Jumat, 18 Juni 2010

Teman baru, di Apartemen



"Selamat tidur, Honey..." Mama menyelimuti Fira dengan lembut. "Mimpi indah." Mama mematikan lampu, lalu menutup pintu dengan perlahan-lahan.
Fira pura-pura tidur. Sebenarnya, ia berniat untuk menata barang-barangnya malam ini. Yang sebelumnya dilarang oleh orang tuanya. Tetapi, Fira nekat untuk menata barang-barang itu malam ini. Lagi pula, besok kan libur. Tak apa kalau aku tidur larut malam. Batin Fira.
Fira membuka kotak kardusnya.Ia megambil koleksi bukunya, Lalu menatanya di rak yang sudah disediakan. Ia menata lagi yang lainnya. Seperti; baju-baju, boneka, stiker, mainan, tissue, dan lain-lain.
Hingga pukul setengah sebelas malam, pekerjaan Fira baru selesai. Fira belum mengantuk. Ia sangat gembira atas kejutan kedua orang tuanya.

Aku harus tidur! kata Fira dalam hati. Akhirnya, Fira tidur. Fira tidur dengan lelap. Ia bermimpi, sedang bertemu Alice di Wonder Land.
**************
"Fira, yuk bangun! Udah pagi nih!" Mama mengguncangkan tubuh mengil Fira.
"Iya, Ma. Fira bangun." Fira melipat selimutnya. Lalu berlari ke kamar mandi untuk mandi tentunya.
Setelah mandi, Fira mencari baju yang pas untuk hari ini. Ia pun lari ke ruang makan. Untuk sarapan.

Mama telah menyiapkan roti bakar dengan mentega, telur mata sapi, daging goreng, dan susu sapi segar.
"Fira nanti mau berenang? Sekalian, cari teman baru." usul Papa tiba-tiba yang sedang mengunyah daging gorengnya.
"Mau, Papa! Fira mau! Nanti habis sarapan ya? Terus. Ini, Fira lagi perlu pulpen baru. Tiga buah. Untuk sekolah besok. Tinta pulpen Fira habis, Pa." Fira menambah telur mata sapi lagi.
"Oke, nanti setelah ke kolam renang, kita beli makanan dan kebutuhan kita di toko dekat apartemen ya?"
"ASYIK!" Fira pun menghabiskan sarapannya.

Lalu, Fira mengemas barang-barang yang diperlukan untuk berenang nanti. Ia memasukkannya ke ransel yang akan ia tenteng. Fira mengambil kaca matanya, lalu memakainya. Fira ingin mengucir rambutnya menjadi buntut kuda dengan karet rambut polkadot.


Fira membuntuti Papanya yang berjalan ke kolam renang. Mama juga ikut, tentunya. Sampai di kolam renang, Fira langsung mengganti bajunya, sedikit lari dan pemanasan, lalu langsung....
BYUR!!!! Fira segera berenang bolak-balik seperti ikan di akuarium. Fira memang pintar di bidang olahraga renang dan senam laintai.
Setelah agak capek, Fira duduk di tepi kolam. Ada seorang gadis sebaya Fira, mendekati Fira.
"Wow! Kau pintar renang ya? Itu hobimu?" tanya gadis itu.
"Iya. Aku sudah belajar renang sejak TK." jawab Fira. "Ngomong-ngomong, namamu siapa?"
"Eh iya, namaku Lolli. Namamu?" Lolli balas bertanya.
"Fira. Kamu di ruang nomor berapa. Kalau aku, di 302."
"Hah? Kau baru ya? Pantas aku tak pernah melihatmu. Aku di 305. Aku baru tiga bulan tinggal disini. Aku berenang sendiri. Maukah kau nanti kuajak ke rumahku?"
"Maksudmu, ruang apartemen nomor 305 milikmu?" Lolli mengangguk. Fira pun mengajak Lolli untuk berlomba berenang.
Ternyata, Lolli juga pintar berenang. Fira nyaris kalah, lho!

