Kamis, 25 Februari 2010

Main Tebak-tebakan#1

"Huuu... Kakak! Aku tadi dipukul Tito gara-gara salah menjawab tebakannya!" Dania masuk ke kamar Vania. Vania yang sedang mengisi TTS langsung berhenti dan meletakkan pensilnya.
"Ada apa, dik?" Vania mengelus poni rambut Vania. "Sakit ya? Besok Kakak bicara sama Tito deh, biar nggak mukulin kamu lagi. Sekarang, dikasih minyak penyembuh dari nenek dulu ya. Semoga tidak memar dan benjol!" Vania memberikan minyak penyembuh pada dahi adiknya itu, lalu dibuatkannya teh hangat untuk menemani Vania di ruang tamu.

Tapi, Vania langsung ke rumah Tito untuk menasehatinya.
TOK! TOK! TOK!
"Ada apa Kak Vania? Perlu sama Tito atau orang tua Tito?"
"Kakak ada perlu sama Mama kamu, kalo nggak ada sama kamu aja ya, To!"
"Ya udah, kak. Masuk dulu yuk ke kamar aku!" Tito menutup pintu dengan kasar. Tito membetulkan letak kaca matanya. Walaupun seperti kutubuku, sebenarnya ia anak yang nakal dan bandel serta suka mengerjai orang.
"Tito, tadi kamu memukul adi kakak sampai biru ya?"
"Iya. Memang kenapa kak? kan salahnya sendiri nggak bisa jawab tebakanku. Padahal gampangnya minta ampun! Soalnya: bagaimana cara melompati monas? Masa, Dania nggak tahu jawabannya? Jawabnnya kan: lompat aja sendiri! Monas kan nggak bisa di lompati! Dania malah jawab'lompatnya harus lebih tinggi dari pada Monas!'"
"Tapi, adikku kan nggak tahu jawabannya jangan kamu pukul dong! Seharusnya, yang kalah gantian memberi pertanyaan, kan susah mikirinnya! yang tadi memberi pertanyaan, jadi yang menjawab! Atau, yang menang nggak memukul, tapi memberi pertanyaan lagi hingga jawabannya semua benar!"
"Iya, kak. Tito minta maaf..."
KEESOKAN HARINYA.......
"Aduh, kok Dania belum pulang sih, Vania! Cari adikmu dulu gih! Udah sore, Mama mau masak makan malam dulu!"
"Aduh! Jangan-jangan dikerjain Tito lagi. Harus ku beri pelajaran dengan halus!" Vania berjalan mengitari kompleks. Terlihat adiknya menangis di dekat kaki Tito. Tito tersenyum licik sambil memandang Dania.
"Dania! Kata kakakmu, sebelum jawabanmu benar, baru kamu boleh pulang or memberi pertanyaan untukku! Ayo! Gimana caranya masukkin gajah ke kulkas! Jawabannya gampang!"
"Hu...hu....hu... aku nggak tahu.... gajah kan nggak bisa dimasukin ke kulkas!"
"Payah! Ini pertanyaan lelucon! Jadi, jawabannya bisa nggak nyambung bisa juga nyambung! Pikirkan baik-baik! jawabannya seperti kalau kamu masukkin botol minuman ke kulkas!"
"A, a....ku nggak ngerti, To... beri aku kesempatan untuk berfikir di rumah!"
"No way, Dan....." Vania sudah berdiri di belakang Tito.
PLOK!
Vania memegang pundak Tito. Tito menghadap ke belakang.
"WA...!!!! Kak...kak Vania??!!!"
"Kamu apakan adikku lagi? Sini Dania!"
"Loh, lho? Katanya Kakak sebelum jawabannya....."
"Memang, tapi kalau bermain ingat waktu! Kalau kamu berhasil bermain secara lembut tanpa sekali pun nakal, akan aku berikan hadiah.
"Wah....."
"Kalau sehari kamu bisa melakukan satu kebaikan, teruskan ke hari esoknya. Kau tak kan pernah menyesal berbuat baik seperti itu..... Jadi, aku dan Dania pulang dulu. Ku tunggu kebaikanmu besok ya!"

Tito memandang Dania dan Vania yang perlahan-lahan pergi. Dania berharap, Tito bisa melakukan sebuah stau kebaikan atau lebih.....

Jumat, 05 Februari 2010

Terhibur nggak???

