Mau pinjam?"
"Entahlah,"

Sahabatku, Mimi. Sejak kami mulai dekat, setiap kali aku bertanya. Dia pasti menjawabnya dengan kalimat: "Entahlah,"
Apa maksudnya itu?! Aku sebenarnya sudah frustasi dengan sifatnya. Aku tahu dia cantik, berbakat, dan pintar. Dia juga tidak cerewet. Kalemmmm... sekali. Tapi, apa aku berhak memarahinya. Meskipun dia sahabatku?
Sebenarnya, tanpa diminta pun. Dia selalu membantuku dalam segala hal. Tapi, itulah anehnya. Kalau aku meminta, atau memohon. Barulah dia tidak membantuku. Dan belakangan ini, aku tidak banyak bertanya padanya. Agar dia selalu membantuku.

Bagiku, Mimi adalah anak yang misterius. Meskipun kadang, dia tetap mengajakku bermain dengan ria. Tetapi, ada kalanya dia menjadi misterius. Itu seperti... seperti... seperti... Drakula. Pada siang hari, mungkin dia bermain ria di dalam goa, bersama teman-temannya. Tapi malam harinya, dia menghisap darah manusia dengan kejam. Dan tidak berperikemanusiaan. Saat diselidiki, sama sekali tidak meninggalkan jejak. Atau istilahnya; Misterius.
*************************************************************************************
Minggu siang ini, aku bermalas-malasan di dalam kamar. Menyalakan laptop, atau bermain boneka. Bulan ini, orang tuaku ke Amerika. Bulan depan, ke Singapore. Memang tidak menyenangkan apabila kedua orang tuaku itu tidak ada di rumah. Aku tidak punya kakak. Aku tidak punya adik. Jadi, kehadiran Mimi di kehidupanku sangat menguntungkanku. Dia suka sekali menginap di rumahku. Maka dari itu, Aku sering sekali mengadakan acara Girl's Sleepover di rumahku.
Tentu saja yang hadir tidak hanya Mimi. Beberapa teman kelas yang dijinkan juga ikut. Aku begitu senang di saat-saat itu.

Tapi, semua itu sudah lewat. Sekarang aku sudah kelas 3 SMA. Apa daya yang akan kulakukan. Beberapa pekan lagi, aku sudah masuk Universitas. Aku selalu berusaha membayangkan semua keasyikan menjadi seorang Mahasiswi. Dulu, saat masih Sekolah Dasar, aku dan Mimi selalu mengkhayalkan diri kami saat dewasa. Menikah dengan siapa, punya anak berapa, tinggal dimana.... Kami menebak-nebak.
Tapi anehnya, sekarang, saat hidup itu hampir kugapai. Aku malah sedih, dan kecewa. Sejak masuk SMP, aku sudah tidak bertemu Mimi. Dan saat masuk Universitas nanti, aku tidak akan bertemu dengan semua teman-temanku. Mereka masuk Universitas di Indonesia. Sedangkan aku, masuk Universitas Singapore.
Hhhh... semuanya telah berubah.

"Ayu, siapkan semua baju yang ada di lemari. Semua barangmu, harus bisa dimasukkan ke dalam tida koper besar, lho, ya..."
"Iya, Ma. Aku bisa mengurus diri sendiri, kok. Tenang aja. Pas liburan nanti, aku pasti ke Perancis. Oke, deh, Ma. Aku siap-siap dulu. Dagh..." Aku menutup HPku. Sebenarnya, semua barang sudah kusiapkan. Lalu aku memungut sebuah pigura foto.
"Mimi..." ya, disitu adalah fotoku dan Mimi saat aku mengajak keluarga Mimi ikut berlibur dengan kami ke Jepang. Kami berfoto ria di bawah pohon sakura. Tak sadar, air mataku menetes. Aku sudah sangat merindukannya.
Semua kemisteriusannya, senyumnya, semangatnya, candanya, kepintarannya... Semuanya. Oh, Mimi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan Indonesia beberapa tahun lamanya. Tolong, perlihatkanlah batang hidungmu. Agar bisa kutarik, lalu aku bisa memelukmu untuk terakhir kalinya. Aku sudah tak peduli dengan semua kata "Entahlah," kepunyaanmu. Aku hanya ingin melihat senyuman manismu.

