Senin, 16 Januari 2012

[FF] Jadilah Milikku, Mau?

Hari kelimaku mengikuti #15HariNgeblogFF

***************************************************************************

Aku begitu bosan di ruangan ini. Rasanya ingin terbang ke langit. Aku memang pengkhayal sejati. Dan, pintu kamarku diketuk.

“Boleh masuk?” tanya seseorang.

Aku yang malas membuka pintu menjawab, “masuk aja. Pintunya nggak dikunci.” Dan dia masuk.

Cowok tetangga itu sering banget main ke rumah.

“Lagi bosen, ya?”

“Seperti yang kau lihat inilah, bosen berat. Ngomong-ngomong, judul di ‘15 Hari Ngeblog FF’ hari ini, apa?”

“Kan kamu bisa liat sendiri, tho?”

“Males, yooo..... Kalo kamu mau beri tahu aku, aku langsung berimajinasi, ngetik, terus tweet di Mbak Wangi sama Mas Momo.”

“Ooo.... Maksute ngehemat..???”

“Enggak juga. Tapi aku males you know???”

“Ya-ya-ya.... Aku baca komikmu, ya....”

“Terserah...!!!!” aku menarik selimutku. Hampir terlelap. Sekarang pukul setengah sepuluh malam.

“Ooohh, setengah sepuluh....” bisikku sembari memejamkan mata. Nanti dia juga pulang sendiri. Toh, nggak bakal ganggu? Abis, aku ngantuk bangeet... “HAH?! JAM SETENGAH SEPULUH???!!!!” teriakku super-duper-zupper kaget.

“Iya, kenapa?” dia masih tetap membaca komikku.

“Kamu belum beritahu aku apa judulnya!!!!” Aku berusaha menarik perhatiannya. Hmmm.... hehehe, aku suka dia.... (ceritanya tu aku lagi caper...., mudheng pemirsa....?)

“Oke, oke.... Hm, judule kalo ndak salah.... Mmm....”

“APA?!”

“Kalo nggak salah.... ‘Jadilah Milikku, Mau?’”

“.......” lalu, kuanggap judul itu serius darinya.

“Iya, aku mau.....”

Minggu, 15 Januari 2012

[FF] Aku maunya kamu, Titik!

Hari keempatku mengikuti #15HariNgeblogFF

********************************************************************

Aku duduk di depan meja belajar. Sambil memegang pena. Kugambar dirimu di selembar kertas binder paling bagus yang aku miliki. Aku memang tak pandai menggambar, tapi aku usahakan kau mirip dengan gambar ku ini.

Ibuku sudah melarangku memilih kau. Ibuku menawarkan banyak sekali pilihan. Tapi tak ada yang seperti dirimu. Ibu memang tak mengerti perasaan ku. Aku maunya kamu, TITIK! geramku.

Kutatap bulan dan bintang di luar jendela. Apakah kau sedang menantiku. Tunggulah aku. Suatu saat nanti, aku akan datang menjemputmu. Tunggu aku disana. Oke?

Aku kembali duduk. Mengerjakan essay yang harus aku kumpulkan besok. Essay tentang keinginan. Tema yang mudah untukku. Sangat mudah, sekali. Selesai menulis, aku menyalakan print, dan keluarlah essay-ku dari dalam. Andaikan kau bisa berubah wujud menjadi essay yang baru keluar ini, alangkah mudahnya, dan alangkah bahagianya aku.

Aku memang hanya cewek biasa. Cewek nggak menarik. Cewek nggak gaul. Cewek kuper, cewek kutu buku. Sebenarnya, aku nggak terlalu yakin dengan yang terakhir. Tapi, apa karena semua celaan itu, aku tak diperbolehkan memilihmu? Bukankah aku juga punya hak?

Tiba-tiba, lampu mati. Aku seketika terhenyak. Dan baru kusadari, bintang di luar sana bersinar terang, tanpa lampu. Andaikan aku dan kau adalah salah satu dari bintang-bintang itu.... Akh, aku terlalu banyak mengkhayal tentang dirimu. Baik, akan kutambahkan. Aku adalah cewek yang suka berimajinasi aneh. TEPUK TANGAN!

Aku lalu SMS dengan temanku.

