Massy yang duduk di kursi belakang, memencet tombol merah di dekat sabuk pengaman. Keluarlah televisi, remote, DVD, laptop, dan empat buah ear speaker. Massy menyalakan televisinya. Ia bersihkan semua debunya dengan sulak.
Setelah bersih, ia nyalakan laptopnya. "Dimana letak perburuan hantu kita?" tanya Massy.
"Rumah Bu Looley, Melly-mow," jawabku sambil menyetir. Aku memutar tombol lampu ke kanan. Agar lebih besar cahayanya. Memang, malam ini gelap sekali. Bulan tak muncul di langit. Kurasa, sekarang sedang mendung.
"Sekarang pukul berapa?" tanya Massy lagi.
"Corell, bagianmu. Aku sedang serius menyetir. Aku tak bisa melihat arlojiku," bisikku pada Corell. Tatapan mataku tetap ke arah depan.
"Sekarang pukul setengah dua belas malam, Massy," jawabnya.
"Okey. -Miss Looley home...........Melly-mow- Enter," gumam Massy sambil mengetik di laptop. "Menurut informasi laptop GM-3000 milikku, rumah Bo Looley ada lima macam hantu disana. Tak ada yang tahu nama hantunya. Karena Ghost Monitorku saja tidak bisa melacaknya. Dan informasinya, hantu di rumah Bo Looley sangat kuat. Jahil, dan pengganggu. Jam kelemahan mereka, di pagi hari. tetapi mereka tidak suka menampakkan diri. Tetapi, mereka akan lemah pada malam tanggal lima. Sedangkan sekarang tanggal 28," jelas Massy.
"Sekarang jauh dari tanggal lima. Dan setengah jam lagi akan tanggal 29!" tambahku.
"Kenapa kita tidak menunggu bulan depan saja? Tanggal lima!" usul Corell.
"Tak bisa, Corell. Bu Looley bilang, karena lima hantu itu, kakaknya meninggal. Karena dijahili salah satu hantu. Kalau menunggu bulan depan, bisa saja sudah ada korban baru. Apakah kita haru membiarkan satu korban tewas dijahili hantu, he?" aku menolak. "Nah, rumah Bu Looley tak jauh dari sini. Kita sudah mulai memasuki wilayah Melly-mow. Massy, aktifkan ear speaker. Masukkan flashdisk nomor 38 ini ke laptop, sambungkan kabel laptop ke teve. Dan.... kita sampai," aku memarkir mobil hantu di depan rumah Bu Looley.
Bu Looley dan keluarganya sudah duduk di taman depan mereka. Seorang gadis yang berumur sepuluh tahun, langsung memeluk Corell.
"Tolong kami.... tolong kami.... tolong kami.... huhuhu.... hantu-hantu itu, menguasai rumah kami..... jimat yang kami beli tidak berfungsi lagi..... tolong..... kami tak ingin ada korban yang tewas lagi..... tolong......" gadis itu merengek sambil memeluk kaki Corell.
"Baiklah. Bu Looley! Boleh saya wawancara anda sebentar?" tanya Massy.
"Ya... tentu saja," jawab Bu Looley lemah.
"Kalian hibur mereka dulu. Aku akan kembali," bisik Massy. "Sebaiknya kita di dalam mobil saja, Bu Looley," Massy membuka pintu mobil hantu. Bu Looley dan Massy masuk ke dalam. Dan pintu pun dikunci.
"Kenapa aku tak boleh ikut dengan Mama?" tanya seorang balita. Mungkin akan Bu Looley, batinku.
"Ini rahasia. Nah, sambil menunggu, bagaimana kita bermain sebentar?" ajak Corell ramah. Dia memang suka anak-anak.
Setelah wawancara, Bu Looley mengajak keempat anaknya dan suaminya untuk duduk dahulu. Aku, Massy, dan Corell berdiskusi.
"Bagaimana?" tanya Corell tak sabar.
"Bu Looley menjelaskan panjang lebar. Dan penjelasannya persis seperti di GM-3000 punyaku ini," Massy mengetik di laptopnya. "tapi, Bu Looley sekilas pernah melihat sosok hantu itu. Katanya, hantu itu berwarna hitam. Seperti bayangan. Berkelebat cepat sekali di atap. Dan saat itu, Bu Looley diam seperti patung. Bicara saja, katanya susah. Padahal dia membawa jimat di kantung bajunya. Saat itu dia ada di dapur. Sedang membuat kopi untuk suaminya," jelas Massy sambil terus mengetik.
"Apa di rumah Bu Looley ada ruangan kosong?"
