Massy yang duduk di kursi belakang, memencet tombol merah di dekat sabuk pengaman. Keluarlah televisi, remote, DVD, laptop, dan empat buah ear speaker. Massy menyalakan televisinya. Ia bersihkan semua debunya dengan sulak.
Setelah bersih, ia nyalakan laptopnya. "Dimana letak perburuan hantu kita?" tanya Massy.
"Rumah Bu Looley, Melly-mow," jawabku sambil menyetir. Aku memutar tombol lampu ke kanan. Agar lebih besar cahayanya. Memang, malam ini gelap sekali. Bulan tak muncul di langit. Kurasa, sekarang sedang mendung.
"Sekarang pukul berapa?" tanya Massy lagi.
"Corell, bagianmu. Aku sedang serius menyetir. Aku tak bisa melihat arlojiku," bisikku pada Corell. Tatapan mataku tetap ke arah depan.
"Sekarang pukul setengah dua belas malam, Massy," jawabnya.
"Okey. -Miss Looley home...........Melly-mow- Enter," gumam Massy sambil mengetik di laptop. "Menurut informasi laptop GM-3000 milikku, rumah Bo Looley ada lima macam hantu disana. Tak ada yang tahu nama hantunya. Karena Ghost Monitorku saja tidak bisa melacaknya. Dan informasinya, hantu di rumah Bo Looley sangat kuat. Jahil, dan pengganggu. Jam kelemahan mereka, di pagi hari. tetapi mereka tidak suka menampakkan diri. Tetapi, mereka akan lemah pada malam tanggal lima. Sedangkan sekarang tanggal 28," jelas Massy.
"Sekarang jauh dari tanggal lima. Dan setengah jam lagi akan tanggal 29!" tambahku.
"Kenapa kita tidak menunggu bulan depan saja? Tanggal lima!" usul Corell.
"Tak bisa, Corell. Bu Looley bilang, karena lima hantu itu, kakaknya meninggal. Karena dijahili salah satu hantu. Kalau menunggu bulan depan, bisa saja sudah ada korban baru. Apakah kita haru membiarkan satu korban tewas dijahili hantu, he?" aku menolak. "Nah, rumah Bu Looley tak jauh dari sini. Kita sudah mulai memasuki wilayah Melly-mow. Massy, aktifkan ear speaker. Masukkan flashdisk nomor 38 ini ke laptop, sambungkan kabel laptop ke teve. Dan.... kita sampai," aku memarkir mobil hantu di depan rumah Bu Looley.
Bu Looley dan keluarganya sudah duduk di taman depan mereka. Seorang gadis yang berumur sepuluh tahun, langsung memeluk Corell.
"Tolong kami.... tolong kami.... tolong kami.... huhuhu.... hantu-hantu itu, menguasai rumah kami..... jimat yang kami beli tidak berfungsi lagi..... tolong..... kami tak ingin ada korban yang tewas lagi..... tolong......" gadis itu merengek sambil memeluk kaki Corell.
"Baiklah. Bu Looley! Boleh saya wawancara anda sebentar?" tanya Massy.
"Ya... tentu saja," jawab Bu Looley lemah.
"Kalian hibur mereka dulu. Aku akan kembali," bisik Massy. "Sebaiknya kita di dalam mobil saja, Bu Looley," Massy membuka pintu mobil hantu. Bu Looley dan Massy masuk ke dalam. Dan pintu pun dikunci.
"Kenapa aku tak boleh ikut dengan Mama?" tanya seorang balita. Mungkin akan Bu Looley, batinku.
"Ini rahasia. Nah, sambil menunggu, bagaimana kita bermain sebentar?" ajak Corell ramah. Dia memang suka anak-anak.
Setelah wawancara, Bu Looley mengajak keempat anaknya dan suaminya untuk duduk dahulu. Aku, Massy, dan Corell berdiskusi.
"Bagaimana?" tanya Corell tak sabar.
"Bu Looley menjelaskan panjang lebar. Dan penjelasannya persis seperti di GM-3000 punyaku ini," Massy mengetik di laptopnya. "tapi, Bu Looley sekilas pernah melihat sosok hantu itu. Katanya, hantu itu berwarna hitam. Seperti bayangan. Berkelebat cepat sekali di atap. Dan saat itu, Bu Looley diam seperti patung. Bicara saja, katanya susah. Padahal dia membawa jimat di kantung bajunya. Saat itu dia ada di dapur. Sedang membuat kopi untuk suaminya," jelas Massy sambil terus mengetik.
"Apa di rumah Bu Looley ada ruangan kosong?"
"Ada, Ellie! Katanya ruangan itiu bekas pembuatan keripik kentang. Lima tahun yang lalu, Bu Looley dan suaminya membuka pabrik keripik kentang. Ruangan itu sangat luas. Bu Looley lupas berapa luasnya. Karena tidak berani masuk ke situ. Katanya, kakaknya ditemukan tewas disitu. Sedang duduk di kursi goyang milik kakek buyut Bu Looley,"
"Kurasa, kita harus menyelidiki di dapur, loteng, atap, serambi atas, dan ruang pembuatan keripik kentang itu," tulis Corell.
"Ya, sekarang, ayo kita siap-siap," ajakku semangat. Aku segera menenteng tas peralatan. Senter, dan botol hantu kugantung di tas.
"Nah, ini ear speaker. Pakailah, aku menunggu disini. Keluarga Bu Looley akan kuajak. Kalian akan kuawasi. Flashdiskmu sudah kuisi lewat GM-3000. Siap?" Massy menyerahkan dua ear speaker. Dia sudah memakai ear speaker.
Kupakai ear speaker, dan aku keluar bersama Corell. "Good luck, Girls!" ucap Massy.
Aku meminta kunci rumah Bu Looley. Dan Bu Looley menyerahkannya. "Anda dan keluarga ditunggu di mobil. Kami berjanji, hantu-hantu itu tidak akan berani kembali kesini," janji Corell sambil mengantungi kunci.