ME : Ibuku melarangkan memilih. Dia memberiku yang lain. Bagaimana menurutmu?

SHE : Kau punya hak. Berusahalah lebih keras.

ME : Sudah, kok

SHE : Yakin?

ME : 100 persen

SHE : Met berjuang. Aku udah ngantok. Mau Bobok. Gut nait....

SMS yang tidak membangkitkan semangat! Pikirku. Dia bukan teman yang baik. Seperti dia. Ahhh....

Aku mengambil kertas yang kugambar tadi. Dengan fotomu yang ku simpan di bawah bantal. Agar aku bermimpi kamu.

Ku kecup brosur Samsung Galaxy Note itu. Dan Ibu masuk.

“Kau harus menabung untuk membeli itu. Ibu juga akan membantumu membeli itu.”

Jumat, 13 Januari 2012

[FF] Kamu manis, kataku

Hari ketigaku mengikuti #15HariNgeblogFF

**********************************************************************

Aku berdiri di balkon kamar. Mengobrol dengan tetanggaku yang kamarnya ada di seberang sana. Kami mengobrol apa saja. Setiap malam, sebelum kami berangkat tidur, aku dan lelaki itu mengobrol tentang masa kecil yang kami ingat. Dia sering menceritakan aku tentang hantu. Tentang rumah angker yang pernah ditempatinya pun, pernah ia ceritakan padaku.

Jujur, hari demi hari aku mulai menyukai dirinya. Sejak aku pindah ke rumah baruku. Kami sering pulang sekolah bersama. Sampai-sampai di kira teman-teman kami adalah sepesang kekasih. Tapi, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Memang, kami dekat. Memang, kami akrab. Tapi aku dan dia bukanlah sepasang kekasih. Kami hanya teman, dan tetangga.

Dia selalu menjawab seperti itu jika ditanya apakah dia pacarku. Padahal, aku harap dia menjawab ‘iya’. Tapi, kurasa.... dia tidak punya rasa padaku. Itu kadang membuatku sedih. Namun, tak apalah. Dia masih dekat denganku, kan?

Malam hari, setelah aku mengganti bajuku dengan piyama, aku mendengarkan musik. Sambil menunggu dia SMS ke aku. Kutunggu lima belas menit, akhirnya datang.

Hey, kok nggak muncul di balkon?

Lalu kubalas

aku kenyang habis makan. Oke, aku buka pintu, ya...

Aku pun membuka pintu, dan tampaklah dia. Dengan setelan jas yang berantakan. Mungkin habis pesta. Orang tuanya pebisnis.

“Habis pesta, ya?” tanyaku.

“Kok tahu?”

“Udah kelihatan, kali.”

“Oya, aku punya gombalan buat kamu.”

DEG!

“Gombalan apa?”

“Apa bedanya sumur dan kamu?”

“Apa, ya? Mungkin.... dalam sumur cuman sepuluh meter. Tapi kalo aku....”

“SALAH!”

“Terus....?”

“Sumur itu, untuk menimba air. Kalau kamu, untuk menimba cinta di hatiku....”

“Kyyyaa!!!!” Aku berteriak centil.

“Hihihi....” Dia terkikik geli sambil tersenyum.

Senyuman termanis, yang pernah aku lihat. “Anu, boleh aku foto kamu buat foto di kontakmu?”

Sure.” Dia merapikan dasinya, lalu berpose layaknya seorang model.

“Trims. Oaahh.... aku ngantuk, bobok dulu, ya... Gut nait....”

“Bye...”

Hari Minggunya, sore-sore, ketika aku di rumah sendirian, dan mendung di luar sana, suara pintu diketuk terdengar. Dan, kubuka pintu. AH! Dia datang!

“Hai, boleh masuk?”

“Boleh banget! Silakan, aku bikinin teh dulu ya....”

Saat aku menutup pintu, hujan langsung deras di sana. Aku menyalakan penghangat ruangan, dan membuat teh di dapur.

Petir menggelegar. Membuatku latah.

“Eh, kopi..... e, topi!.... Ee.... Napi!!!” Dia yang melihatku cuma tertawa ngakak.

Selesai membuat teh, aku meletakkan cangkir di depannya. Lalu, aku duduk di sampingnya. Namun tetap menjaga jarak.