"Ada, Ellie! Katanya ruangan itiu bekas pembuatan keripik kentang. Lima tahun yang lalu, Bu Looley dan suaminya membuka pabrik keripik kentang. Ruangan itu sangat luas. Bu Looley lupas berapa luasnya. Karena tidak berani masuk ke situ. Katanya, kakaknya ditemukan tewas disitu. Sedang duduk di kursi goyang milik kakek buyut Bu Looley,"
"Kurasa, kita harus menyelidiki di dapur, loteng, atap, serambi atas, dan ruang pembuatan keripik kentang itu," tulis Corell.
"Ya, sekarang, ayo kita siap-siap," ajakku semangat. Aku segera menenteng tas peralatan. Senter, dan botol hantu kugantung di tas.
"Nah, ini ear speaker. Pakailah, aku menunggu disini. Keluarga Bu Looley akan kuajak. Kalian akan kuawasi. Flashdiskmu sudah kuisi lewat GM-3000. Siap?" Massy menyerahkan dua ear speaker. Dia sudah memakai ear speaker.
Kupakai ear speaker, dan aku keluar bersama Corell. "Good luck, Girls!" ucap Massy.
Aku meminta kunci rumah Bu Looley. Dan Bu Looley menyerahkannya. "Anda dan keluarga ditunggu di mobil. Kami berjanji, hantu-hantu itu tidak akan berani kembali kesini," janji Corell sambil mengantungi kunci.
"Terima kasih. Ayo anak-anak! JOHN! Kita harus masuk ke mobil!" Bu Looley memanggil suaminya.
Aku dan Corell menarik nafas panjang. Corell memasukkan kunci ke lubang kunci. Ia memutarnya. Dan kudorong pintunya. KRRIIEK..... suara pintu berderit. Aku masuk. Begitu juga Corell. Pintu ditutup, dan dikunci lagi. Kunci langsung disimpan didalam tas.
"Hei! Apakah kalian sudah masuk ke dalam rumah?" Massy berkata melalui Ear Speaker. Suaranya masuk ke Ear Speaker-ku dan Corell.
"Ya, kami sudah ada di dalam rumah ini. Biasa saja. Kami sedang mencari tombol lampu. Kami akan mematikan lampu dan menyalakan senter," jawabku lirih.
"Bagus! Karrena menurut GM-3000, kelima hantu itu markasnya ada di tempat-tempat yang kau sebutkan tadi. Mereka senang berkeliaran di ruang pembuatan keripik kentang. Tombol lampu ada di samping kiri pintu. 30 langkah,"
"Oke, sudah kutemukan. Nah, dimana letak dapurnya?" tanya Corell. Kunyalakan senterku.
"Di tingkat atas. Kau lihat ada tiga pintu? Itu kamar anak-anak Bu Looley. Ada dapur setelah pintu ketiga dari kiri," Jelas Massy.
"Oke, kami ke atas. Kami sudah melihat ketiga pintu kamar yang kau bilang tadi, Massy," kata Corell.
Aku dan Corell segera naik ke tingkat dua. Kami berjalan di tangga yang berputar. Dan akhirnya, sampai di tingkat dua. Kami segera berjalan ke dapur. Melewati ketiga kamar anak-anak Bu Looley. Sampai di depan pintu dapur, kami menyibak tirai yang mungkin itulah pintu dapur.
Dan kami masuk. Kami segera menyelidiki semua sisi dapur. Dan aku tak sengaja melihat ke atap. Ada bayangan yang berkelebat di atap. Kusenggol Corell yang masih asyik menyelidik. Saat Corell melihat ke atap, tubuhnya langsung jatuh. Dia pingsan. Sedangkan aku berdiri seperti patung. Aku tak bisa bicara pada Massy. Padahal Massy terus memanggilku dan Corell. Aku tak bisa menolong Corell. Aku hanya bisa diam menatap bayangan itu.
"Ellie!!!!!! Corell!!!!! JAWAB! JAWAB!"
Sabtu, 31 Juli 2010
Senin, 26 Juli 2010
Sang Pemburu Hantu (bagian satu)
Maddy menyiapkan alat berburu hantuku. Sekarang ia ada di loteng. Memakai masker, dan mencari peralatan itu. Sudah lama aku tak berburu hantu. Sekarang, banyak orang tak takut pada hantu. Sejak seseorang yang misterius datang untuk berdagang. Ia menjual jimat. Jimat anti hantu. Orang yang iseng membelinya, dan jimat itu benar-benar bekerja.