"Terima kasih. Ayo anak-anak! JOHN! Kita harus masuk ke mobil!" Bu Looley memanggil suaminya.
Aku dan Corell menarik nafas panjang. Corell memasukkan kunci ke lubang kunci. Ia memutarnya. Dan kudorong pintunya. KRRIIEK..... suara pintu berderit. Aku masuk. Begitu juga Corell. Pintu ditutup, dan dikunci lagi. Kunci langsung disimpan didalam tas.
"Hei! Apakah kalian sudah masuk ke dalam rumah?" Massy berkata melalui Ear Speaker. Suaranya masuk ke Ear Speaker-ku dan Corell.
"Ya, kami sudah ada di dalam rumah ini. Biasa saja. Kami sedang mencari tombol lampu. Kami akan mematikan lampu dan menyalakan senter," jawabku lirih.
"Bagus! Karrena menurut GM-3000, kelima hantu itu markasnya ada di tempat-tempat yang kau sebutkan tadi. Mereka senang berkeliaran di ruang pembuatan keripik kentang. Tombol lampu ada di samping kiri pintu. 30 langkah,"
"Oke, sudah kutemukan. Nah, dimana letak dapurnya?" tanya Corell. Kunyalakan senterku.
"Di tingkat atas. Kau lihat ada tiga pintu? Itu kamar anak-anak Bu Looley. Ada dapur setelah pintu ketiga dari kiri," Jelas Massy.
"Oke, kami ke atas. Kami sudah melihat ketiga pintu kamar yang kau bilang tadi, Massy," kata Corell.
Aku dan Corell segera naik ke tingkat dua. Kami berjalan di tangga yang berputar. Dan akhirnya, sampai di tingkat dua. Kami segera berjalan ke dapur. Melewati ketiga kamar anak-anak Bu Looley. Sampai di depan pintu dapur, kami menyibak tirai yang mungkin itulah pintu dapur.
Dan kami masuk. Kami segera menyelidiki semua sisi dapur. Dan aku tak sengaja melihat ke atap. Ada bayangan yang berkelebat di atap. Kusenggol Corell yang masih asyik menyelidik. Saat Corell melihat ke atap, tubuhnya langsung jatuh. Dia pingsan. Sedangkan aku berdiri seperti patung. Aku tak bisa bicara pada Massy. Padahal Massy terus memanggilku dan Corell. Aku tak bisa menolong Corell. Aku hanya bisa diam menatap bayangan itu.
"Ellie!!!!!! Corell!!!!! JAWAB! JAWAB!"
Sabtu, 31 Juli 2010
Senin, 26 Juli 2010
Sang Pemburu Hantu (bagian satu)
Maddy menyiapkan alat berburu hantuku. Sekarang ia ada di loteng. Memakai masker, dan mencari peralatan itu. Sudah lama aku tak berburu hantu. Sekarang, banyak orang tak takut pada hantu. Sejak seseorang yang misterius datang untuk berdagang. Ia menjual jimat. Jimat anti hantu. Orang yang iseng membelinya, dan jimat itu benar-benar bekerja.
Dan sejak itu, aku tak memiliki pekerjaan lagi. Begitu juga ketiga temanku. Kami berempat, tinggal di penginapan. Gratis. Milik Maddy. Dia adalah teman kecilku. Sekarang, dia menjadi orang yang sukses. Kami berdua dulu sangat menyukai hantu. Tetapi sekarang, dia mengalihkan perhatiaanya pada penginapan. Semacam wallpaper, dekorasi, kursi, meja, makanan.... Bagiku, itu membosankan.
"Massy! Anna! Corell! Ada telepon. Oh... aku tak percaya! Kita akan berburu hantu lagi!" panggilku. Massy, Anna, dan Corell. Turun melewati tangga dengan terburu-buru.
"Wow! Sukar untuk dipercaya! Kita dapat panggilan!" sorak Corell.
"Aku kira, kita tidak akan dapat panggilan sejak orang itu menjual jimat anti h-a-n-t-u." eja Massy.
"Oh... senang sekali rasanya bisa memakai kostum pemburu hantu lagi." Anna berlari menuju lemari di gudang. Dan seketika, debu-debu yang ada di pintu gudang bertebaran dimana-mana.
"HHAATTTSSYYYIII....!!!!!!!!!!!!!!!!" Anna bersin. Keras sekali. Eh, tidak. Bukan sekali. Keras lima kali.
"Hatsyyiii!!!!! Hatsyyiii!!!!!" Anna bersin terus-menerus. Tanpa berhenti. Ingusnya meluncur dari hidung. Corell sudah mengambilkan satu kotak tissue. Yang berisi 150 lembar tissue. Dan aku tak percaya, Anna sudah hampir memakai setengahnya. Tissuenya ada dimana-mana. Bertebaran di lantai.
"Aku menyarankan, kau tak usah ikut dulu, Anna. Dan kebetulan, alat pemburu hantu milikmu rusak total. Penuh dengan debu, dan jaring laba-laba. Merasuk ke mesinnya. Dan botol hantumu... sekarang bisa jadi botol minuman. Ayolah, Anna, istirahatlah. Kau terlalu semangat hingga sekarang kau kena batunya. Padahal semangatmu itu harus kau simpan di petualangan nanti." kata Maddy menasehati.
"Mungkin kau benar. Kapan-kapan, aku akan lebih hati-hati lagi. Habis, kita sudah lama tak berburu hantu." Anna pun dituntun Maddy menuju ruang pengobatan miliknya.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ajak Corell. Aku dan Massy mengangguk semangat. Kami mengambil peralatan yang tadi diambil Maddy.