Tolong, Mimi... Perlihatkanlah dirimu... Aku mohon....
*************************************************************************************
Saatnya sudah tiba. Aku berangkat ke Singapore. Berkali-kali kuusap air mataku yang selalu menetes. Teman-temanku sibuk mengingat kenangan kami dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA, dan detik ini. Sekarang.
"Sayang, Mimi tidak ada disini. Andaikan dia ada di sini, apakah kau ingin menyuruhnya menyanyi untuk terakhir kalinya, Yu?" tanya seorang temanku.
"Tentu saja. itu, pasti. Tapi dia tidak ada disini, Mel," tanggapku sedih.
Teman-temanku langsung menutup rapat bibir mereka. Mereka tahu, aku rindu Mimi. Aku ingin bertemu dengannya. Setelah enam tahun lamanya tidak bertemu. Bayangkanlah...

Pesawat yang akan aku tumpangi sudah tiba. Semua teman-temanku mengeluarkan barang kenangan untukku. Aku tidak bersedih untuk mereka. Aku bersedih, karena tidak bisa melihat Mimi. M-i-m-i. Mimi. Ya ampun, apa yang harus aku lakukan, agar kau menampakkan diri, Mimi?
"Sukses disana, ya, Yu. Kamu masih bisa balik ke Indonesia, kan? Kapan-kapan..."
"Yup. Kita bisa ngadain Girl's Sleepover lagi. Tapi di hotel. Nyenengin nggak, tuh?"
"Hahaha.... aku tahu. Semua yang udah lalu, jangan dilupakan ya?" Aku mengingatkan.
"Simpen barangku, ya, Yu."
"Aku juga!"
"Jangan lupakan aku, dong..."
"Aku yang pastinya tidak akan dilupakan." suara seseorang paling belakang. Dengan rambut hitam dan panjang, wajahnya pucat. Suaranya misterius. Tapi anehnya, semua teman-temanku tidak mendengarkan suara itu.
"Akulah, Mimi, Ayu." orang misterius itu melanjutkan kalimatnya.
"Kaukah, Mimi?" Aku berjalan ke orang itu. Aku tidak begitu yakin, dia itu adalah Mimi.
Aku di depan gadis itu. Sekitar tiga langkah. Tiba-tiba, dia menyergapku. Memelukku. Bajuku basah oleh tangisannya. Aku baru sadar. Dia benar-benar Mimi yang aku cari.
"Bagaimana kau tahu aku disini, Mim?" tanyaku sedih. "Aku akan berangkat sepuluh menit lagi."
"Aku bisa meramal, Yu. Dan ramalanku saat kita SD ternyata benar. Universitas mu ada di Singapore! Singapore, Yu! Selamat untukmu, Yu!" Mimi menjabat tanganku dengan erat.
"Aku tahu," aku memeluk Mimi dengan erat.

"Yu, aku nggak mungkin bakal meluk kamu terus, kan?" tanya Mimi. Aku mengangguk pelan. "kalo gitu, kamu cepet berangkat. Nanti di dalam pesawat, aku punya kejutan buatmu."
"Kamu....?" Aku tidak rela melepaskan tangannya yang dingin, Tapi bagiku, hangat.... Sehangat kain sutra.
"Udah, cepetan... habis ini, aku mau kembali ke awan..."
"Hah?"
"Dadah, Ayu!!!!" Mimi lalu meninggalkan ku. dia keluar bandara.

Aku dengan hati tenang, lalu menggenggam tiket pesawatku dengan semangat. Saat aku berlari. Seorang temanku bertanya;
"Kamu tadi ngobrol sama sapa, tho, Yu????"
Aku menjawabnya dengan senang dan jujur.
"Dengan MIMI!!!! Aku pamit ya...!!!!" aku lalu naik tangga. Dan beberapa anak tangga lagi, aku masuk ke dalam pesawat.
Aku menghela napas. Tekadku untuk masuk Universitas ramalan Mimi, sudah bulat. Akhirnya aku masuk peswat. Dan mencari kursiku.

Dan di kursiku itu, ada sebuah surat. Dari kertas putih. Tapi saat kuraba, kertas itu halus sekali. Seperti terbuat dari awan.

Untuk sahabatku, Ayu...
Ayu, maafkan aku. Bikin kamu kaget, ya? Temen-temenmu bener. Kamu itu, sebenarnya ngobrol dengan siapa?
Kamu itu, mengobrol dengan.... ARWAHku.
Kumohon, jangan menangis, jangan menangis....
Jangan sedih... jangan sedih....
Aku meninggal, karena tertabrak mobil
Aku tahu, kamu nggak terima
Tapi, itulah alasanku. Tidak satu SMP denganmu.
Karena aku tahu, aku sudah sampai di sana.
Tempat tinggal baruku ada di kampung halamanku.
Di samping SD kita dulu, Yu.