"Fyuhh.... Lolli! Aku capek, nih! Aku mau bilas, ganti baju, habis itu makan." Fira melepas kacamata renangnya.
"Aku ikut, ya? Yuk!" Lolli juga melepas kaca matanya.
Akhirnya, kedua teman baru itu berjalan ke ruang bilas.
**************
"Ma, Pa. Ini teman baru Fira. Namanya Lolli Asa Fendiana. Dipanggil Lolli." Fira memperkenalkan Lolli kepada orang tuanya di kafe.
"Oh, salam kenal Lolli! Kami orang tua Fira. Orang tua kamu mana?" tanya Papa Fira.
"Saya sendiri. orang tua saya ada acara pernikahan. Saya jaga rumah."
"Wah, kamu mandiri, ya! Tuh, Fira... Tirulah Lolli!" Mama menunjuk Lolli. Pipi Lolli bersemu merah karena malu.
"Papa! Mama! Nanti aku mau ke rumah Lolli. Boleh nggak?"
"Kamu nggak jadi beli alat tulis di toko?" Papa balas bertanya.
"Fira udah buatin daftar. Cuma sedikit, kok! Slurrppp.... ah... segar! Boleh ya, Pa? Kasihan Lolli. Sendirian..."

"Nggak usah lebay deh, Fir!" Lolli berbisik sambil menginjak kaki Fira. Fira meringis kesakitan.
"Boleh. Sana gih! Mama sama Papa harus cepat-cepat beli kebutuhan di toko."
"Oke, Ma! Yuk, Lolli!"

Lolli dan Fira masih di dalam lift. Tiba-tiba, muka Lolli pucat saat lift mulai naik ke lantai dua.
"Kamu kenapa?" tanya Fira cemas.
"Cuma... Heebbhhh... akhu chuma... khalau naikh lhift.... sukha khayak ghini... thenangg ajha..."
Sampai di lantai tiga, hanya beberapa menit saja, muka Lolli mulai segar. Fira lega melihatnya.
"Yuk masuk. Ini rumahku. itu kamarku." Lolli membuka pintu.
Beberapa detik saja, mulut Fira terbuka lebar. Sampai air liurnya menetes di karpet kamar Lolli.
"KAMU JOROK, FIR!" teriak Lolli kesal sambil mengelap karpetnya.
"Huupp!!! Sori, ya. Cuma.... kamarmu penuh dengan BONEKA! Itu mainan yang paling kusukai."
"Sebenarnya aku tak suka boneka. Ini kado, hadiah, bingkisan... sebenarnya aku suka permainan anak umum. Seperti ular tangga, monopoli, catur, basket, menggambar, komputer, browsing... semacam ITU!"
"Aku tak menyangka... tapi aku suka sekali dengan permainan MONOPOLI! yuk kita main. Aku ingin membeli Korea Utara, Amerika, Afrika, Jepang...."
*************
"Tunggu sebentar, Fir. Kamu lanjutkan saja bagianmu. Tapi jangan curang." Lolli berjalan menuju ruang tengah.
"Oke. Aku nggak bakal curang, kok." Fira mengocok dadunya.

Lolli di ruang tengah menelepon beberapa anak apartemen yang sudah kenal dekat dengan dirinya. Satu jam kemudian, anak-anak yang ditelepon Lolli datang.
"Hai, Lolli. Apa yang akan kamu tunjukkan pada kami?" tanya seorang anak.
"Tunggu sajalah. Masuk yuk!" Lolli mengajak tujuh anak perempuan sekaligus masuk ke kamarnya.
"FIRA! Mau nambah teman nggak?" Lolli mengagetkan Fira yang sedang duduk membaca komik.
"Hei, aku Lina."
"Vera."
"Karin, aku bisa meramal lho!!!"
"Lola."
"Katherine, dari Inggris."
"Mako, dari Jepang. Konichiwa! Kamu suka nyanyi, nggak?"
"Lita. Hai, apa kabar?"