Selesai memakai peralatan, kau menggantung botol hantu di gantungan yang ada di tas pemburu hantu. Tiba-tiba, Maddy keluar daru ruang pengobatan. Ia mengangkat jempol kanannya, dan berkata; "Good luck!"
"Oke!" jawabku, Corell, dan Massy. Kami segera menyalakan mobil hantu. Aku masih sering memakainya untuk jalan-jalan. Jadi, mobil ini belum rusak sama sekali. Aku sudah menyalakan mesin mobil. Tetapi Massy belum masuk mobil.
"Dimana, Si Badung itu? Apa dia sedang membuat bekal lagi? Aduh! Jangan seperti tahun lalu lagi!" keluh Corell.
"Tenang saja, kurasa tidak." ucapku. Aku mengucapkan kata itu karena Massy menunjukkan spanduk yang ia buat sendiri, kalau tak salah. Tulisannya: "KAMI BEKERJA LAGI!" Massy menempelkannya di bagian samping mobil hantu. Corell langsung mendukung. Ia membantu menalikan tali spanduknya ke antena radio.
"Oke! Spanduk siap, kita semua..... SIAP! Come on!" Massy masuk dan menutup pintu. Kami pun berangkat.
Dan sejak itu, aku tak memiliki pekerjaan lagi. Begitu juga ketiga temanku. Kami berempat, tinggal di penginapan. Gratis. Milik Maddy. Dia adalah teman kecilku. Sekarang, dia menjadi orang yang sukses. Kami berdua dulu sangat menyukai hantu. Tetapi sekarang, dia mengalihkan perhatiaanya pada penginapan. Semacam wallpaper, dekorasi, kursi, meja, makanan.... Bagiku, itu membosankan.
"Massy! Anna! Corell! Ada telepon. Oh... aku tak percaya! Kita akan berburu hantu lagi!" panggilku. Massy, Anna, dan Corell. Turun melewati tangga dengan terburu-buru.
"Wow! Sukar untuk dipercaya! Kita dapat panggilan!" sorak Corell.
"Aku kira, kita tidak akan dapat panggilan sejak orang itu menjual jimat anti h-a-n-t-u." eja Massy.
"Oh... senang sekali rasanya bisa memakai kostum pemburu hantu lagi." Anna berlari menuju lemari di gudang. Dan seketika, debu-debu yang ada di pintu gudang bertebaran dimana-mana.
"HHAATTTSSYYYIII....!!!!!!!!!!!!!!!!" Anna bersin. Keras sekali. Eh, tidak. Bukan sekali. Keras lima kali.
"Hatsyyiii!!!!! Hatsyyiii!!!!!" Anna bersin terus-menerus. Tanpa berhenti. Ingusnya meluncur dari hidung. Corell sudah mengambilkan satu kotak tissue. Yang berisi 150 lembar tissue. Dan aku tak percaya, Anna sudah hampir memakai setengahnya. Tissuenya ada dimana-mana. Bertebaran di lantai.
"Aku menyarankan, kau tak usah ikut dulu, Anna. Dan kebetulan, alat pemburu hantu milikmu rusak total. Penuh dengan debu, dan jaring laba-laba. Merasuk ke mesinnya. Dan botol hantumu... sekarang bisa jadi botol minuman. Ayolah, Anna, istirahatlah. Kau terlalu semangat hingga sekarang kau kena batunya. Padahal semangatmu itu harus kau simpan di petualangan nanti." kata Maddy menasehati.
"Mungkin kau benar. Kapan-kapan, aku akan lebih hati-hati lagi. Habis, kita sudah lama tak berburu hantu." Anna pun dituntun Maddy menuju ruang pengobatan miliknya.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ajak Corell. Aku dan Massy mengangguk semangat. Kami mengambil peralatan yang tadi diambil Maddy.
Selesai memakai peralatan, kau menggantung botol hantu di gantungan yang ada di tas pemburu hantu. Tiba-tiba, Maddy keluar daru ruang pengobatan. Ia mengangkat jempol kanannya, dan berkata; "Good luck!"
"Oke!" jawabku, Corell, dan Massy. Kami segera menyalakan mobil hantu. Aku masih sering memakainya untuk jalan-jalan. Jadi, mobil ini belum rusak sama sekali. Aku sudah menyalakan mesin mobil. Tetapi Massy belum masuk mobil.
"Dimana, Si Badung itu? Apa dia sedang membuat bekal lagi? Aduh! Jangan seperti tahun lalu lagi!" keluh Corell.
"Tenang saja, kurasa tidak." ucapku. Aku mengucapkan kata itu karena Massy menunjukkan spanduk yang ia buat sendiri, kalau tak salah. Tulisannya: "KAMI BEKERJA LAGI!" Massy menempelkannya di bagian samping mobil hantu. Corell langsung mendukung. Ia membantu menalikan tali spanduknya ke antena radio.
"Oke! Spanduk siap, kita semua..... SIAP! Come on!" Massy masuk dan menutup pintu. Kami pun berangkat.
Jumat, 16 Juli 2010
Roti bakar buatan Fira
"Fir, kamu punya cemilan nggak? Aku laper nih! Habis lari-lari di taman." tanya Mako. Fira, Lolli, dan ketujuh teman barunya sedang ada di kamar Lolli.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.
"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.
"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.
"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.
"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.
Jumat, 18 Juni 2010
Teman baru, di Apartemen
"Selamat tidur, Honey..." Mama menyelimuti Fira dengan lembut. "Mimpi indah." Mama mematikan lampu, lalu menutup pintu dengan perlahan-lahan.
Fira pura-pura tidur. Sebenarnya, ia berniat untuk menata barang-barangnya malam ini. Yang sebelumnya dilarang oleh orang tuanya. Tetapi, Fira nekat untuk menata barang-barang itu malam ini. Lagi pula, besok kan libur. Tak apa kalau aku tidur larut malam. Batin Fira.