Jangan sedih, dari mantan sahabatmu, yang kini bahagia melihatmu....
Mimi

Rabu, 25 Agustus 2010

Ikan Hias Sofie

Sofie menemani Ibu pergi ke pasar. Sofie dibelikan Ibu satu botol gelembung, satu cone gulali, dan satu cup kue gula. Lalu Ibu menghampiri sebuah penjual buah.
"Sofie, jangan kemana-mana ya? berdiri di samping Ibu aja.." Sofie menjawabnya dengan anggukan, sambil tetap terus melahap gulalinya. Sedangkan Ibu sibuk memilih buah.

Tiba-tiba, Sofie melihat penjual ikan hias yang sedang menjajakan dagangan. Sofie takjub melihat ikan cupang di akuarium yang berwarna oranye dan biru. Sofie juga melongo melihat ikan mas koki yang apabila terkena sinar matahari akan.... WUIH! Pokoknya cantik banget, deh...
"Abang! Yang ini harganya berapa?" panggil Sofie, matanya tetap menatap akuarium. Gulalinya sudah habis. Sekarang Sofie memakan kue gulanya.
"Oh, cupang itu lima ribu, Dik." jawab Abang penjual ikan.
"Tapi Sofie tidak punya uang.." kata Sofie polos.
"Kalau Adik tidak punya uang, tidak bisa beli!" jawab Abang lagi. Tapi kali ini dengan TEGAS!
Sofie cemberut. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia sangat ingin membeli kedua ikan tadi. Satu tetes air mata sudah membasahi pipinya.

"Sofie! Aduh.. dari mana saja kamu?" pekik Ibu cemas. Ibu mengangkat Sofie ke pelukannya.
"Sofie, kamu mau beli apa, ibu belikan. Asal jangan pergi lagi! Tadi kan Ibu sudah nyuruh Sofie biar tetep di samping Ibu?" Ibu menjawil hidung mungil Sofie.
"Maaf, Ibu... Sofie cuma pingin beli ikan cupang sama ikan mas yang ada di sana..." Sofie menunjuk kios yang tadi ia datangi.
"Oh.. ikan cupang dan ikan mas? Ya udah, kita beli yuk!" Ibu menurunkan Sofie dari gendongannya, lalu menggandeng tangan Sofie erat-erat.
"Asyik! Ibu baik, deh.." puji Sofie tulus. Senyuman di wajahnya mulai terlihat.

Akhirnya, Sofie membeli kedua ikan yang ingin ia miliki. Ikan cupang, dan ikan mas koki.
"makasih, Abang! Dadah..." Sofie melambaikan tangan pada Abang penjaga kios.
"Dadah, juga.." Abang tadi membalas lambaian tangan Sofie. Kali ini, ia tulus.
Sofie pun merawat kedua ikannya dengan baik. Sofie juga teratur memberi makan ikannya.
"Aku sayang kamu, Cupi. Aku sayang kamu, Mimi!"

Senin, 09 Agustus 2010

Sang Pemburu Hantu (bagian empat)

"Aku tak sabar lagi! Aku semakin semangat! Bagaimana kalai kita langsung ke ruangan pembuatan keripik kentang?" ujarku sambil menggendong Corell.
"Ya, boleh saja. Hei, apakah kau punya balsem? Kurasa, lututku ini tinggal diberi balsem aja, langsung sembuh," Corel mengorek-ngorek tasku. "masa kau sama sekali tidak membawa kotak P3K?" keluhnya.
"Yang kuingat, kita tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Tahu? Massy! Dimana tempat ruangan pembuatan keripik kentang itu?" kerapatkan lagi ear speakerku.
"Hhhmm... letaknya di belakang balkon. Di tingkat empat. Hei! Kenapa kau terburu-buru?"
"Sepertinya, di situlah sarang Kepala Hantu (kayak kepala sekolah aja!), jadi, kalau Pimpinan mati, otomatis yang lainnya datang, dan langsung lawan aja. Nggak usah muter-muter!" jawabku.
"Terserah kamu aja deh! Kamu kan yang menggantikan Anna sebagai ketua pimpinan. Jadi aku nurut. Kau sudah sampai di balkon?"
"Hai! Sekarang hampir terbit fajar! Kita harus membunuh semua hantu di rumah ini! Sebelum ada korban lagi!" pekik Corell. Dia panik.
"Tenang saja. Kita sudah sampai. Mau menunggu di sini?" tanyaku. Kuletakkan Corell, dan dia duduk. Bersandar. Ia pun mengangguk lemah.
"Kurasa, hari ini hanya aku dan Massy pahlawannya. Walaupun kau juga sedikit membantu." godaku.
"Huh... awas saja besok-besok!" Corell menendang ujung kaki.
"Hei, kalian! Cepatlah! Ini bukan waktunya untuk main-main!" bentak Massy.
Akhirnya aku membuka pintu kayu yang besar itu.