Dan sejak itu, aku tak memiliki pekerjaan lagi. Begitu juga ketiga temanku. Kami berempat, tinggal di penginapan. Gratis. Milik Maddy. Dia adalah teman kecilku. Sekarang, dia menjadi orang yang sukses. Kami berdua dulu sangat menyukai hantu. Tetapi sekarang, dia mengalihkan perhatiaanya pada penginapan. Semacam wallpaper, dekorasi, kursi, meja, makanan.... Bagiku, itu membosankan.
"Massy! Anna! Corell! Ada telepon. Oh... aku tak percaya! Kita akan berburu hantu lagi!" panggilku. Massy, Anna, dan Corell. Turun melewati tangga dengan terburu-buru.
"Wow! Sukar untuk dipercaya! Kita dapat panggilan!" sorak Corell.
"Aku kira, kita tidak akan dapat panggilan sejak orang itu menjual jimat anti h-a-n-t-u." eja Massy.
"Oh... senang sekali rasanya bisa memakai kostum pemburu hantu lagi." Anna berlari menuju lemari di gudang. Dan seketika, debu-debu yang ada di pintu gudang bertebaran dimana-mana.
"HHAATTTSSYYYIII....!!!!!!!!!!!!!!!!" Anna bersin. Keras sekali. Eh, tidak. Bukan sekali. Keras lima kali.
"Hatsyyiii!!!!! Hatsyyiii!!!!!" Anna bersin terus-menerus. Tanpa berhenti. Ingusnya meluncur dari hidung. Corell sudah mengambilkan satu kotak tissue. Yang berisi 150 lembar tissue. Dan aku tak percaya, Anna sudah hampir memakai setengahnya. Tissuenya ada dimana-mana. Bertebaran di lantai.
"Aku menyarankan, kau tak usah ikut dulu, Anna. Dan kebetulan, alat pemburu hantu milikmu rusak total. Penuh dengan debu, dan jaring laba-laba. Merasuk ke mesinnya. Dan botol hantumu... sekarang bisa jadi botol minuman. Ayolah, Anna, istirahatlah. Kau terlalu semangat hingga sekarang kau kena batunya. Padahal semangatmu itu harus kau simpan di petualangan nanti." kata Maddy menasehati.
"Mungkin kau benar. Kapan-kapan, aku akan lebih hati-hati lagi. Habis, kita sudah lama tak berburu hantu." Anna pun dituntun Maddy menuju ruang pengobatan miliknya.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ajak Corell. Aku dan Massy mengangguk semangat. Kami mengambil peralatan yang tadi diambil Maddy.
Selesai memakai peralatan, kau menggantung botol hantu di gantungan yang ada di tas pemburu hantu. Tiba-tiba, Maddy keluar daru ruang pengobatan. Ia mengangkat jempol kanannya, dan berkata; "Good luck!"
"Oke!" jawabku, Corell, dan Massy. Kami segera menyalakan mobil hantu. Aku masih sering memakainya untuk jalan-jalan. Jadi, mobil ini belum rusak sama sekali. Aku sudah menyalakan mesin mobil. Tetapi Massy belum masuk mobil.
"Dimana, Si Badung itu? Apa dia sedang membuat bekal lagi? Aduh! Jangan seperti tahun lalu lagi!" keluh Corell.
"Tenang saja, kurasa tidak." ucapku. Aku mengucapkan kata itu karena Massy menunjukkan spanduk yang ia buat sendiri, kalau tak salah. Tulisannya: "KAMI BEKERJA LAGI!" Massy menempelkannya di bagian samping mobil hantu. Corell langsung mendukung. Ia membantu menalikan tali spanduknya ke antena radio.
"Oke! Spanduk siap, kita semua..... SIAP! Come on!" Massy masuk dan menutup pintu. Kami pun berangkat.
Dan sejak itu, aku tak memiliki pekerjaan lagi. Begitu juga ketiga temanku. Kami berempat, tinggal di penginapan. Gratis. Milik Maddy. Dia adalah teman kecilku. Sekarang, dia menjadi orang yang sukses. Kami berdua dulu sangat menyukai hantu. Tetapi sekarang, dia mengalihkan perhatiaanya pada penginapan. Semacam wallpaper, dekorasi, kursi, meja, makanan.... Bagiku, itu membosankan.
"Massy! Anna! Corell! Ada telepon. Oh... aku tak percaya! Kita akan berburu hantu lagi!" panggilku. Massy, Anna, dan Corell. Turun melewati tangga dengan terburu-buru.
"Wow! Sukar untuk dipercaya! Kita dapat panggilan!" sorak Corell.