Fira membuka kotak kardusnya.Ia megambil koleksi bukunya, Lalu menatanya di rak yang sudah disediakan. Ia menata lagi yang lainnya. Seperti; baju-baju, boneka, stiker, mainan, tissue, dan lain-lain.
Hingga pukul setengah sebelas malam, pekerjaan Fira baru selesai. Fira belum mengantuk. Ia sangat gembira atas kejutan kedua orang tuanya.
Aku harus tidur! kata Fira dalam hati. Akhirnya, Fira tidur. Fira tidur dengan lelap. Ia bermimpi, sedang bertemu Alice di Wonder Land.
**************
"Fira, yuk bangun! Udah pagi nih!" Mama mengguncangkan tubuh mengil Fira.
"Iya, Ma. Fira bangun." Fira melipat selimutnya. Lalu berlari ke kamar mandi untuk mandi tentunya.
Setelah mandi, Fira mencari baju yang pas untuk hari ini. Ia pun lari ke ruang makan. Untuk sarapan.
Mama telah menyiapkan roti bakar dengan mentega, telur mata sapi, daging goreng, dan susu sapi segar.
"Fira nanti mau berenang? Sekalian, cari teman baru." usul Papa tiba-tiba yang sedang mengunyah daging gorengnya.
"Mau, Papa! Fira mau! Nanti habis sarapan ya? Terus. Ini, Fira lagi perlu pulpen baru. Tiga buah. Untuk sekolah besok. Tinta pulpen Fira habis, Pa." Fira menambah telur mata sapi lagi.
"Oke, nanti setelah ke kolam renang, kita beli makanan dan kebutuhan kita di toko dekat apartemen ya?"
"ASYIK!" Fira pun menghabiskan sarapannya.
Lalu, Fira mengemas barang-barang yang diperlukan untuk berenang nanti. Ia memasukkannya ke ransel yang akan ia tenteng. Fira mengambil kaca matanya, lalu memakainya. Fira ingin mengucir rambutnya menjadi buntut kuda dengan karet rambut polkadot.

Fira membuntuti Papanya yang berjalan ke kolam renang. Mama juga ikut, tentunya. Sampai di kolam renang, Fira langsung mengganti bajunya, sedikit lari dan pemanasan, lalu langsung....
BYUR!!!! Fira segera berenang bolak-balik seperti ikan di akuarium. Fira memang pintar di bidang olahraga renang dan senam laintai.
Setelah agak capek, Fira duduk di tepi kolam. Ada seorang gadis sebaya Fira, mendekati Fira.
"Wow! Kau pintar renang ya? Itu hobimu?" tanya gadis itu.
"Iya. Aku sudah belajar renang sejak TK." jawab Fira. "Ngomong-ngomong, namamu siapa?"
"Eh iya, namaku Lolli. Namamu?" Lolli balas bertanya.
"Fira. Kamu di ruang nomor berapa. Kalau aku, di 302."
"Hah? Kau baru ya? Pantas aku tak pernah melihatmu. Aku di 305. Aku baru tiga bulan tinggal disini. Aku berenang sendiri. Maukah kau nanti kuajak ke rumahku?"
"Maksudmu, ruang apartemen nomor 305 milikmu?" Lolli mengangguk. Fira pun mengajak Lolli untuk berlomba berenang.
Ternyata, Lolli juga pintar berenang. Fira nyaris kalah, lho!
"Fyuhh.... Lolli! Aku capek, nih! Aku mau bilas, ganti baju, habis itu makan." Fira melepas kacamata renangnya.
"Aku ikut, ya? Yuk!" Lolli juga melepas kaca matanya.
Akhirnya, kedua teman baru itu berjalan ke ruang bilas.
**************
"Ma, Pa. Ini teman baru Fira. Namanya Lolli Asa Fendiana. Dipanggil Lolli." Fira memperkenalkan Lolli kepada orang tuanya di kafe.
"Oh, salam kenal Lolli! Kami orang tua Fira. Orang tua kamu mana?" tanya Papa Fira.
"Saya sendiri. orang tua saya ada acara pernikahan. Saya jaga rumah."
"Wah, kamu mandiri, ya! Tuh, Fira... Tirulah Lolli!" Mama menunjuk Lolli. Pipi Lolli bersemu merah karena malu.
"Papa! Mama! Nanti aku mau ke rumah Lolli. Boleh nggak?"
"Kamu nggak jadi beli alat tulis di toko?" Papa balas bertanya.
"Fira udah buatin daftar. Cuma sedikit, kok! Slurrppp.... ah... segar! Boleh ya, Pa? Kasihan Lolli. Sendirian..."
"Nggak usah lebay deh, Fir!" Lolli berbisik sambil menginjak kaki Fira. Fira meringis kesakitan.
"Boleh. Sana gih! Mama sama Papa harus cepat-cepat beli kebutuhan di toko."
"Oke, Ma! Yuk, Lolli!"
Lolli dan Fira masih di dalam lift. Tiba-tiba, muka Lolli pucat saat lift mulai naik ke lantai dua.
"Kamu kenapa?" tanya Fira cemas.
"Cuma... Heebbhhh... akhu chuma... khalau naikh lhift.... sukha khayak ghini... thenangg ajha..."
Sampai di lantai tiga, hanya beberapa menit saja, muka Lolli mulai segar. Fira lega melihatnya.
"Yuk masuk. Ini rumahku. itu kamarku." Lolli membuka pintu.
Beberapa detik saja, mulut Fira terbuka lebar. Sampai air liurnya menetes di karpet kamar Lolli.
"KAMU JOROK, FIR!" teriak Lolli kesal sambil mengelap karpetnya.
"Huupp!!! Sori, ya. Cuma.... kamarmu penuh dengan BONEKA! Itu mainan yang paling kusukai."
"Sebenarnya aku tak suka boneka. Ini kado, hadiah, bingkisan... sebenarnya aku suka permainan anak umum. Seperti ular tangga, monopoli, catur, basket, menggambar, komputer, browsing... semacam ITU!"