Saat dia meminumnya seteguk, dia menatapku. Aku jadi merasa aneh.

“Kamu.....” kalimatnya terpotong karena petir. “manis.”

Aku tak yakin apa yang kudengar tadi itu benar. Namun dia mengatakan ‘kamu manis’ kepadaku.

Aku terlonjak. “BENARKAH??!!” pekikku.

Ia menatapku aneh. “Iya, bener.”

“Terima kasih....” ucapku.

“Kalo gitu, tolong tambahkan sedikit gula lagi di tehku.”

“Hah...???”

“Kan tadi aku bilang, ‘Kamu membuat tehnya kurang manis’.”

Kamis, 12 Januari 2012

[FF] Dag dig dug

Hari keduaku mengikuti #15HariNgeblogFF

**************************************************************

Hari ini, tanggal 14 Februari. Hari Valentine, hari kasih sayang.

Hari ini, aku akan menyatakan cinta, kepada orang yang kusukai. Aku hanya mengenal namanya saja. Tapi dia belum mengenalku. Dia sering melihatku keluyuran di sekelilingnya. Aku mencari ‘apa sih hobinya? Apa sih makanan yang disukai? Apa sih makanan yang dibenci? Seperti apa sih tipe ceweknya?’. Aku adalah detektif ‘dia’.

Hari ini, sudah kusiapkan cokelat berbentuk hati sesuai porsinya. Sesuai cemilan favoritnya, kacang. Cokelat ini kubuat sepenuh hati. Dengan cokelat dan kacang tercampur aduk di dalamnya. Dan kau pasti tahu rasanya, apabila hadiah kita diterima dengan senang hati oleh seseorang.

Hari ini, aku berangkat ke sekolah jalan kaki. Ku sengaja memang. Agar uang naik bis dapat utuh, dan kubuat membeli minuman favoritnya. Jus Alpukat.

Hari ini, aku sering dilempar kapur oleh guru. Gara-gara aku melamunkan dirinya menerima cintaku, memakan cokelatku, dan meminum jus alpukat. Rasanya akan sangat bahagia. Tetapi, kenapa guru-guru itu marah karena aku ngelamun? Kan tidak ada larangannya? Pun masih gratis sampai detik ini.

Hari ini, waktu rasanya sangat lambat. Istirahat yang waktunya setengah jam jadi terasa cepat. Padahal aku hanya duduk di kursi taman. Membaca buku ‘Cara Menyatakan Cinta’, membayangkan aku dan dia berjalan bersama, dan..... bel berbunyi tanda aku harus masuk ke kelas.

Hari ini ada pelajaran Bahasa Inggris yang sangat dia sukai. Makanya, aku sangat serius memperhatikan guru Bahasa Inggris yang biasanya dikenal killer. Bahkan, karena aku memperhatikan pelajarannya, sekarang aku tidak dipukul dengan tongkat rotan. Yang biasanya sering kudapat.

Hari ini, aku menyadari sesuatu. Dia benar-benar menghipnotis aku. Dia membuat aku yang tak biasa membuat cokelat pada Hari Valentine, hari ini telah membuatnya. Dia membuat aku yang cuek, jadi sangat penasaran. Dia membuat aku yang malas jalan kaki, harus jalan kaki sekolah, demi membelikannya jus alpukat di kantin. Dia membuat aku melamunkan dirinya saat pelajaran. Bahkan pelajaran kesukaanku sekalipun. Dia membuat waktu yang seharusnya terasa normal bagiku, malah menjadi lambat. Kecuali saat istirahat, waktu terasa sangat cepat. Dia membuat aku memperhatikan satu-satunya pelajaran yang kubenci.

Hari ini, aku sangat bahagia saat bel pulang sekolah berbunyi. Memang seperti biasanya. Aku sangat senang ketika bel pulang sekolah berbunyi. Tapi yang ini lain. Aku akan datang ke kelasnya. Mengajaknya ke belakang sekolah. Memberikan cokelat dan jus, lalu menyatakan cinta. Ahhh.... terlihat mudah memang. Tapi butuh banyak keberanian.