"KKRRIITTT!!!!!!" suara pintu berderit. Kututup telinga kiriku. Yang tidak memakai ear speaker.
"Fyuh... tuhan, selamatkan aku." bisikku pelan. Langkah demi langkah, kusibak tirai yang kotor dan berdebu.Dan langsung terlihat....
Banyak mesin sederhana yang terbuat dari kayu. Juga kursi goyang, yang bergoyang kencang. Hampir jatuh. Tapi sepertinya, kursi itu dikendalikan.... oleh hantu!
"HEI KAU! Keluar dari persembunyian! Secepatnya! Aku tak takut padamu!" teriakku kencang.
"Oh ya?" seseorang membisikkan kata itu di dekat telingaku.
"Kamu jangan sembarangan, Ellie! Kamu langsung loncat aja, sih...." bisik Massy bergetar.
"Siapa itu?" hantu itu mengagetkan lagi.
"Ini teman kecilku! Dia ada di telingaku! Dia akan membantuku, melawanmu! Dan... euph! lewph....eeppphh!!!!" rasanya aku seperti disekap.
"Kalau begitu... dia tidak boleh membantumu. Kau harus sendirian melawanku." kata hantu itu. Ear speaker tiba-tiba jatuh. Pelan. Tapi, ear speaker itu remuk. Hancur lebur. kabelnya putus semua. aku tak percaya ini.
"Sekarang, ada yang membantumu?" kata hantu itu dengan sombong dan penuh kemenangan.
"Memang tidak! Tapi, aku pasti bisa melawanmu! Dan, wow! aku kagum padamu. Sepertinya, kau hebat sekali..." pujiku tak tulus.
"Iya...aku sangat kuat! Aku berhasil menakut-nakuti semua pegawai di pabrik kentang ini. Sedangkan kau... sama sekali tidak menakutkan di mataku..." hantu itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Hii... wajahnya menyeramkan!

Perlahan-lahan... tapi pasti! Kutarik pistol jaringku. Tapi aku tiba-tiba tertaik ke depan. Kurasa, hantu itu ingin menghancurkan pistolku ini. Otomatis, kupencet tombol 'tembak'. Hantu itu memang kena jaring, tapi dia menembus jaring itu???!!! Baru kali ini, ada yang bisa menembus jaring bayangan ini.
"Bagaimana? Aku hebat kan? Sekarang, kau akan kalah!Dan botol ini, kuhancurkan! Anak buahku! Ayo makan!!!!!" teriak hantu itu. Sepertinya memanggil teman-temannya. Hii... bagaimana ini??? Sepertinya aku akan dimakan seperti kakak Bu Looley.
Hantu-hantu itu, yang kira-kira jumlahnya ada sepuluh lebih. Langsung menerkamku. Kututup mataku. Mungkin ini adalah akhir riwayatku... pikirku. Tapi ini tidak mungkin! hati nuraniku mengelak. Aku jadi bingung. Akhirnya aku pasrah, dan kujatuhkan diriku. Aku akan....
"Hya! CIATT!!! Hwa! Hwa! Hwa!" kudengar teriakan yang kukenal. Corell! Dia membawa sesuatu di tangannya. Bentuknya balok, tipis, dan dia memencet tombol. Dan bersamaan dengan itu, langsung terdengar bunyi; "JEPRET!"

"Apa itu? Kakimu sudah nggak sakit, apa?" tanyaku bingung.
"Diam! sekarang bantu aku! Cepat ambil pistolmu, dan botol hantu!" perintah Corell tegas.
"Baik!" aku hanya menjawab singkat, dan kulakukan perintahnya.
Aku menembakkakn jaring-jaring. Hantu-hantu itu, satu persatu tertangkap. Hingga semua anak buah Kepala Hantu tertangkap semua. Jaringku masih banyak. Jadi aku terus-terusan menembakkan jaring ke Kepala Hantu.
"Corell! Ini tidak mempan! dan jaringku, tinggal satu!"
"Biar aku yang lakukan!" Corell yang tadi duduk kelelahan, akhirnya berdiri susah payah. Kutarik lengannya. Kurasa, kakinya terkilir parah. Dan memar.
"JEPRET!" terdengar suara itu. Dan... Kepala Hantu itu langsung menghilang seketika.
"Kalian hebat! Kalian hebat! Kalian hebat!" puji Massy keras. Lewat ear speaker Corell tentunya.
"Ya, tentu saja kami hebat!" kami membusungkan dada.
Dan tentunya, tersenyum lebar!