"Aku Fira, teman-teman baruku. Aku baru dua hari di apartemen ini. terima kasih mau jadi temanku."
"Berterima kasihlah pada Lolli. Kalian main apa? Monopoli? Nggak seru! Gimana kalo kita main petak umpet di halaman?" usul Vera.
"YA!!!" ucap seluruh anak dari kamar Lolli. Mereka semua keluar dari kamar Lolli. Lalu turun ke halaman.

"Lolli, mau jadi sahabatku nggak?" Fira menggandeng tangan Lolli saat berlari bersama. Mencari tempat persembunyian.
"Tentu saja," Lolli tersenyum manis. Semanis permen LOLIPOP yang disukai Fira.


Alhamdulillah....

Pagi Jum'at yang dingin.... Brrr.... aku membungkus badanku dengan selimut tebal di kamar. Untung tadi malam aku tidak menyalakan kipas angin. Walaupun saat itu panas sekali. Karena, aku punya firasat. Di pagi hari akan dingin sekali. Ternyata firasatku benar.
Aku menyalakan musik lewat handphone, sambil membaca buku. Aku baru ingat. Hari ini adalah hari pengambilan raport di sekolahku. Aduh.... aku dapet rangking nggak ya? Takut nih..... Tapi kalau diinget-inget nih.... Nilai ulanganku bagus kok! (gak semua sih...)

Pukul setengah enam, aku keluar dari kamar. Hih... di luar kamar lebih dingin. Aku masuk kamar lagi dan menutup pintu dengan pelan. Kupakai jaket tebal kesayanganku. Aku mengganti celana pendekku dengan yang panjang. Setelah itu, aku keluar kamar. Aku ke kamar kecil, minum air, lalu menonton teve.
Tak lamu kemudian, Ar dan Ir datang. Lalu tiduran di sampingku duduk. Mereka, tidur lagi.

Langsung aja deh...
Nggak usah pake basa-basi yang nggak perlu!

Bapak siap-siap berangkat mengambil rapot. Itu pukul setengah delapan kurang. Aku ingin ikut ke sekolah. Tapi dilarang. Akhirnya, aku menunggu di rumah. Sambil menyalakan teve (lagi), aku sarapan telur dadar dan nasi yang masih hangat. Sedap deh!
Tiba-tiba.... ibuku memanggil dari kamar. "Ada SMS! Dari Bapak!" Aku turun ke kamarku. Tapi ibu bilang, ada di hapenya ibu. Lalu aku membaca. Isinya: Rangking 10
"Ini aku, atau Ar-Ir bu?" tanyaku kaget.
"Gak kok. Ini kamu." air mataku menetes. Beneran. Piring sarapanku yang belum habis, kubawa ke kamar. IBu masih berteriak dan menghiburku. Tapi....

Aku nggak mungkin dapet rangking 10! Nggak mungkin! Ini pasti mimpi! Aku nggak percaya! Nilai-nilaiku nggak sejelek untuk rangking 10!!!!!! NGGAKKK!!!! Di dalam hati, aku terus memikirkan hal itu. Sarapan tak kusentuh lagi. Aku menangis keras, histeris, dan berteriak sepuas-puasnya.

Tapi, setelah agak lega, aku jadi lapar. Akhirnya, aku memakan sarapanku itu. Tak sampai lima menit, aku langsung keluar kamar. Setelah mencuci piring, ibu memanggilku lagi. Katanya, ada telepon dari Bapak. Huh.... tentang rangking itu lagi??? Padahal, aku sudah berusaha untuk melupakannya. HUH!