Hari ini, aku akan menyatakan cinta! Itulah yang selalu terucap ketika aku mengingat dia. Dan, aku sudah sampai di depan kelasnya. Aku menghitung 10 detik. 3, 2, 1. Aku berjalan lagi. Saat aku hampir di depan pintu kelas, dia keluar duluan menenteng tasnya. Dengan rambutnya yang acak-acakan, namun keren. Dia tiba-tiba memasang wajah kaget. Lalu tersenyum kepadaku. Dan dia berkata, “Apakah, kamu mau memberikanku cokelat?” Untuk pertama kalinya dia mengajakku ngobrol! Dag dig dug kurasakan. Sangat kencang di dalam dada.

“Iya, aku memberikan cokelat ini untuk kamu.” Jawabku lirih.

“AKU SAYANG KAMU!” Dia berteriak. Lalu berlari kepadaku. Merentangkan tangannya.

Tapi, dia terus berlari. Lalu kutengok ke belakang. Dia memeluk seorang cewek.

Dia sudah punya pacar.

[FF] Halo, Siapa Namamu?

Hari pertamaku mengikuti #15HariNgeblogFF

***********************************

Naliya adalah anak SMP yang suka bersaing dengan temannya. Minggu ini, Naliya dan Katrina bersaing banyak-banyak teman di facebook. Siapa yang berhasil mencapai lebih dari 1900 orang, maka, dialah pemenangnya.

Naliya yang suka fb-an, baginya, itu bukan masalah. Hari ini, teman Naliya sudah mencapai 1998 orang. Sedangkan teman Katrina baru mencapai 1885 orang. Naliya tersenyum senang. Ia ingin menambah lagi teman-teman di facebook.

Ia membuka dinding temannya, mencari nama yang unik dari temannya teman Naliya, membukanya, dan berulang kali dia melakukan yang sama. Setelah mengulang 4 kali, ia putuskan memilih ‘Zeez MangP4l!nkc-ute @ duniy4-@k#!rA+’. Itu adalah nama paling panjang, dan paling alay yang pernah ia temukan. Ia meng-add ‘Zeez MangP4l!nkc-ute @ duniy4-@k#!rA+’.

Beberapa hari kemudian, Naliya dinyatakan menang. Naliya dihadiahi ‘ditraktir di kantin sepuas yang Naliya inginkan selama satu minggu’ oleh Katrina. Naliya sangat senang.

Di rumah, dia tetap berhubungan dengan teman-teman facebooknya yang baru. Banyak yang mengajak ketemuan, sayangnya, sebagian besar di antara mereka bukan dari kota yang sama dengan Naliya. Sedangkan Naliya masih duduk di bangku SMP. Mana mungkin diizinkan keluar kota oleh orang tuanya?

Ia membuka dinding, dan ada satu status yang ditujukan untuknya. Dari ‘Zeez MangP4l!nkc-ute @ duniy4-@k#!rA+’. Isinya:

Bwt @N-7!4luvluvluvluvMORGAN-SM*SH4ever d-ri VII-III, qw phingeen, q-ta ktemuwan. Cuz q-ta seb(u)aya n’ 1 kota. Ntar qw q-reem lethaqnya lwat pesan, eeeaaa....... :3

Naliya tersenyum dan membuka kotak pesan. Disitu ada pesan dari Zeez.

G-man4 klw @ kaf3 dkt M411? Ynk specyal fut-nya SPICY CHICKEN WINGS. Mlm ah4d, pkl 7. U jgn dinner @ rumah, yaaaccchhhh....!!!!! Qw ynk trakhtr,,,,,,, :3 :3 :3 :3

Naliya membalasnya.

Ok. Qw dah izin ma ortu qw. Blh. Icchh,,,,,, jd gax sbr ktemuwan, deechhhh....

Setelah itu, ia menutup facebook, dan masuk ke kamar. Untuk tidur.

Pada malam minggu, pukul setengah tujuh, Naliya naik taksi ke tempat ia ketemuan dengan ‘Zeez MangP4l!nkc-ute @ duniy4-@k#!rA+’. Ia juga menepati janji, agar tidak makan di rumah. Naliya sudah menyiapkan dua voucher ke toko buku. Karena kata Zeez, dia suka baca komik. Tak beda jauh dengan Naliya yang suka baca novel.