Minggu, 01 Agustus 2010

Sang pemburu hantu (bagian tiga)

"Ellie!!!!! Corell!!!!! JAWAB! JAWAB!" Massy terus memanggil. Suaranya melengking di telingaku.
Lima menit kemudian, barulah bayangan yang berkelebat itu pergi. Aku terjatuh. Lututku lemas sekali. Tanganku tegang. Dan aku baru sadar, kalau Corell masih pingsan.
"Ellie! Bagaimana? Apakah kau tadi melihat bayangan yang berkelebat? Sekarang, bagaimana keadaanmu? Apakah aku harus menyusul? Oh... belum pernah aku mengalami misi seberat ini! Baru awal saja, sudah jatuh...." Massy terus bertanya dengan cemas.
"Aku tak apa-apa. Tetapi Corell.... dia pingsan! Mungkin dia sudah lama tak melihat hantu. Makanya dia kaget." jelasku.
"Oh, kalau begitu.... pakaikan Bau Penyengat!" usul Massy. Aku pun membuka tasku. Kukeluarkan sebuah botol berisi cairan. Yang baunya tidak sedap! Tetapi melegakan hidung. Ini dibuat oleh Maddy.
Kubuka botolnya, lalu kudekatkan ke hidung Corell.
"UHUK! UHUK! UHUK!" Corell terbatuk. "Oh... aku pingsan ya? Habis aku kaget sih! Aduh, aduh...." Corell memegang keningnya.
"kita lanjut yuk! Ke loteng. Mungkin banyak informasi disana." ajakku. Kutarik tangan Corell.
Kami pun berjalan menuju loteng yang ada di tingkat tiga.

"KRIEKKK......" aku membuka pintu. Debu langsung bertebaran dimana-mana. Saat kusorotkan senter ke dalam, banyak barang-barang yang tak terpakai. Diselimuti kain putih yang banyak terdapat sarang laba-laba.
"Wow. Kurasa, loteng di penginapan tak sekotor ini." gumam Corell. Aku mengangguk.
"Kalian sudah sampai loteng? Kalau sudah, kalian cari sofa besar. Sofa itu tidak ditutupi kain. Warnanya merah. Nah, kamu lihat ke kolong sofa. itu. Menurut GM-3000, disitulah salah satu sarang hantu. Diperkirakan, hanya ada satu hantu di loteng. Tapi kau harus mengendap-endap. Oke?" pesan Massy lewat ear speaker.
"Oke." jawabku dan Corell berbarengan.

Dan aku pun melihat sebuah sofa besar warna merah. Kutarik tangan Corell. Dia merintih sedikit, tetapi kutempelkan jari telunjukku ke depan bibir. Akhirnya dia mengerti. Kami segera merayap ke kolong sofa. Lalu.....
"HANTU ITU! HANTU ITU! Dia lari ke sana!" pekik Corell. Kami berlari ke arah yang ditunjuk Corell.
"TEMBAK! Tembak, Ellie! TEMBAK!!!" suruh Corell. Karena aku tegang, akhirnya Corell yang menembak. Bukan aku.
Corell segera menembak dengan tembakan hantu. Sayangnya, hantu itu gesit sekali! Kami jadi lari-larian kesana kemari. Aku sudah lupa pengalaman berburu hantu ini. Massy berteriak di ear speaker. Tapi kami tak mendengarkan. Kami sibuk mengejar hantu.
BRUK!!! "Ouch... sakit!" Corell terjatuh. dia sepertinya tersandung kabel yang diseret hantu itu.
"Dasar hantu JAHIL!" ejekku. Aku segera mengobati luka Corell. Saat aku ingin memasukkan obat luka ke dalam tas... tasku tak ada!
"Bagaimana ini... pistolku ada di dalam, begitu juga botolnya." kataku sedih.
"Pakailah punyaku dulu. Kau kejar hantu itu."
"Kamunya?"
"Aku tetap disini. Aku belum bisa lari, nih. Tapi kalau kamu mau keluar loteng, gendong aku ya?"
"Tapi.... ya udah, ah!" aku memakai tas milik Corell. Corell kududukkan di sofa merah itu.
Tapi saat Corell duduk, malah ada satu hantu lagi yang berkeliaran. Seperti kaget. Aku melongo. Aku segera mengejar hantu itu.
"Rasakan ini! HIAA!!! HIAA!!! HIAA!!!" kutembak hantu itu dengan peluru jaring. Tetapi hantu itu cepat. Cepat sekali! Secepat kilat!