Bapak: Kenapa Mbak Ibit nangis?
Aku: Lha, aku dapet rangking sepuluh....
Bapak: Siapa yang bilang rangking sepuluh?
Aku: Bapak. Bapak tadi SMS dan bilang aku rangking sepuluh.
Bapak: Nggak.
Aku: terus?
Bapak: Mbak Ibit itu, dapat rangking SATU!
Aku: ....
Aku: Ya Allah! Alhamdulillah.... Aku rangking SATU! Aku rangking SATU!!!!
Bapak: Iya, iya.... Selamat ya... Maaf, tadi mau mencet "titik", malah "0"
Aku: Iya...
Bapak: Ya udah, bapak ambil rapot Ar-Ir dulu ya?
Aku: Iya, Asslamualaikum...
Bapak: Wa'alaikum sallam....

Dan begitulah, aku mencurahkan isi hatiku pada memoku saat sedih mendapat rangking sepuluh, dan gembira saat mendapat rangking SATU....!!!!!!!!!!!!

Rabu, 16 Juni 2010

Tinggal di RUMAH SUSUN???!!!! (boongan)

"Fira, sayang! Ayo, kita mau berangkat. Sudah kamu bawa kopermu?" Mama memanggil Fira yang masih ngambek di kamarnya.
"Kenapa kita malah jadi tinggal di RUMAH SUSUN, Ma? Disana bau, sempit, kotor.... kenapa kita nggak ngontrak rumah yang lebih baik aja? Kenapa nggak Papa aja yang kesana, terus kalau malam minggu Papa kesini? Fira nggak mau tinggal di RUMAH SUSUN!!!!" teriak Fira kencang.
"Aduh-aduh Fira... nanti kalau rumah ini laku, kita cari rumah ya? Kalau nggak ada, kita terpaksa di rumah susun. Ini untuk sementara kok. Papa kan pindah kerja kesana. Kita harus ikut dong... Kalau rumah ini dibeli, baru deh kita cari...."
"Rumah yang lebih baik, bagus, bersih, luas... dari pada di RUMAH SUSUN!!!!!" potong Fira. Fira menyambar koper merah jambunya dan meletakkannya ke bagasi mobil dengan keras. Ia masuk ke tempat duduk di depan.

"Mau minum, Sayang? Nih, Mama beli Royal Tea kesukaanmu. Sama biskuit gandum." sambil menyetir, Mama mengambil sebuah botol dan plastik kecil beriwsi biskuit.
"Trims, Ma." dengan wajah dongkol, Fira meminum royal tea, dan memakan biskuit gandumnya. Selama beberapa menit, hati Fira jadi agak dingin.
"Maap ya, Ma. Fira kaget aja kita harus tinggal di rumah susun. itu aja." ujar Fira.
"Nggak papa. Lagian, lamu pasti bakal kaget kalo melihat rumah susun itu." Mama menyengir dan menyalakan radio. Fira jadi heran.

Mama membelokkan mobil ke kiri. Fira jadi bingung. Perasaan, rumah susun yang di sini itu.... kalo nggak salah di kanan, dekat pasar. Kok malah kesini ya Aku belum pernah lewat sini. Apa rumah susunnya bagus, bersih, luas? Penasaraaannn!!!!! Batin Fira sambil memukul-mukul pahanya.
"Kenapa, honey?? Minum royal tea-nya dong. Biar kamu adem ayem, dan nggak pusing tujuh keliling." usul Mama. Fira meminum royal tea-nya lagi. Beberapa menit.... pikirannya dingin juga....
"Tidur dulu sayang. Tempatnya masih jauh." Mama menutup mata Fira dengan tangan.
"Ya udah.... aku tidur ya, Ma?" Mama mengangguk.

Dua jam telah berlalu.....
"Honey, yuk turun! Kita udah sampe nih... sebelumnya, kamu pake penutup mata ini dulu ya?" Mama memasangkan penutup mata di mata Fira.
"Uh... Mama! Penasaran nich!" Mama hanya tersenyum. Tapi tak dilihat oleh Fira.
"Kopernya, biar Mama yang bawa." Mama membuka bagasi. Terdengar suaranya.
"Lho? Tapi kan... Mama bawa... Terus itu... Anu.... lho kok??" Fira tambah bingung. Dia jadi linglung memikirkan semuanya.
"Oke! Kamu pegang tangan Mama yang ini ya? Kamu jalan ikutin Mama aja. Dan... ssssttt!!!! Jangan bicara sepatah kata pun. Oke?" Fira mengangguk.