Setelah pelajaran bahasa arab, Pak Sodiq berkata di mikrofon yang ada di tingkat bawah.
"YANG IKUT DRUM BAND, MOHON MAAF. PAK ANWAR TIDAK BISA DATANG KARENA SAKIT. BERARTI, DRUM BAND MINGGU INI DILIBURKAN DULU... TERIMA KASIH"
Aku mendengarkan pengumuman itu dengan seksama.Teman-teman mengusulkan kita akan bersenang-senang bersama. Tapi, gimana ya???? Boleh juga sih. Tapi, aku dapet nomor buat telepon ojek. Akhirnya aku telepon di kantor TU. Tapi setelah dicoba beberapa kali, tetep nggak di angkat. Akhirnya, aku mengikuti teman-temanku untuk bersenang-senang.

Setelah ganti baju, kami langsung makan siang di warung makan. Lalu, kami ke mushola. Aku, Niemas, Reza, Vina, Ais, dan Dilla tercengang. Kaget sekali! Di teras mushola terdapat meja kecil yang disusun seperti ini: dua meja di bawah, satu meja di atas. Jadi kayak tempat duduk penonton gityu... benar-benar diduduki! Dan terlihat Syahda dan Salsa sedang siap-siap. Apakah ada acara? Tapi apa????

Aku akhirnya duduk di samping Billa. Umi membawa HP milik Syahda untuk merekam video.
"1, 2, 3..!!!!" Teriak para penonton. Syahda dan Salsa ternyata membuat acara show kecil-kecilan wushu. Bagus sekali ide mereka berdua. Kami terhibur melihat Syahda dan Salsa memperlihatkan wushu mereka. Tiba-tiba, aku memiliki ide bagus dan akan melatih kepercayaan diri penonton. Aku turun dan membisikkan ideku pada Salsa dan Syahda.
"Oke. Kami akan membuat acara show yang beda. Ada yang mau mementaskan sesuatu???? Selain aku dan Salsa????" Tanya Syahda lantang. Aku mengangkat tangan.
Ada yang lain??? Reza ke depan tapi hanya mau bernyanyi berdua bersamaku.
"Aku mau! Tapi aku maunya jadi presenter. Sama niemas dan Billa." Teriak Vina sambil mengangkat tangan. Boleh juga....

Aku dan Reza menunggu wushu Syahda dan Salsa selesai. Mereka membungkuk, penonton berteriak meriah SEKALI...!!!! Benar-benar seperti acara show di tivi!
Aku dan Reza maju ke depan. Kami menyanyikan lagu Bunda hingga selesai. Ada yang mbrambang gara-gara terharu. Pokoknya..... ya, gitu deh!

Aku dijemput ojek. Akhirnya, acara show selesai. AKu dapat hadiah es teh dari Syahda karena sudah memberi ide yang bagus.
"Idemu juga bagus. Biar orang-orang nggak mati kutu." Aku naik motor dan meminum es tehku.

TERHIBUR NGGAK??!!!

Selasa, 02 Februari 2010

Enid Blyton

Buku-buku tulisannya sangat sempurna. Bisa dibayangkan di pelupuk mata. petualangan bisa kita rasakan sendiri. itulah yang kurasakan saat membaca buku karya Enid Blyton.

Benar-benar mengagetkan. Awal aku tahu Enid Blyton adalah saat ibu membelikanku "lima sekawan". Judulnya, aku lupa. Pertama kali aku melihat buku tebal itu, aku langsung menolak untuk membaca. Tapi ibu memaksa. Akhirnya, kubaca sedikit demi sedikit. Walaupun awalnya banyak yang tidak aku mengerti. Setelah membaca satu buku penuh, aku minta dibelikan lagi dan ketagihan hingga membeli karya Enid Blyton lainnya.

Aku suka "lima sekawan", "malory towers", dan "Pasukan Mau Tahu".

Di lima sekawan, petualangan yang seru selalu terbayang. Ah... andaikan aku mengalami semua itu. Saat-saat paling menegangkan adalah saat aku membaca lima sekawan yang berjudul:kereta api hantu. Aku tidak akan membaca buku itu kalau sudah malam. Takut bermimpi buruk. Tapi benar-benar menegangkan.

Malory Towers, karena apa ya...??? Oh ya! Aku merasa sudah sekolah asrama walaupun sebenarnya tidak. Setelah membaca buku itu sebelum tidur, pasti aku bermimpi bersekolah di asrama dengan semua teman-temanku di sekolah nyata.