"Aku tak menyangka... tapi aku suka sekali dengan permainan MONOPOLI! yuk kita main. Aku ingin membeli Korea Utara, Amerika, Afrika, Jepang...."
*************
"Tunggu sebentar, Fir. Kamu lanjutkan saja bagianmu. Tapi jangan curang." Lolli berjalan menuju ruang tengah.
"Oke. Aku nggak bakal curang, kok." Fira mengocok dadunya.
Lolli di ruang tengah menelepon beberapa anak apartemen yang sudah kenal dekat dengan dirinya. Satu jam kemudian, anak-anak yang ditelepon Lolli datang.
"Hai, Lolli. Apa yang akan kamu tunjukkan pada kami?" tanya seorang anak.
"Tunggu sajalah. Masuk yuk!" Lolli mengajak tujuh anak perempuan sekaligus masuk ke kamarnya.
"FIRA! Mau nambah teman nggak?" Lolli mengagetkan Fira yang sedang duduk membaca komik.
"Hei, aku Lina."
"Vera."
"Karin, aku bisa meramal lho!!!"
"Lola."
"Katherine, dari Inggris."
"Mako, dari Jepang. Konichiwa! Kamu suka nyanyi, nggak?"
"Lita. Hai, apa kabar?"
"Aku Fira, teman-teman baruku. Aku baru dua hari di apartemen ini. terima kasih mau jadi temanku."
"Berterima kasihlah pada Lolli. Kalian main apa? Monopoli? Nggak seru! Gimana kalo kita main petak umpet di halaman?" usul Vera.
"YA!!!" ucap seluruh anak dari kamar Lolli. Mereka semua keluar dari kamar Lolli. Lalu turun ke halaman.
"Lolli, mau jadi sahabatku nggak?" Fira menggandeng tangan Lolli saat berlari bersama. Mencari tempat persembunyian.
"Tentu saja," Lolli tersenyum manis. Semanis permen LOLIPOP yang disukai Fira.
Alhamdulillah....
Pagi Jum'at yang dingin.... Brrr.... aku membungkus badanku dengan selimut tebal di kamar. Untung tadi malam aku tidak menyalakan kipas angin. Walaupun saat itu panas sekali. Karena, aku punya firasat. Di pagi hari akan dingin sekali. Ternyata firasatku benar.
Aku menyalakan musik lewat handphone, sambil membaca buku. Aku baru ingat. Hari ini adalah hari pengambilan raport di sekolahku. Aduh.... aku dapet rangking nggak ya? Takut nih..... Tapi kalau diinget-inget nih.... Nilai ulanganku bagus kok! (gak semua sih...)
Pukul setengah enam, aku keluar dari kamar. Hih... di luar kamar lebih dingin. Aku masuk kamar lagi dan menutup pintu dengan pelan. Kupakai jaket tebal kesayanganku. Aku mengganti celana pendekku dengan yang panjang. Setelah itu, aku keluar kamar. Aku ke kamar kecil, minum air, lalu menonton teve.
Tak lamu kemudian, Ar dan Ir datang. Lalu tiduran di sampingku duduk. Mereka, tidur lagi.
Langsung aja deh...
Nggak usah pake basa-basi yang nggak perlu!
Bapak siap-siap berangkat mengambil rapot. Itu pukul setengah delapan kurang. Aku ingin ikut ke sekolah. Tapi dilarang. Akhirnya, aku menunggu di rumah. Sambil menyalakan teve (lagi), aku sarapan telur dadar dan nasi yang masih hangat. Sedap deh!
Tiba-tiba.... ibuku memanggil dari kamar. "Ada SMS! Dari Bapak!" Aku turun ke kamarku. Tapi ibu bilang, ada di hapenya ibu. Lalu aku membaca. Isinya: Rangking 10
"Ini aku, atau Ar-Ir bu?" tanyaku kaget.
"Gak kok. Ini kamu." air mataku menetes. Beneran. Piring sarapanku yang belum habis, kubawa ke kamar. IBu masih berteriak dan menghiburku. Tapi....
Aku nggak mungkin dapet rangking 10! Nggak mungkin! Ini pasti mimpi! Aku nggak percaya! Nilai-nilaiku nggak sejelek untuk rangking 10!!!!!! NGGAKKK!!!! Di dalam hati, aku terus memikirkan hal itu. Sarapan tak kusentuh lagi. Aku menangis keras, histeris, dan berteriak sepuas-puasnya.
Tapi, setelah agak lega, aku jadi lapar. Akhirnya, aku memakan sarapanku itu. Tak sampai lima menit, aku langsung keluar kamar. Setelah mencuci piring, ibu memanggilku lagi. Katanya, ada telepon dari Bapak. Huh.... tentang rangking itu lagi??? Padahal, aku sudah berusaha untuk melupakannya. HUH!
Bapak: Kenapa Mbak Ibit nangis?
Aku: Lha, aku dapet rangking sepuluh....
Bapak: Siapa yang bilang rangking sepuluh?
Aku: Bapak. Bapak tadi SMS dan bilang aku rangking sepuluh.
Bapak: Nggak.
Aku: terus?
Bapak: Mbak Ibit itu, dapat rangking SATU!
Aku: ....
Aku: Ya Allah! Alhamdulillah.... Aku rangking SATU! Aku rangking SATU!!!!
Bapak: Iya, iya.... Selamat ya... Maaf, tadi mau mencet "titik", malah "0"
Aku: Iya...
Bapak: Ya udah, bapak ambil rapot Ar-Ir dulu ya?
Aku: Iya, Asslamualaikum...
Bapak: Wa'alaikum sallam....
Dan begitulah, aku mencurahkan isi hatiku pada memoku saat sedih mendapat rangking sepuluh, dan gembira saat mendapat rangking SATU....!!!!!!!!!!!!