Sampai di kafe, Naliya membayar taksi, dan masuk ke kafe. Ia membuka facebook lewat handphone. Zeez sedang dalam perjalanan. Batinnya. Zeez menyuruhnya memesan makanan yang ia suka dan duduk di meja pojok di samping jendela. Karena kosong, Naliya mengambil tempat disitu.

Kira-kira, Zeez seperti apa, ya? Karena namanya Zeez, pasti dia cewek. Hmm.... aku kenal nggak, ya? Pikirnya. Saat makanannya datang, pintu kafe terbuka. Seorang cewek berambut ikal dengan atasan blus putih dan bawahan celana pensil berwarna hitam. Cewek itu berdiri di samping pintu dan mengambil handphonenya.

Di saat yang nyaris bersamaan, Naliya mendapatkan SMS dari Zeez.

ZEEZ :Qw dah nyampe.... WAIT 4 ME....

NALIYA :Kamu pake baju apha...???

ZEEZ : Blus putih + Celana pensil ithem

Naliya mencari-cari orang itu. Dan, tampaklah wajah yang sangat ia kenal....

Oh tidak! Itu kan Zizah, musuh besarku zaman SD!!!!!

Rabu, 23 Maret 2011

Barter (palsu)

Tiap di mobil jemputan, mesti aku diisengin. Belakangan ini, botol minum milikku-lah yang menjadi target. Tiap kali aku lengah, botol minumku diambil dan disalurkan ke yang lain, lalu disembunyikan. Hari ini, botol minumanku berhenti di tangan Umi. Saat dia turun dari mobil, aku panik. Aku mencari-cari di bawah kursi tempat ia duduk. Aduh... kok nggak ada, ya? batinku. Billa lalu memberikanku minuman teh dalam kemasan yang tinggal setengah, pemberian dari Umi. Karena minumku hilang, dan aku lagi sedang haus-hausnya, aku pun meminum teh itu sampai habis. Dan aku membuangnya di selokan saat mobil berjalan (jangan ditiru, ya.... :P).
Aku menganggap peristiwa ini hanyalah barter. Untuk memastikan, aku mencari-cari lagi botol minumanku di bawah kursi. Untung, botolku itu cuma botol bekas yang dipakai. Kalau botol yang bukan botol bekas?! Wuah.... CILAKA DUA BELAS!
Angga, lalu menyruh aku mencari lagi. Bukan hanya di sekitar kursi Umi, tapi di tempat-tempat yang lain. Akhirnya ketemu. Air di dalam botolku masih banyak. Belum ada seperempat kuhabiskan. Eman-eman, kan, kalau hilang terus kotor nggak bisa diminum lagi?
Karena aku masih haus, aku segera meminum air minumku. Lalu bertepuk tangan, karena Angga sudah memberitahu tempatnya. Aku menebak-nebak, tadi Umi menyalurkan botolku ke Angga, lalu disembunyikan, tapi bilangnya, tidak.

Hmmm.... Ini, sih, namanya barter palsu! Dikira barter, ealah.... akhir-akhirnya botolku malah ketemu!

Senin, 27 September 2010

Mimi

"Tujuh pangkat dua, tuh, berapa sih, Mim?"
"Entahlah,"
"Kamu bisa ke rumahku, nanti sore?"
"Entahlah,"
"Bisakah nanti kamu online, di facebook?"
"Entahlah,"
"Mau minum teh di rumahku?"
"Entahlah,"
"Aku punya boneka baru. Mau pinjam?"
"Entahlah,"

Sahabatku, Mimi. Sejak kami mulai dekat, setiap kali aku bertanya. Dia pasti menjawabnya dengan kalimat: "Entahlah,"
Apa maksudnya itu?! Aku sebenarnya sudah frustasi dengan sifatnya. Aku tahu dia cantik, berbakat, dan pintar. Dia juga tidak cerewet. Kalemmmm... sekali. Tapi, apa aku berhak memarahinya. Meskipun dia sahabatku?
Sebenarnya, tanpa diminta pun. Dia selalu membantuku dalam segala hal. Tapi, itulah anehnya. Kalau aku meminta, atau memohon. Barulah dia tidak membantuku. Dan belakangan ini, aku tidak banyak bertanya padanya. Agar dia selalu membantuku.