Pasukan Mau Tahu, ya pastilah tntang anak-anak yang ingin tahu! Di buku ini, menceritakan anak-anak yang mengalami... bukan petualangan. Tapi misteri. beda dengan lima sekawan. Di Pasukan Mau Tahu, kejadiannya ada di sekitar mereka dan isinya banyak pembantunya. Kalau di lima sekawan, tidak selalu ada tokoh baru yang membantu memecahkan misteri. Tunggu... kayaknya kebalik deh! Eh, ternyata bener kebalik. Sori yah... :P

Itulah sekilas ulasan dari karya-karya Enid Blyton.....

Sabtu, 23 Januari 2010

Makan-makan di sekolah

Saat aku mau keluar pintu rumah, baru kuingat, ini hari SABTU! Festival 4 sehat 5 sempurna di sekolahku! Untung aku bawa susu sama piring. Gimana kalau ayamnya? nggak keburu kan?

Aku mengambil kresek asal-asalan, membuka kulkas dan memasukkan enam botol susu. Lalu membuka rak piring dan mengambil enam piring. Masuk mobil, membawa tas plus persiapan.

Sampai di sekolah....aku telat. Aku meletakkan tas dan kresek berisi piring dan susu. Pelajaran Bahasa Indonesia pun dimulai. Hari ini belajar tentang cara membuat karangan! Agak-agak susah sih, dari pada yang kubayangkan. Tapi asyik lho! Anehnya, temen-temen yang lain pada nggak suka mengarang. Masa sih, mengarang yang seasyik itu tidak disukai? Lanjut...!!!!

Setelah pelajaran, kami disuruh memakai topi dan hasduk (seragam pramuka) untuk foto pembuatan KTA. Setelah kelas kami di panggil, kami semua berjalan menuju tempat foto. Yang pertama adalah AKU!

Setelah pemotretan, aku menuju ruang ekstra mewarnai. Aku cuma dapat setengah jam, soalnya yang belum foto KTA, belum boleh ekstra.

Sehabis memasukkan krayon dan pensil. Aku ke kelas dan mengambil kresek berisi piring dan susu, Aku susah payah membawanya ke bawah. Lalu, aku menyuruh temanku, Syahda menjaga bahan-bahannya. Aku mencari karpet. Sayangnya, semua karpet sudah habis bersih, sih, sih! Aku berkeliling sambil mencari ide. Akhirnya aku memutuskan memakai meja. Aku dan Syahda mengangkat meja yang ada di depan "mantan" kelas kami yang di bawah. Setelah meletakkan meja di bawah pohon, aku dan Syahda membersihkanh mejanya menggunakan sulak dan menggelar taplak yang ada di dalam loker mejanya. :P

Aku dan Syahda menata semua perlengkapannya. Syahda menyusun buah di piringnya, aku mengelap piring hingga bersih menggunakan tisu. Aku menumpuk enam piring. Buah Syahda juga sudah tertata rapi. Datanglah empat orang lain dari tim-ku. Wulan, Billa, Umi, dan Dilla. Wulan mengeluarkan tahu-tempenya yang asapnya masih mengepul-ngepul. Padahal sudah dari tadi pagi. Benar-benar aneh! Billa mengeluarkan kotak nasinya dan centongnya diletakkan di atas tutup kotak nasi. Dilla tak ketinggalan dengan ayam gorengnya yang kriuk! Dan sendok. Tinggal Umi. Lho, Umi dan Syahda di mana? Oh... ternyata! Ibu Umi mengantarkan sup ayamnya. Syahda tampak membawa panci besar mewah dengan ringan. Mungkin isinya dikit. Saat tim-ku menyicipi kuah sup, aku mengacungkan jempol. Benar-benar YUMMY!

"YANG SUDAH SELESAI TATA-TATA, DIHARAPKAN MENULIS NAMA ANGGOTA DAN NAMA KELOMPOK. NAMA KELOMPOK HARUS BARONG WARNA ATAU WARNA SAJA! JURI ADALAH BU FRESHTY DAN BU YOSI. DIHARAPKAN SELESAI SEPULUH MENIT LAGI!" Terdengar suara dari megaphone. Aku bergegas mengeluarkan selembar kertas karton putih dan spidol hitam. Aku menulis 'Barong Merah Putih' dan 'ANGGOTA'. Di bawahnya ku tulis nama teman-temanku dan aku sendiri. Di sampingnya, kugambar perempuan berkerudung dengan acungan jempol. Dan tulisan... 'Dijamin, enak, lezat, MAK NYUZZZZ..... dan sehat!'. Aku menekuk sisi atas dan bawah dan di letakkan di depan panci sup.