Mama sebenarnya tidak membawa koper. Tapi Papa. Tapi itu kejutan untuk Fira. Nanti....

"Ok, Fira! Kamu boleh buka penutup matanya!!!!"
Fira membuka penutup mata.... dan ia melihat sebuah ruangan luas... mewah... bagus.... bersih.....
"Mama... ini RUMAH SUSUN-nya???!!!!!!!!!!! Bohong ah!!!!" Fira berlari bolak-balik melihat sana-sini.
"Selamat Ulang Tahun untuk Fira!!!!" Papa keluar dari persembunyiannya. Membawa kue tart besar dengan lilin berbentuk hello kitty membawa boneka bentuk angkan sebelas.
"Surprise for you!!! Fira, my honey!!!!" Mama membawa kotak kado besar lalu memeluk Fira dengan erat.

"Fira, kita bukan di RUMAH SUSUN. Tapi di... APARTEMEN!!!!" seketika, mulut Fira menganga lebar.
"Itu kado untuk kamu, tapi... itu karena Papa kerja disini juga. Sebenarnya, Papa bukan di kota sebelah. Papa bohong. Maaf ya.... Sekarang tiup lilinnya dong..." Papa menyodorkan kue tart ke depan Fira. Fira meniup lilinnya.
"YEEI!!!!" seru Mama dan Papa.
"Nih, kado dari Mama...." Mama menyerahkan kotak besar yang dibawa Mama tadi. Fira membukanya dan....
Isinya KOTAK!!! Bukan kotak biasa. Saat dibuka, hhmmm.... terdengar suara alunan musik yang merdu.

"Trims, Mama! Trims, Papa!" Fira memeluk Mama-Papanya. Mencium kedua pipi orang tuanya.
"Ayo, kita rayakan dengan royal tea, and biscuit!!!!!" Mama membawa nampan. Dengan tiga cangkir royal tea ang yummy biscuit! Hhhmmm...
"Happy Brithday To You!!!!"
Mulut Fira terbuka lebar (senyum).


Jumat, 11 Juni 2010

Titanic

Aku melihat... di youtube.....
Tragedi.... kapal yang.... menabrak gunung es....
Orang-orang.... tenggelam di.... lautan... bersuhu dibawah nol derajat.....
Betapa dinginnya.... saat itu.....

Kisah nyata.... yang dibuat film...
yang bisa... membuat orang... yang menontonnya.... menjadi menangis... deras....

Berawal dari ibuku yang menyuting aku saat membawakan lagu TITANIC dengan piano. Ibu memasukkannya ke facebook. Lalu, aku meminta ibuku untuk mendownload MP3 lagu TITANIC itu....
Ibuku, membuka youtube dan situs untuk mendownload MP3. Di youtube, ibu membuka lagu TITANIC yang berselang-seling. Lagu dan filmnya. Saat lagu itu selesai... ibuku berkata: "Hah... kapalnya nabrak es!" aku dan adikku yang sedang makan lalu ke kamar ibu, dan meminta ibu untuk mengulanginya.

Aku kaget.... jantungku berdegup kencang.... melihat kapal patah... yang patahannya itu menarik seluruh badan kapal.... ke dasar laut.....
Ada ibu yang memeluk keempat anaknya.... tidak menyelamatkan diri.... pasrah begitu saja... mati tenggelam di kapal itu.... ada juga sepasang suami-istri.... yang terbangun karena suara air yang deras.... tapi mereka... tidur kembali.... pasrah mati di situ.... dengan keadaan tidur....