Aku menyalakan musik lewat handphone, sambil membaca buku. Aku baru ingat. Hari ini adalah hari pengambilan raport di sekolahku. Aduh.... aku dapet rangking nggak ya? Takut nih..... Tapi kalau diinget-inget nih.... Nilai ulanganku bagus kok! (gak semua sih...)
Pukul setengah enam, aku keluar dari kamar. Hih... di luar kamar lebih dingin. Aku masuk kamar lagi dan menutup pintu dengan pelan. Kupakai jaket tebal kesayanganku. Aku mengganti celana pendekku dengan yang panjang. Setelah itu, aku keluar kamar. Aku ke kamar kecil, minum air, lalu menonton teve.
Tak lamu kemudian, Ar dan Ir datang. Lalu tiduran di sampingku duduk. Mereka, tidur lagi.
Langsung aja deh...
Nggak usah pake basa-basi yang nggak perlu!
Bapak siap-siap berangkat mengambil rapot. Itu pukul setengah delapan kurang. Aku ingin ikut ke sekolah. Tapi dilarang. Akhirnya, aku menunggu di rumah. Sambil menyalakan teve (lagi), aku sarapan telur dadar dan nasi yang masih hangat. Sedap deh!
Tiba-tiba.... ibuku memanggil dari kamar. "Ada SMS! Dari Bapak!" Aku turun ke kamarku. Tapi ibu bilang, ada di hapenya ibu. Lalu aku membaca. Isinya: Rangking 10
"Ini aku, atau Ar-Ir bu?" tanyaku kaget.
"Gak kok. Ini kamu." air mataku menetes. Beneran. Piring sarapanku yang belum habis, kubawa ke kamar. IBu masih berteriak dan menghiburku. Tapi....
Aku nggak mungkin dapet rangking 10! Nggak mungkin! Ini pasti mimpi! Aku nggak percaya! Nilai-nilaiku nggak sejelek untuk rangking 10!!!!!! NGGAKKK!!!! Di dalam hati, aku terus memikirkan hal itu. Sarapan tak kusentuh lagi. Aku menangis keras, histeris, dan berteriak sepuas-puasnya.
Tapi, setelah agak lega, aku jadi lapar. Akhirnya, aku memakan sarapanku itu. Tak sampai lima menit, aku langsung keluar kamar. Setelah mencuci piring, ibu memanggilku lagi. Katanya, ada telepon dari Bapak. Huh.... tentang rangking itu lagi??? Padahal, aku sudah berusaha untuk melupakannya. HUH!
Bapak: Kenapa Mbak Ibit nangis?
Aku: Lha, aku dapet rangking sepuluh....
Bapak: Siapa yang bilang rangking sepuluh?
Aku: Bapak. Bapak tadi SMS dan bilang aku rangking sepuluh.
Bapak: Nggak.
Aku: terus?
Bapak: Mbak Ibit itu, dapat rangking SATU!
Aku: ....
Aku: Ya Allah! Alhamdulillah.... Aku rangking SATU! Aku rangking SATU!!!!
Bapak: Iya, iya.... Selamat ya... Maaf, tadi mau mencet "titik", malah "0"
Aku: Iya...
Bapak: Ya udah, bapak ambil rapot Ar-Ir dulu ya?
Aku: Iya, Asslamualaikum...
Bapak: Wa'alaikum sallam....
Dan begitulah, aku mencurahkan isi hatiku pada memoku saat sedih mendapat rangking sepuluh, dan gembira saat mendapat rangking SATU....!!!!!!!!!!!!
Rabu, 16 Juni 2010
Tinggal di RUMAH SUSUN???!!!! (boongan)
"Fira, sayang! Ayo, kita mau berangkat. Sudah kamu bawa kopermu?" Mama memanggil Fira yang masih ngambek di kamarnya.
"Kenapa kita malah jadi tinggal di RUMAH SUSUN, Ma? Disana bau, sempit, kotor.... kenapa kita nggak ngontrak rumah yang lebih baik aja? Kenapa nggak Papa aja yang kesana, terus kalau malam minggu Papa kesini? Fira nggak mau tinggal di RUMAH SUSUN!!!!" teriak Fira kencang.
"Aduh-aduh Fira... nanti kalau rumah ini laku, kita cari rumah ya? Kalau nggak ada, kita terpaksa di rumah susun. Ini untuk sementara kok. Papa kan pindah kerja kesana. Kita harus ikut dong... Kalau rumah ini dibeli, baru deh kita cari...."
"Rumah yang lebih baik, bagus, bersih, luas... dari pada di RUMAH SUSUN!!!!!" potong Fira. Fira menyambar koper merah jambunya dan meletakkannya ke bagasi mobil dengan keras. Ia masuk ke tempat duduk di depan.
"Mau minum, Sayang? Nih, Mama beli Royal Tea kesukaanmu. Sama biskuit gandum." sambil menyetir, Mama mengambil sebuah botol dan plastik kecil beriwsi biskuit.
"Trims, Ma." dengan wajah dongkol, Fira meminum royal tea, dan memakan biskuit gandumnya. Selama beberapa menit, hati Fira jadi agak dingin.
"Maap ya, Ma. Fira kaget aja kita harus tinggal di rumah susun. itu aja." ujar Fira.
"Nggak papa. Lagian, lamu pasti bakal kaget kalo melihat rumah susun itu." Mama menyengir dan menyalakan radio. Fira jadi heran.
Mama membelokkan mobil ke kiri. Fira jadi bingung. Perasaan, rumah susun yang di sini itu.... kalo nggak salah di kanan, dekat pasar. Kok malah kesini ya Aku belum pernah lewat sini. Apa rumah susunnya bagus, bersih, luas? Penasaraaannn!!!!! Batin Fira sambil memukul-mukul pahanya.