Menunggu setengah jam, akhirnya juri datang dan mulai bertanya-tanya.

"Ini apa?" Tanya juri sambil menunjuk panci.
"Sup." Jawab kami serempak.
"Boleh dicoba tahu-tempenya?" Kami berenam mengangguk.
"Tahu dan tempe mengandung apa?"
"Protein." Jawabku cepat.
"Protein apa?"
"Protein nabati."
"Kalau ayam goreng?"
"Lemak dan daging."
"Selain itu?" Aku tidak tahu. Aku menyikut Wulan, Wulan menyikut Umi, Umi menyikut Dilla.
"Protein Hewani."
"Bagus. Boleh mencicipi sup-nya?" Aku menyerahkan sendok kepada juri dan membuka tutup pancinya.
Bu Freshty mencicipi. Begitu juga Bu Yosi.
"Enak, dan gurih. Oke, boleh makan." Bu Freshty dan Bu Yosi meninggalkan meja tim kami dan menuju meja tim yang lain.
Aku mengambil sendok dan piring. Aku mengambil nasi dan supnya. Juga ayam dan tempe. Hhhmmm.... Pastilah delicious! Aku makan dengan lahap. Yang tersisa cuma ayam. Aku berjalan mencari mangsa.

"Ehm! Siapa yang mau ayam goreng?!" Teriakku lantang. Kelas enam yang sedang mengerubuti tim "BARONG UNGU" langsung berebutan. Agar aku selamat, aku asal melempar aja. Untung di tangkap. Gimana kalau jatuh ke bak pasir? Aku bakalan GUBRAKS!
Saat aku duduk di kursi, semuanya sudah selesai makan. Pak Woto datang dan bertanya:
"Boleh di makan ini? Nasinya masih banyak, supnya masih banyak, buahnya masih banyak, ayamnya juga, mau diapakan?"
"Kalau mau, panggil aja anak kelas enam pak. Makan siang gratis!" Ujarku. Pak Parwoto setuju, dan....
"ANAK-ANAK KELAS ENAM!!!! MAKAN SIANG GRATISS!!!!! AYOO...!!!!" Teriak Pak Parwoto. Anak kelas enam berebutan piring dan sendok, untung sudah dicuci. Yang tidak dapat, mengambil ayam goreng, tahu, tempe, buah, dan lain-lain. Setelah anak kelas enam mencari tempat makan sendiri-sendiri alias bubar dari stand kami. Aku membersih nasi yang berceceran. Dan membaca buku. Setelah itu, aku berjalan melihat-lihat stand aku juga dibolehin menyicipi. Ada yang lucu nih! (Bocoran, bocoran!)

Salah satu tim cowok di kelasku, makan nasi, sayur, dan lauk pake tangan! Aku tanyain deh.
"Eh, makan sayur kok pake tangan?"
"Habis aku lupa bagi tugas tentang bawa-membawa sendok!" Jawab Afi kesal. Aku hanya terkikik. (bagi yang nggak ketawa.... I'm sorry)

Setelah jalan berputar-putar, aku kembali ke stand-ku. Piring sudah tertumpuk alias sudah dikembalikan. Sendok juga. AKu menghitung tumpukan piring.
"Lho, kok cuma lima?" Tanyaku pada yang lain. Semuanya mengangkat bahu. Umi mencuci panci besar mewahnya dengan susah payah. Aku menunggu lima menit, akhirnya piringku dikembalikan.
"Nih! Piringnya sama sendok! Udah kucuci!" Semua piring yang sudah dikembalikan ternyata sudah dicuci semua! Thanks semuanya.... Aku tingga mengelap hingga kering menggunakan tisu. Lalu memasukkannya ke kresek. Aku beres-beres, yang lain menggotong kursi sama meja.

Waktunya pulang! Aku ber'doa sambil berharap piringku tidak pecah di tengah jalan nanti.

Terima kasih untuk anak kelas enam yang memborong stand kami! Makanan kami jadi tidak mubadzir! Guru-guru pramuka, yang membuat kami lebih mandiri dengan ini semua....