Bagiku, Mimi adalah anak yang misterius. Meskipun kadang, dia tetap mengajakku bermain dengan ria. Tetapi, ada kalanya dia menjadi misterius. Itu seperti... seperti... seperti... Drakula. Pada siang hari, mungkin dia bermain ria di dalam goa, bersama teman-temannya. Tapi malam harinya, dia menghisap darah manusia dengan kejam. Dan tidak berperikemanusiaan. Saat diselidiki, sama sekali tidak meninggalkan jejak. Atau istilahnya; Misterius.
*************************************************************************************
Minggu siang ini, aku bermalas-malasan di dalam kamar. Menyalakan laptop, atau bermain boneka. Bulan ini, orang tuaku ke Amerika. Bulan depan, ke Singapore. Memang tidak menyenangkan apabila kedua orang tuaku itu tidak ada di rumah. Aku tidak punya kakak. Aku tidak punya adik. Jadi, kehadiran Mimi di kehidupanku sangat menguntungkanku. Dia suka sekali menginap di rumahku. Maka dari itu, Aku sering sekali mengadakan acara Girl's Sleepover di rumahku.
Tentu saja yang hadir tidak hanya Mimi. Beberapa teman kelas yang dijinkan juga ikut. Aku begitu senang di saat-saat itu.

Tapi, semua itu sudah lewat. Sekarang aku sudah kelas 3 SMA. Apa daya yang akan kulakukan. Beberapa pekan lagi, aku sudah masuk Universitas. Aku selalu berusaha membayangkan semua keasyikan menjadi seorang Mahasiswi. Dulu, saat masih Sekolah Dasar, aku dan Mimi selalu mengkhayalkan diri kami saat dewasa. Menikah dengan siapa, punya anak berapa, tinggal dimana.... Kami menebak-nebak.
Tapi anehnya, sekarang, saat hidup itu hampir kugapai. Aku malah sedih, dan kecewa. Sejak masuk SMP, aku sudah tidak bertemu Mimi. Dan saat masuk Universitas nanti, aku tidak akan bertemu dengan semua teman-temanku. Mereka masuk Universitas di Indonesia. Sedangkan aku, masuk Universitas Singapore.
Hhhh... semuanya telah berubah.

"Ayu, siapkan semua baju yang ada di lemari. Semua barangmu, harus bisa dimasukkan ke dalam tida koper besar, lho, ya..."
"Iya, Ma. Aku bisa mengurus diri sendiri, kok. Tenang aja. Pas liburan nanti, aku pasti ke Perancis. Oke, deh, Ma. Aku siap-siap dulu. Dagh..." Aku menutup HPku. Sebenarnya, semua barang sudah kusiapkan. Lalu aku memungut sebuah pigura foto.
"Mimi..." ya, disitu adalah fotoku dan Mimi saat aku mengajak keluarga Mimi ikut berlibur dengan kami ke Jepang. Kami berfoto ria di bawah pohon sakura. Tak sadar, air mataku menetes. Aku sudah sangat merindukannya.
Semua kemisteriusannya, senyumnya, semangatnya, candanya, kepintarannya... Semuanya. Oh, Mimi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan Indonesia beberapa tahun lamanya. Tolong, perlihatkanlah batang hidungmu. Agar bisa kutarik, lalu aku bisa memelukmu untuk terakhir kalinya. Aku sudah tak peduli dengan semua kata "Entahlah," kepunyaanmu. Aku hanya ingin melihat senyuman manismu.

Tolong, Mimi... Perlihatkanlah dirimu... Aku mohon....
*************************************************************************************
Saatnya sudah tiba. Aku berangkat ke Singapore. Berkali-kali kuusap air mataku yang selalu menetes. Teman-temanku sibuk mengingat kenangan kami dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA, dan detik ini. Sekarang.
"Sayang, Mimi tidak ada disini. Andaikan dia ada di sini, apakah kau ingin menyuruhnya menyanyi untuk terakhir kalinya, Yu?" tanya seorang temanku.
"Tentu saja. itu, pasti. Tapi dia tidak ada disini, Mel," tanggapku sedih.
Teman-temanku langsung menutup rapat bibir mereka. Mereka tahu, aku rindu Mimi. Aku ingin bertemu dengannya. Setelah enam tahun lamanya tidak bertemu. Bayangkanlah...