"Kenapa, honey?? Minum royal tea-nya dong. Biar kamu adem ayem, dan nggak pusing tujuh keliling." usul Mama. Fira meminum royal tea-nya lagi. Beberapa menit.... pikirannya dingin juga....
"Tidur dulu sayang. Tempatnya masih jauh." Mama menutup mata Fira dengan tangan.
"Ya udah.... aku tidur ya, Ma?" Mama mengangguk.
Dua jam telah berlalu.....
"Honey, yuk turun! Kita udah sampe nih... sebelumnya, kamu pake penutup mata ini dulu ya?" Mama memasangkan penutup mata di mata Fira.
"Uh... Mama! Penasaran nich!" Mama hanya tersenyum. Tapi tak dilihat oleh Fira.
"Kopernya, biar Mama yang bawa." Mama membuka bagasi. Terdengar suaranya.
"Lho? Tapi kan... Mama bawa... Terus itu... Anu.... lho kok??" Fira tambah bingung. Dia jadi linglung memikirkan semuanya.
"Oke! Kamu pegang tangan Mama yang ini ya? Kamu jalan ikutin Mama aja. Dan... ssssttt!!!! Jangan bicara sepatah kata pun. Oke?" Fira mengangguk.
Mama sebenarnya tidak membawa koper. Tapi Papa. Tapi itu kejutan untuk Fira. Nanti....
"Ok, Fira! Kamu boleh buka penutup matanya!!!!"
Fira membuka penutup mata.... dan ia melihat sebuah ruangan luas... mewah... bagus.... bersih.....
"Mama... ini RUMAH SUSUN-nya???!!!!!!!!!!! Bohong ah!!!!" Fira berlari bolak-balik melihat sana-sini.
"Selamat Ulang Tahun untuk Fira!!!!" Papa keluar dari persembunyiannya. Membawa kue tart besar dengan lilin berbentuk hello kitty membawa boneka bentuk angkan sebelas.
"Surprise for you!!! Fira, my honey!!!!" Mama membawa kotak kado besar lalu memeluk Fira dengan erat.
"Fira, kita bukan di RUMAH SUSUN. Tapi di... APARTEMEN!!!!" seketika, mulut Fira menganga lebar.
"Itu kado untuk kamu, tapi... itu karena Papa kerja disini juga. Sebenarnya, Papa bukan di kota sebelah. Papa bohong. Maaf ya.... Sekarang tiup lilinnya dong..." Papa menyodorkan kue tart ke depan Fira. Fira meniup lilinnya.
"YEEI!!!!" seru Mama dan Papa.
"Nih, kado dari Mama...." Mama menyerahkan kotak besar yang dibawa Mama tadi. Fira membukanya dan....
Isinya KOTAK!!! Bukan kotak biasa. Saat dibuka, hhmmm.... terdengar suara alunan musik yang merdu.
"Trims, Mama! Trims, Papa!" Fira memeluk Mama-Papanya. Mencium kedua pipi orang tuanya.
"Ayo, kita rayakan dengan royal tea, and biscuit!!!!!" Mama membawa nampan. Dengan tiga cangkir royal tea ang yummy biscuit! Hhhmmm...
"Happy Brithday To You!!!!"
Mulut Fira terbuka lebar (senyum).
"Kenapa kita malah jadi tinggal di RUMAH SUSUN, Ma? Disana bau, sempit, kotor.... kenapa kita nggak ngontrak rumah yang lebih baik aja? Kenapa nggak Papa aja yang kesana, terus kalau malam minggu Papa kesini? Fira nggak mau tinggal di RUMAH SUSUN!!!!" teriak Fira kencang.
"Aduh-aduh Fira... nanti kalau rumah ini laku, kita cari rumah ya? Kalau nggak ada, kita terpaksa di rumah susun. Ini untuk sementara kok. Papa kan pindah kerja kesana. Kita harus ikut dong... Kalau rumah ini dibeli, baru deh kita cari...."
"Rumah yang lebih baik, bagus, bersih, luas... dari pada di RUMAH SUSUN!!!!!" potong Fira. Fira menyambar koper merah jambunya dan meletakkannya ke bagasi mobil dengan keras. Ia masuk ke tempat duduk di depan.
"Mau minum, Sayang? Nih, Mama beli Royal Tea kesukaanmu. Sama biskuit gandum." sambil menyetir, Mama mengambil sebuah botol dan plastik kecil beriwsi biskuit.
"Trims, Ma." dengan wajah dongkol, Fira meminum royal tea, dan memakan biskuit gandumnya. Selama beberapa menit, hati Fira jadi agak dingin.
"Maap ya, Ma. Fira kaget aja kita harus tinggal di rumah susun. itu aja." ujar Fira.
"Nggak papa. Lagian, lamu pasti bakal kaget kalo melihat rumah susun itu." Mama menyengir dan menyalakan radio. Fira jadi heran.
Mama membelokkan mobil ke kiri. Fira jadi bingung. Perasaan, rumah susun yang di sini itu.... kalo nggak salah di kanan, dekat pasar. Kok malah kesini ya Aku belum pernah lewat sini. Apa rumah susunnya bagus, bersih, luas? Penasaraaannn!!!!! Batin Fira sambil memukul-mukul pahanya.
"Kenapa, honey?? Minum royal tea-nya dong. Biar kamu adem ayem, dan nggak pusing tujuh keliling." usul Mama. Fira meminum royal tea-nya lagi. Beberapa menit.... pikirannya dingin juga....
"Tidur dulu sayang. Tempatnya masih jauh." Mama menutup mata Fira dengan tangan.
"Ya udah.... aku tidur ya, Ma?" Mama mengangguk.
Dua jam telah berlalu.....
"Honey, yuk turun! Kita udah sampe nih... sebelumnya, kamu pake penutup mata ini dulu ya?" Mama memasangkan penutup mata di mata Fira.