Rabu, 20 Januari 2010

Anak baru di sekolah dan di kelas

Ada anak baru di sekolahku. Masuk ke kelasku, yaitu 4A. Namanya Tii. Dia anak (agak) yang suka ngomong keras-keras di dekat telinga orang. Tapi omongannya selalu membuat diriku tertawa. Ternyata Tii anak yang lucu. Dia juga senang bergaul dan bercerita tentang sekolahnya yang dulu di Solo. Tentang sekolahnya yang dulu ada kantinnya, tapi Tii lebih senang di sekolahku karena halamannya lebih luas dan banyak pepohonan.

Tii anak yang pintar berbahasa inggris. Tii juga anak yang cepat menghafal. Seminggu yang lalu, ada pelajaran menghafal surah-surah pendek. Kali ini, Al Bayyinah. Ia langsung menghafalnya dari Jus Amma. Saat di tunjuk, ia benar-benar sudah mengahafalkannya.

Tii suka membaca sepertiku, Tii juga yang paling suka membaca komik buatanku. saat aku bilang sudah ada lanjutannya, pastilah Tii yang paling pertama meminjamnya. Tii memang anak yang asyik.

Kehadiran Tii membuat kelasku makin semarak. Anak perempuan senang padanya. Kadang ada yang kesel juga sih, dicuekin. Yang diperhatiin cuma si Tii. Tapi lama-kelamaan toh pasti jadi makin akrab dan tidak membedak-bedakan.

Sekian ulasanku kali ini. NB:Tii itu perempuan lho!

Selasa, 20-Januari-2010

Selasa, 29 Desember 2009

Om-ku

Sambil menulis judul 'om-ku sayang', aku mengingat-ingat apa yang dilakukan om-ku untukku. Karena ini tugas sekolah untuk menulis tentang orang yang kita sayangi. Terutama om-ku. Banyak yang sudah kami lalui bersama sejak kedua orang tuaku tiada karena kecelakaan. Akan ku-tulis satu per satu.

Omku sayang.....
Sejak kedua orang tuaku meninggal karena sebuah kecelakaan, aku di temani om Danu. Ia seperti ayah kandungku sendiri. Omku itu bekerja di sebuah kantor swasta. Setiap malam minggu, aku diajak jalan-jalan om Danu dan Tante Alin. Juga anak Om Danu, Arif. Walaupun laki-laki, dia tidak nakal selayaknya anak laki-laki yang sebenarnya.
Aku dibuatkan kamar sesuai seleraku oleh Om Danu. Ruang kerjanya beliau relakan untuk kamarku. Dinding yang semula merah menjadi biru muda. Ada ranjang, sofa, keset, gorden, kotak mainan, meja belajar, lemari baju, dan sebagainya. Aku pun di angkat menjadi anak Om Danu dan Tante Alin. Aku kadang masih memanggil Om Danu dengan sebutan 'Om' yang seharusnya Papa. Aku sangat sayang dengan Om Danu.
Pernah suatu saat aku tertabrak motor Tangan kananku patah, aku langsung dibawa pengendara motor itu ke rumah sakit. Om Danu datang bersama Arif dan Tante Alin. Mereka membawakanku buah-buahan yang kusuka. Om Danu tidak memarahiku karena aku tidak menengok kiri dan kanan. Tapi Om Danu menasihatiku agar lebih hati-hati. Tiap malam aku belajar di ajari Tante Alin yang bekerja sebagai guru sekolahku. Om Danu selalu menghadiahkanku buku cerita dan pelajaran tiap aku berulang tahun dan saat berjalan-jalan.
Aku selalu berdo'a untuk kedua orang tuaku di atas sana. Semoga mereka diterima di sisi Allah.

Tak terasa, air mataku melele. Aku mengusapnya dengan sapu tangan hadiah dari Mama atau Tante Alin.
"Kenapa kok nangis, sayang?" Tante Alin mengusap rambut hitam sepunggungku.
"Nggak papa, Ma. Cuma teringat kejadian-kejadian yang sudah berlalu." Aku menutup kertas.
"Oh... ya sudah. Bentar lagi Papa pulang. Kita mau diajak makan di luar. Ayo, sekarang sholat maghrib lalu ganti baju ya...."
Aku mengambil air wudhu lalu shlat bersama Arif dan Mama.
Aku berdo'a dalam hati.....