Pesawat yang akan aku tumpangi sudah tiba. Semua teman-temanku mengeluarkan barang kenangan untukku. Aku tidak bersedih untuk mereka. Aku bersedih, karena tidak bisa melihat Mimi. M-i-m-i. Mimi. Ya ampun, apa yang harus aku lakukan, agar kau menampakkan diri, Mimi?
"Sukses disana, ya, Yu. Kamu masih bisa balik ke Indonesia, kan? Kapan-kapan..."
"Yup. Kita bisa ngadain Girl's Sleepover lagi. Tapi di hotel. Nyenengin nggak, tuh?"
"Hahaha.... aku tahu. Semua yang udah lalu, jangan dilupakan ya?" Aku mengingatkan.
"Simpen barangku, ya, Yu."
"Aku juga!"
"Jangan lupakan aku, dong..."
"Aku yang pastinya tidak akan dilupakan." suara seseorang paling belakang. Dengan rambut hitam dan panjang, wajahnya pucat. Suaranya misterius. Tapi anehnya, semua teman-temanku tidak mendengarkan suara itu.
"Akulah, Mimi, Ayu." orang misterius itu melanjutkan kalimatnya.
"Kaukah, Mimi?" Aku berjalan ke orang itu. Aku tidak begitu yakin, dia itu adalah Mimi.
Aku di depan gadis itu. Sekitar tiga langkah. Tiba-tiba, dia menyergapku. Memelukku. Bajuku basah oleh tangisannya. Aku baru sadar. Dia benar-benar Mimi yang aku cari.
"Bagaimana kau tahu aku disini, Mim?" tanyaku sedih. "Aku akan berangkat sepuluh menit lagi."
"Aku bisa meramal, Yu. Dan ramalanku saat kita SD ternyata benar. Universitas mu ada di Singapore! Singapore, Yu! Selamat untukmu, Yu!" Mimi menjabat tanganku dengan erat.
"Aku tahu," aku memeluk Mimi dengan erat.

"Yu, aku nggak mungkin bakal meluk kamu terus, kan?" tanya Mimi. Aku mengangguk pelan. "kalo gitu, kamu cepet berangkat. Nanti di dalam pesawat, aku punya kejutan buatmu."
"Kamu....?" Aku tidak rela melepaskan tangannya yang dingin, Tapi bagiku, hangat.... Sehangat kain sutra.
"Udah, cepetan... habis ini, aku mau kembali ke awan..."
"Hah?"
"Dadah, Ayu!!!!" Mimi lalu meninggalkan ku. dia keluar bandara.

Aku dengan hati tenang, lalu menggenggam tiket pesawatku dengan semangat. Saat aku berlari. Seorang temanku bertanya;
"Kamu tadi ngobrol sama sapa, tho, Yu????"
Aku menjawabnya dengan senang dan jujur.
"Dengan MIMI!!!! Aku pamit ya...!!!!" aku lalu naik tangga. Dan beberapa anak tangga lagi, aku masuk ke dalam pesawat.
Aku menghela napas. Tekadku untuk masuk Universitas ramalan Mimi, sudah bulat. Akhirnya aku masuk peswat. Dan mencari kursiku.

Dan di kursiku itu, ada sebuah surat. Dari kertas putih. Tapi saat kuraba, kertas itu halus sekali. Seperti terbuat dari awan.

Untuk sahabatku, Ayu...
Ayu, maafkan aku. Bikin kamu kaget, ya? Temen-temenmu bener. Kamu itu, sebenarnya ngobrol dengan siapa?
Kamu itu, mengobrol dengan.... ARWAHku.
Kumohon, jangan menangis, jangan menangis....
Jangan sedih... jangan sedih....
Aku meninggal, karena tertabrak mobil
Aku tahu, kamu nggak terima
Tapi, itulah alasanku. Tidak satu SMP denganmu.
Karena aku tahu, aku sudah sampai di sana.
Tempat tinggal baruku ada di kampung halamanku.
Di samping SD kita dulu, Yu.

Jangan sedih, dari mantan sahabatmu, yang kini bahagia melihatmu....
Mimi