"Kalau mau menangkapku, coba lebih keras lagi. Atau temanmu akan kumakan...." tiba-tiba hantu itu ada di depanku. Hii.... seram! Apalagi rajanya! Brr... bergetar tubuhku!
"Hei! apa yang kau lakukan? Cepat tembak hantu itu! Dia tidak bisa lihat ke bawah, pelan-pelanlah... TEMBAK DIA!" bisik Massy. Akhirnya, kutembak hantu yang masih ada di depanku itu dengan gesit. Walau masih ragu dan ketakutan.
"Ellie! Kau berhasil menangkapnya!" pekik Corell gembira.
Kubuka mataku. Soalnya, saat aku menembak, aku menutup mataku. Sudah lama banget sih, nggak nangkep hantu. Pokoknya, aku dah lupa rasanya memburu hantu. Sudah beberapa tahun yang lalu lamanya tak menangkap hantu.
Kuangkat jaring yang berisi hantu itu. Hantu itu memberontak, menggigit-gigit tali jaring. Tetapi tali jaring itu tak akan putus. Kecuali manusia yang membukanya. Kumasukkan ke dalam botol hantu. Jaring pun langsung tersedot.
"GREAT! Good job, Ellie! Okay, next. Second ghost. Come on,"

Sabtu, 31 Juli 2010

Sang Pemburu Hantu (bagian dua)

Massy yang duduk di kursi belakang, memencet tombol merah di dekat sabuk pengaman. Keluarlah televisi, remote, DVD, laptop, dan empat buah ear speaker. Massy menyalakan televisinya. Ia bersihkan semua debunya dengan sulak.
Setelah bersih, ia nyalakan laptopnya. "Dimana letak perburuan hantu kita?" tanya Massy.
"Rumah Bu Looley, Melly-mow," jawabku sambil menyetir. Aku memutar tombol lampu ke kanan. Agar lebih besar cahayanya. Memang, malam ini gelap sekali. Bulan tak muncul di langit. Kurasa, sekarang sedang mendung.
"Sekarang pukul berapa?" tanya Massy lagi.
"Corell, bagianmu. Aku sedang serius menyetir. Aku tak bisa melihat arlojiku," bisikku pada Corell. Tatapan mataku tetap ke arah depan.
"Sekarang pukul setengah dua belas malam, Massy," jawabnya.
"Okey. -Miss Looley home...........Melly-mow- Enter," gumam Massy sambil mengetik di laptop. "Menurut informasi laptop GM-3000 milikku, rumah Bo Looley ada lima macam hantu disana. Tak ada yang tahu nama hantunya. Karena Ghost Monitorku saja tidak bisa melacaknya. Dan informasinya, hantu di rumah Bo Looley sangat kuat. Jahil, dan pengganggu. Jam kelemahan mereka, di pagi hari. tetapi mereka tidak suka menampakkan diri. Tetapi, mereka akan lemah pada malam tanggal lima. Sedangkan sekarang tanggal 28," jelas Massy.
"Sekarang jauh dari tanggal lima. Dan setengah jam lagi akan tanggal 29!" tambahku.
"Kenapa kita tidak menunggu bulan depan saja? Tanggal lima!" usul Corell.
"Tak bisa, Corell. Bu Looley bilang, karena lima hantu itu, kakaknya meninggal. Karena dijahili salah satu hantu. Kalau menunggu bulan depan, bisa saja sudah ada korban baru. Apakah kita haru membiarkan satu korban tewas dijahili hantu, he?" aku menolak. "Nah, rumah Bu Looley tak jauh dari sini. Kita sudah mulai memasuki wilayah Melly-mow. Massy, aktifkan ear speaker. Masukkan flashdisk nomor 38 ini ke laptop, sambungkan kabel laptop ke teve. Dan.... kita sampai," aku memarkir mobil hantu di depan rumah Bu Looley.

Bu Looley dan keluarganya sudah duduk di taman depan mereka. Seorang gadis yang berumur sepuluh tahun, langsung memeluk Corell.
"Tolong kami.... tolong kami.... tolong kami.... huhuhu.... hantu-hantu itu, menguasai rumah kami..... jimat yang kami beli tidak berfungsi lagi..... tolong..... kami tak ingin ada korban yang tewas lagi..... tolong......" gadis itu merengek sambil memeluk kaki Corell.
"Baiklah. Bu Looley! Boleh saya wawancara anda sebentar?" tanya Massy.
"Ya... tentu saja," jawab Bu Looley lemah.
"Kalian hibur mereka dulu. Aku akan kembali," bisik Massy. "Sebaiknya kita di dalam mobil saja, Bu Looley," Massy membuka pintu mobil hantu. Bu Looley dan Massy masuk ke dalam. Dan pintu pun dikunci.
"Kenapa aku tak boleh ikut dengan Mama?" tanya seorang balita. Mungkin akan Bu Looley, batinku.
"Ini rahasia. Nah, sambil menunggu, bagaimana kita bermain sebentar?" ajak Corell ramah. Dia memang suka anak-anak.