Ya Allah.... tempatkan kedua orang tuaku di tempat yang sudah kau janjikan....
Ya Allah....aku bersyukur kau telah menempatkanku di tengah-tengah keluarga ini....
Ya Allah....buat aku menjadi anak yang sholeh.....
Amin....

Aku melipat mukenaku dan ganti baju. Aku merasa bersyukur menjadi anak angkat Om Danu. Di sini tenpatku di sayang, di manja, dan mendapat perhatian.


Minggu, 27 Desember 2009

Ke Pantai

Ini pengalamanku kemarin hari Minggu tanggal.... berapa ya? Lupa!

Kemarin lusa, kata Budhe Ar (sebut saja begitu), besok pagi mau ke pantai. "Sayang aku nggak ikut." Keluh Mas Farr. Nggak cuma Mas Farr, orang tuaku juga tidak. Aku menghabiskan liburan sisa di rumah kakek-nenek dan sepupu.
Aku segera tidur. Sebenarnya nggak ingin, sepupu perempuanku (Mbak Shii) juga nggak ingin. Maka, saat lampu di matikan, aku menyalakan senter kecil dan menyalakan handphone di aplikasi opera mini. Kami membaca cerita anak di internet hingga pukul sepuluh dan tertidur...

KEESOKAN PAGINYA....

"Ayo. Bangun! Bangun! Nyuci! Nyapu! Bangun! Jangan cuma tidur...!!!!" Mbah ( nenek) ku memang begitu. Di sini, perempuan harus mencuci, mencuci piring, memasak, nyapu halaman yang luas..... tapi asyik juga walaupun awalnya bete. :P
Setelah bantu-bantu, kami pun mandi. Karena pantainya jauh, jadi agar sedikit sejuk, kami mandi dulu. Apa lagi nanti yang ikut banyak. Kan panas mobilnya?
Setelah menyiapkan pakaian dan berpakaian rangkepan, kami semua masuk kemobil Kijang. Baru setengah jam aja, semua i\udah pada molor. Kecuali yang menyetir. (kalo tidur, nambar dong!!!!)

Seperti lima menit saja, udara laut langsung tercium. Kami semua turun dari mobil dan meletakkan barang-barang di kursi bambu kosong di bawah pohon yang rimbun. Aku membuka baju rangkepan dan langsung berlari menuju air laut. Dari jauh terlihat biru. Tapi ternyata, airnya bening!!! Bening banget, Aku bisa melihat batu karang yang indah terkena pantulan cahaya matahari. Udah gitu pasirnya putih... Aku melihat bulu babi. Aku ingin mengambilnya, membakarnya, dan memakannya. Tapi pakai apa dong. Kalau pake tangan, bisa gatel-gatel. Aku ngambil tongkat kayu. Om-ku udah bisa dapet satu. Aku mencoba. Tapi, ternyata susah banget!!!! Aku putuskan dan rela tidak mencoba bulu babi. Aku menyusul Om Bond bersama ke-empat sepupu laki-laki kecil SD kelas 1 dan tk B.

Wah... ternyata, mereka menunggu ombak. Aku duduk, memang dangkal, aku menutup mata, agar tidak kemasukan air, menutup rapat bibir agar tidak ke-minum, dan menutup telinga agar tidak kemasukan air pula. Tiba-tiba, waktu sepupu perempuanku mengajak ngobrol sambil menutup mata, ombak yang menenggelamkan aku menyerang! Air laut yang asin masuk ke mulut.

"PUHHH!!! Kan udah di bilangin, jangan ngajak ngobrol. Apa lagi tentang batu yang kamu temuin, kamu juga maksa aku liat lagi.... Kena batunya deh...." Aku protes.
"Udah, mendingan kita balik aja. Jadi bisa ngobrol dan membuka mata." Kata sepupu perempuanku yang lain bernama Mbak Nass.

Kami bermain du situ hingga puas!!!! Apa lagi, ni pantai di Jogja dan di sebuah desa yang sangat terpencil. Juga tidak terkenal. Kapan-kapan aku ingin ke situ lagi dan mengajak keluargaku. Agar bisa melihat laut yang indah ini!!!

*Sori ya guys! Aku nggak bisa ngasih liat fotonya. Soalnya handphone-ku disuruh ditinggal di kursi bambu, dan kebetulan, baterainya juga mau abis..... :P