Orang-orang yang... tenggelam.... banyak yang mengorbankan nyawanya.... untuk menyelamatkan orang lain... sungguh.....

TITANIC

Usap air matamu

Matahari hatiku telah terbenam...
Ku teringat akan kepergianmu
Aku berjalan perlahan-lahan
Menuju tujuan ini

Aku ingat-ingat
Masa lalu bahagia
Milik kita, bersama
Kutatap wajahmu, tuk terakhir kalinya
Kupeluk erat tubuhmu.....

Senyuman manismu, tak akan kulupakan

Usap air matamu, berhentilah menangis
Berdoalah saja, kita bisa bertemu lagi

Pelangiku, berjuta warna
Bintang-bintang beribu cahaya
Kita bersama, di antaranya....

Berdoalah saja.....
Kita bisa, bertemu lagi sahabatku....

NB:
bersama sama dengan sahabatku banyak (geng)
ini juga udah kubikin lagu lho!

Big family of cat


Kurang Popo, nih... (mana mau dia kalo ada Pon?!)

Jumat, 23 April 2010

Boneka buatan Sarti

"Gggrr...!!!!! Bosannya minta ampyuuunn...!!!!!!" Sarti menendang-nendang angin. Ia sedang berbaring di kasurnya.
"Mama juga, ke Jakarta ikut seminar. Papa, belum pulang kerja. Bi Asih, pulang kampung, anaknya sakit. Kak Fendi, baru pulang nanti malem dari kampus. Bosen-bosen-bosen.....!!!!!!!!!" Sari memukul-mukul dinding kamarnya.

Sarti keluar dari kamarnya dan menggerutu di ruang tengah. KRUYUK! Perut Sarti tiba-tiba berbunyi. "Masak mi, ah." Sarti ke dapur dan memasak mi instan sendirian. Ia menambahkan sedikit sambal di mangkuknya. Dan, walla! Mi buatan Sarti untuk sarti sudah siap! Sarti membawa mangkuk mi-nya ke ruang makan.

"Selamat makan, Sarti." Sarti mengambil garpu dan memakan mi dengan nikmat. Hawa yang dingin, ditembus oleh kuah mi yang hangat. Sarti dengan lahap memakai mi-nya. Saat mi sudah habis, Sarti mencuci piringnya.
"Home alone...." gumam Sarti saat mencuci piring. Selesai mencuci piring, Sarti masuk ke kamarnya.

"Makanan untuk keadaan daruratku. Oke, sebaiknya keripik kentang saja. Mungkin nanti sore, Papa membawa makanan untuk makan malam. Ini adalah keadaan darurat. Perutku masih minta diisi, tapi sudah tidak ada makanan. Dan mungkin, soda? Yap. Sudah lengkap. Saatnya menonton teve." Sarti menutup laci makanan darurat. Lalu berjalan ke ruang tengah dan menyalakan teve.

Sambil memakan keripik kentang dan meminum soda, tiba-tiba mata Sarti teralih ke benang wol yang bertumpuk-tumpuk di kamar Kak Fendi. Sarti mendekati benang wol yang sebukit semut itu. Sisa benang wol sebanyak ini, berarti benang wol yang asli masih banyak! Pikir Sarti. Sarti mematikan teve dan menelepon Kak Fendi.
"Halo, ada apa Sarti? Kakak sedang kuliah."
"Kak, sisa benang wol yang ada di kamar kakak, boleh Sarti ambil?"
"Ambil saja, Kakak juga bingung mau diapakan sisa benang wolnya. Pendek-pendek sih! Nggak bisa dipake deh."
"Boleh, kak? Terima kasih. Asslamualaikum."
"Wa'alaikum sallam."
Klik! Sarti menutup telepon. Sarti mengambil semua sisa-sisa benang wol itu dan membawanya ke kamar. Ia buang dulu bungkus keripik kentang dan minuman sodanya yang telah habis.