"Uh... Mama! Penasaran nich!" Mama hanya tersenyum. Tapi tak dilihat oleh Fira.
"Kopernya, biar Mama yang bawa." Mama membuka bagasi. Terdengar suaranya.
"Lho? Tapi kan... Mama bawa... Terus itu... Anu.... lho kok??" Fira tambah bingung. Dia jadi linglung memikirkan semuanya.
"Oke! Kamu pegang tangan Mama yang ini ya? Kamu jalan ikutin Mama aja. Dan... ssssttt!!!! Jangan bicara sepatah kata pun. Oke?" Fira mengangguk.
Mama sebenarnya tidak membawa koper. Tapi Papa. Tapi itu kejutan untuk Fira. Nanti....
"Ok, Fira! Kamu boleh buka penutup matanya!!!!"
Fira membuka penutup mata.... dan ia melihat sebuah ruangan luas... mewah... bagus.... bersih.....
"Mama... ini RUMAH SUSUN-nya???!!!!!!!!!!! Bohong ah!!!!" Fira berlari bolak-balik melihat sana-sini.
"Selamat Ulang Tahun untuk Fira!!!!" Papa keluar dari persembunyiannya. Membawa kue tart besar dengan lilin berbentuk hello kitty membawa boneka bentuk angkan sebelas.
"Surprise for you!!! Fira, my honey!!!!" Mama membawa kotak kado besar lalu memeluk Fira dengan erat.
"Fira, kita bukan di RUMAH SUSUN. Tapi di... APARTEMEN!!!!" seketika, mulut Fira menganga lebar.
"Itu kado untuk kamu, tapi... itu karena Papa kerja disini juga. Sebenarnya, Papa bukan di kota sebelah. Papa bohong. Maaf ya.... Sekarang tiup lilinnya dong..." Papa menyodorkan kue tart ke depan Fira. Fira meniup lilinnya.
"YEEI!!!!" seru Mama dan Papa.
"Nih, kado dari Mama...." Mama menyerahkan kotak besar yang dibawa Mama tadi. Fira membukanya dan....
Isinya KOTAK!!! Bukan kotak biasa. Saat dibuka, hhmmm.... terdengar suara alunan musik yang merdu.
"Trims, Mama! Trims, Papa!" Fira memeluk Mama-Papanya. Mencium kedua pipi orang tuanya.
"Ayo, kita rayakan dengan royal tea, and biscuit!!!!!" Mama membawa nampan. Dengan tiga cangkir royal tea ang yummy biscuit! Hhhmmm...
"Happy Brithday To You!!!!"
Mulut Fira terbuka lebar (senyum).
Jumat, 11 Juni 2010
Titanic
Aku melihat... di youtube.....
Tragedi.... kapal yang.... menabrak gunung es....
Orang-orang.... tenggelam di.... lautan... bersuhu dibawah nol derajat.....
Betapa dinginnya.... saat itu.....
Kisah nyata.... yang dibuat film...
yang bisa... membuat orang... yang menontonnya.... menjadi menangis... deras....
Berawal dari ibuku yang menyuting aku saat membawakan lagu TITANIC dengan piano. Ibu memasukkannya ke facebook. Lalu, aku meminta ibuku untuk mendownload MP3 lagu TITANIC itu....
Ibuku, membuka youtube dan situs untuk mendownload MP3. Di youtube, ibu membuka lagu TITANIC yang berselang-seling. Lagu dan filmnya. Saat lagu itu selesai... ibuku berkata: "Hah... kapalnya nabrak es!" aku dan adikku yang sedang makan lalu ke kamar ibu, dan meminta ibu untuk mengulanginya.
Aku kaget.... jantungku berdegup kencang.... melihat kapal patah... yang patahannya itu menarik seluruh badan kapal.... ke dasar laut.....
Ada ibu yang memeluk keempat anaknya.... tidak menyelamatkan diri.... pasrah begitu saja... mati tenggelam di kapal itu.... ada juga sepasang suami-istri.... yang terbangun karena suara air yang deras.... tapi mereka... tidur kembali.... pasrah mati di situ.... dengan keadaan tidur....
Orang-orang yang... tenggelam.... banyak yang mengorbankan nyawanya.... untuk menyelamatkan orang lain... sungguh.....
TITANIC
Tragedi.... kapal yang.... menabrak gunung es....
Orang-orang.... tenggelam di.... lautan... bersuhu dibawah nol derajat.....
Betapa dinginnya.... saat itu.....
Kisah nyata.... yang dibuat film...
yang bisa... membuat orang... yang menontonnya.... menjadi menangis... deras....
Berawal dari ibuku yang menyuting aku saat membawakan lagu TITANIC dengan piano. Ibu memasukkannya ke facebook. Lalu, aku meminta ibuku untuk mendownload MP3 lagu TITANIC itu....
Ibuku, membuka youtube dan situs untuk mendownload MP3. Di youtube, ibu membuka lagu TITANIC yang berselang-seling. Lagu dan filmnya. Saat lagu itu selesai... ibuku berkata: "Hah... kapalnya nabrak es!" aku dan adikku yang sedang makan lalu ke kamar ibu, dan meminta ibu untuk mengulanginya.
Aku kaget.... jantungku berdegup kencang.... melihat kapal patah... yang patahannya itu menarik seluruh badan kapal.... ke dasar laut.....
Ada ibu yang memeluk keempat anaknya.... tidak menyelamatkan diri.... pasrah begitu saja... mati tenggelam di kapal itu.... ada juga sepasang suami-istri.... yang terbangun karena suara air yang deras.... tapi mereka... tidur kembali.... pasrah mati di situ.... dengan keadaan tidur....
Orang-orang yang... tenggelam.... banyak yang mengorbankan nyawanya.... untuk menyelamatkan orang lain... sungguh.....
TITANIC
Langganan:
Postingan (Atom)