Setelah wawancara, Bu Looley mengajak keempat anaknya dan suaminya untuk duduk dahulu. Aku, Massy, dan Corell berdiskusi.
"Bagaimana?" tanya Corell tak sabar.
"Bu Looley menjelaskan panjang lebar. Dan penjelasannya persis seperti di GM-3000 punyaku ini," Massy mengetik di laptopnya. "tapi, Bu Looley sekilas pernah melihat sosok hantu itu. Katanya, hantu itu berwarna hitam. Seperti bayangan. Berkelebat cepat sekali di atap. Dan saat itu, Bu Looley diam seperti patung. Bicara saja, katanya susah. Padahal dia membawa jimat di kantung bajunya. Saat itu dia ada di dapur. Sedang membuat kopi untuk suaminya," jelas Massy sambil terus mengetik.
"Apa di rumah Bu Looley ada ruangan kosong?"
"Ada, Ellie! Katanya ruangan itiu bekas pembuatan keripik kentang. Lima tahun yang lalu, Bu Looley dan suaminya membuka pabrik keripik kentang. Ruangan itu sangat luas. Bu Looley lupas berapa luasnya. Karena tidak berani masuk ke situ. Katanya, kakaknya ditemukan tewas disitu. Sedang duduk di kursi goyang milik kakek buyut Bu Looley,"
"Kurasa, kita harus menyelidiki di dapur, loteng, atap, serambi atas, dan ruang pembuatan keripik kentang itu," tulis Corell.
"Ya, sekarang, ayo kita siap-siap," ajakku semangat. Aku segera menenteng tas peralatan. Senter, dan botol hantu kugantung di tas.
"Nah, ini ear speaker. Pakailah, aku menunggu disini. Keluarga Bu Looley akan kuajak. Kalian akan kuawasi. Flashdiskmu sudah kuisi lewat GM-3000. Siap?" Massy menyerahkan dua ear speaker. Dia sudah memakai ear speaker.
Kupakai ear speaker, dan aku keluar bersama Corell. "Good luck, Girls!" ucap Massy.

Aku meminta kunci rumah Bu Looley. Dan Bu Looley menyerahkannya. "Anda dan keluarga ditunggu di mobil. Kami berjanji, hantu-hantu itu tidak akan berani kembali kesini," janji Corell sambil mengantungi kunci.
"Terima kasih. Ayo anak-anak! JOHN! Kita harus masuk ke mobil!" Bu Looley memanggil suaminya.
Aku dan Corell menarik nafas panjang. Corell memasukkan kunci ke lubang kunci. Ia memutarnya. Dan kudorong pintunya. KRRIIEK..... suara pintu berderit. Aku masuk. Begitu juga Corell. Pintu ditutup, dan dikunci lagi. Kunci langsung disimpan didalam tas.
"Hei! Apakah kalian sudah masuk ke dalam rumah?" Massy berkata melalui Ear Speaker. Suaranya masuk ke Ear Speaker-ku dan Corell.
"Ya, kami sudah ada di dalam rumah ini. Biasa saja. Kami sedang mencari tombol lampu. Kami akan mematikan lampu dan menyalakan senter," jawabku lirih.
"Bagus! Karrena menurut GM-3000, kelima hantu itu markasnya ada di tempat-tempat yang kau sebutkan tadi. Mereka senang berkeliaran di ruang pembuatan keripik kentang. Tombol lampu ada di samping kiri pintu. 30 langkah,"
"Oke, sudah kutemukan. Nah, dimana letak dapurnya?" tanya Corell. Kunyalakan senterku.
"Di tingkat atas. Kau lihat ada tiga pintu? Itu kamar anak-anak Bu Looley. Ada dapur setelah pintu ketiga dari kiri," Jelas Massy.
"Oke, kami ke atas. Kami sudah melihat ketiga pintu kamar yang kau bilang tadi, Massy," kata Corell.
Aku dan Corell segera naik ke tingkat dua. Kami berjalan di tangga yang berputar. Dan akhirnya, sampai di tingkat dua. Kami segera berjalan ke dapur. Melewati ketiga kamar anak-anak Bu Looley. Sampai di depan pintu dapur, kami menyibak tirai yang mungkin itulah pintu dapur.
Dan kami masuk. Kami segera menyelidiki semua sisi dapur. Dan aku tak sengaja melihat ke atap. Ada bayangan yang berkelebat di atap. Kusenggol Corell yang masih asyik menyelidik. Saat Corell melihat ke atap, tubuhnya langsung jatuh. Dia pingsan. Sedangkan aku berdiri seperti patung. Aku tak bisa bicara pada Massy. Padahal Massy terus memanggilku dan Corell. Aku tak bisa menolong Corell. Aku hanya bisa diam menatap bayangan itu.
"Ellie!!!!!! Corell!!!!! JAWAB! JAWAB!"