Di kamar, Sarti mengunci pintu dari dalam. Ia memandang wol yang kini bertumpuk di samping meja belajarnya. Sarti kebingungan. "Mau kuapakan ya? Aku tadi cuma menuruti perintah hatiku! Tunggu, berpikir! Pasti benang wol ini bisa dibuat sesuatu." Sarti berputar-putar menglilingi tumpukan benang wol. "Kain perca punya Mama! Ya, aku perlu itu!" Sarti membuka kunci pintu kamar, dan berlari ke kamar Mama. Ia mengorak-arik sebuah kotak yang dipenuhi kain perca. "Ah, tak ada gunanya memilih. Banyak sekali kainnya. Sebaiknya langsung kubawa!"Sarti mengangkat kotak itu dan diletakkan di kamarnya.

Sarti sudah menyiapan mata boneka, spidol, gunting, lem UHU, dan alat menjahit. Sekarang, Sarti sedang duduk sambil meminum air dingin. Lalu, Sarti mengambil satu kain perca yang lebar, dan segenggam benang wol sisaan. Kainnya dibentuk mangkok di tangan kanan. Benang wolpun dimasukkan ke mangkuk kain perca. Setelah itu, sisa mengkuk kain yang masih panjang, digunakan untuk membungkus. Pelan-pelan, Sarti menjahit bungkusan itu. Lalu, Sarti menempelkan mata boneka dan seutas benang wol yang dibentuk menjadi bibir tersenyum dengan lem UHU. Sarti mengambil spidol dan menggambar baju di boneka wol bungkus. Setelah itu, Sarti menggunting beberapa kain perca dan ditempelkan di boneka wol bungkus yang sudah ada pola bajunya. Tinggal di tempel.
"Nah, Boneka Wol Bungkus buatan Sarti sudah selesai...!!!!" Sarti membuat lebih banyak boneka Wol Bungkus. Sampai-sampai, sisa wol habis. Seperempat kain perca ibu digunting-gunting untuk baju Boneka Wol Bungkus.

Puas dengan Boneka Wol Bungkus buatannya, Sarti meletakkan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus di ruang tamu. Bersamaan dengan itu, Papa pulang dan melihat ke arah Boneka Wol Bungkus.
"Wow, sayang. Itu boneka yang bagus sekali! Harganya memangnya murah, sampai kau beli dua puluh satu sebegini banyaknya?" Papa menepuk pundak Sarti.
"Papa, ini semuanya buatan Sarti! Namanya Benoka Wol Bungkus. Sisaan benang wol di kamar Kak Fendi dibungkus dengan kain perca Mama, lalu dijahit. Dan ditempeli mata boneka serta bibir tersenyum dari seutas wol. Satu lagi, bajunya juga dari kain perca milik Mama!"
GREK! Saat penjelasan Sarti selesai, pintu terbuka. Kak Fendi!
"Apa yang kau lakukan pada sisaan benang wol milik Kak Fendi, Sarti?" tanyanya.
"Membuat Boneka Wol Bungkus! Ini, bagus kan? Aku buat banyak sekali! yang ini keluarga kita. Ini aku, ini Kak Fendi, ini Mama, yang ini Papa. Yang disampingku ini, Bi Asih! Papa ambil Boneka Wol Bungkus Papa dan Mama. Taruh di kamar saja! Kak Fendi juga, Aku akan meletakkan Boneka wol Bungkus Bi Asih di kamarnya!" Sarti mengambil Boneka Wol Bungkus miliknya dan Bi Asih. Boneka Bi Asih diletakkan di meja kecil yang sering untuk tempat mukena dan Al-qur'an. Milik Sarti diletakkan di meja belajar.

Sarti dan Kak Fendi diajak makan malam diluar bersama Papa. Katanya untuk merayakan dua puluh satu Boneka Wol Bungkus buatan Sarti. Saat dibilangin seperti itu, wajah Sarti bersemu merah dan dia hanya meringis kesenangan.