Senin, 26 Juli 2010

Sang Pemburu Hantu (bagian satu)

Maddy menyiapkan alat berburu hantuku. Sekarang ia ada di loteng. Memakai masker, dan mencari peralatan itu. Sudah lama aku tak berburu hantu. Sekarang, banyak orang tak takut pada hantu. Sejak seseorang yang misterius datang untuk berdagang. Ia menjual jimat. Jimat anti hantu. Orang yang iseng membelinya, dan jimat itu benar-benar bekerja.
Dan sejak itu, aku tak memiliki pekerjaan lagi. Begitu juga ketiga temanku. Kami berempat, tinggal di penginapan. Gratis. Milik Maddy. Dia adalah teman kecilku. Sekarang, dia menjadi orang yang sukses. Kami berdua dulu sangat menyukai hantu. Tetapi sekarang, dia mengalihkan perhatiaanya pada penginapan. Semacam wallpaper, dekorasi, kursi, meja, makanan.... Bagiku, itu membosankan.

"Massy! Anna! Corell! Ada telepon. Oh... aku tak percaya! Kita akan berburu hantu lagi!" panggilku. Massy, Anna, dan Corell. Turun melewati tangga dengan terburu-buru.
"Wow! Sukar untuk dipercaya! Kita dapat panggilan!" sorak Corell.
"Aku kira, kita tidak akan dapat panggilan sejak orang itu menjual jimat anti h-a-n-t-u." eja Massy.
"Oh... senang sekali rasanya bisa memakai kostum pemburu hantu lagi." Anna berlari menuju lemari di gudang. Dan seketika, debu-debu yang ada di pintu gudang bertebaran dimana-mana.
"HHAATTTSSYYYIII....!!!!!!!!!!!!!!!!" Anna bersin. Keras sekali. Eh, tidak. Bukan sekali. Keras lima kali.

"Hatsyyiii!!!!! Hatsyyiii!!!!!" Anna bersin terus-menerus. Tanpa berhenti. Ingusnya meluncur dari hidung. Corell sudah mengambilkan satu kotak tissue. Yang berisi 150 lembar tissue. Dan aku tak percaya, Anna sudah hampir memakai setengahnya. Tissuenya ada dimana-mana. Bertebaran di lantai.
"Aku menyarankan, kau tak usah ikut dulu, Anna. Dan kebetulan, alat pemburu hantu milikmu rusak total. Penuh dengan debu, dan jaring laba-laba. Merasuk ke mesinnya. Dan botol hantumu... sekarang bisa jadi botol minuman. Ayolah, Anna, istirahatlah. Kau terlalu semangat hingga sekarang kau kena batunya. Padahal semangatmu itu harus kau simpan di petualangan nanti." kata Maddy menasehati.
"Mungkin kau benar. Kapan-kapan, aku akan lebih hati-hati lagi. Habis, kita sudah lama tak berburu hantu." Anna pun dituntun Maddy menuju ruang pengobatan miliknya.

"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ajak Corell. Aku dan Massy mengangguk semangat. Kami mengambil peralatan yang tadi diambil Maddy.
Selesai memakai peralatan, kau menggantung botol hantu di gantungan yang ada di tas pemburu hantu. Tiba-tiba, Maddy keluar daru ruang pengobatan. Ia mengangkat jempol kanannya, dan berkata; "Good luck!"
"Oke!" jawabku, Corell, dan Massy. Kami segera menyalakan mobil hantu. Aku masih sering memakainya untuk jalan-jalan. Jadi, mobil ini belum rusak sama sekali. Aku sudah menyalakan mesin mobil. Tetapi Massy belum masuk mobil.
"Dimana, Si Badung itu? Apa dia sedang membuat bekal lagi? Aduh! Jangan seperti tahun lalu lagi!" keluh Corell.
"Tenang saja, kurasa tidak." ucapku. Aku mengucapkan kata itu karena Massy menunjukkan spanduk yang ia buat sendiri, kalau tak salah. Tulisannya: "KAMI BEKERJA LAGI!" Massy menempelkannya di bagian samping mobil hantu. Corell langsung mendukung. Ia membantu menalikan tali spanduknya ke antena radio.
"Oke! Spanduk siap, kita semua..... SIAP! Come on!" Massy masuk dan menutup pintu. Kami pun berangkat.

Jumat, 16 Juli 2010

Roti bakar buatan Fira

"Fir, kamu punya cemilan nggak? Aku laper nih! Habis lari-lari di taman." tanya Mako. Fira, Lolli, dan ketujuh teman barunya sedang ada di kamar Lolli.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.

"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.

"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.