"Aku kira, kita tidak akan dapat panggilan sejak orang itu menjual jimat anti h-a-n-t-u." eja Massy.
"Oh... senang sekali rasanya bisa memakai kostum pemburu hantu lagi." Anna berlari menuju lemari di gudang. Dan seketika, debu-debu yang ada di pintu gudang bertebaran dimana-mana.
"HHAATTTSSYYYIII....!!!!!!!!!!!!!!!!" Anna bersin. Keras sekali. Eh, tidak. Bukan sekali. Keras lima kali.
"Hatsyyiii!!!!! Hatsyyiii!!!!!" Anna bersin terus-menerus. Tanpa berhenti. Ingusnya meluncur dari hidung. Corell sudah mengambilkan satu kotak tissue. Yang berisi 150 lembar tissue. Dan aku tak percaya, Anna sudah hampir memakai setengahnya. Tissuenya ada dimana-mana. Bertebaran di lantai.
"Aku menyarankan, kau tak usah ikut dulu, Anna. Dan kebetulan, alat pemburu hantu milikmu rusak total. Penuh dengan debu, dan jaring laba-laba. Merasuk ke mesinnya. Dan botol hantumu... sekarang bisa jadi botol minuman. Ayolah, Anna, istirahatlah. Kau terlalu semangat hingga sekarang kau kena batunya. Padahal semangatmu itu harus kau simpan di petualangan nanti." kata Maddy menasehati.
"Mungkin kau benar. Kapan-kapan, aku akan lebih hati-hati lagi. Habis, kita sudah lama tak berburu hantu." Anna pun dituntun Maddy menuju ruang pengobatan miliknya.
"Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ajak Corell. Aku dan Massy mengangguk semangat. Kami mengambil peralatan yang tadi diambil Maddy.
Selesai memakai peralatan, kau menggantung botol hantu di gantungan yang ada di tas pemburu hantu. Tiba-tiba, Maddy keluar daru ruang pengobatan. Ia mengangkat jempol kanannya, dan berkata; "Good luck!"
"Oke!" jawabku, Corell, dan Massy. Kami segera menyalakan mobil hantu. Aku masih sering memakainya untuk jalan-jalan. Jadi, mobil ini belum rusak sama sekali. Aku sudah menyalakan mesin mobil. Tetapi Massy belum masuk mobil.
"Dimana, Si Badung itu? Apa dia sedang membuat bekal lagi? Aduh! Jangan seperti tahun lalu lagi!" keluh Corell.
"Tenang saja, kurasa tidak." ucapku. Aku mengucapkan kata itu karena Massy menunjukkan spanduk yang ia buat sendiri, kalau tak salah. Tulisannya: "KAMI BEKERJA LAGI!" Massy menempelkannya di bagian samping mobil hantu. Corell langsung mendukung. Ia membantu menalikan tali spanduknya ke antena radio.
"Oke! Spanduk siap, kita semua..... SIAP! Come on!" Massy masuk dan menutup pintu. Kami pun berangkat.
Jumat, 16 Juli 2010
Roti bakar buatan Fira
"Fir, kamu punya cemilan nggak? Aku laper nih! Habis lari-lari di taman." tanya Mako. Fira, Lolli, dan ketujuh teman barunya sedang ada di kamar Lolli.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.
"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.
"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.
"Oke, teman-teman. Aku akan minta Mamaku mengambilkan cemilan dan minuman." jawab Fira. Ia berdiri dan meletakkan majalah yang baru saja ia baca.
"HORE!!!" teriak Mako senang.
Fira akhirnya menghampiri Mama yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Mama tidak memperhatikan kedatangan Fira. Karena kedua mata Mama tertuju pada televisi. Yang ditonton Mama adalah serial kesukaan Mama. Yaitu music in my life.
"Ma..." panggil Fira pelan. Mata Mama tetap tak bergeming. "Mama." Fira memanggil agak keras. "Mama!" Kali ini Fira memanggil Mama dengan keras. Tetapi Mama tetap tidak menengok pada Fira. "MAMA!!!!!" teriak Fira keras. Mama mengedip-ngedipkan matanya. Yang artinya Mama sangat kaget. Remot yang dipegang terjatuh ke lantai.
"Hm? Ada apa, Fira? Kau kan tahu, Mama lagi nonton music in my life. Bagus banget lho! Ini serial kesukaan Mama. Sekarang ceritanya tentang...." Mama mulai menyerocos ria.
"Aduh... Mama kebiasaan deh! Kalau udah ngomong sedikit, jadi banyak deh! Ini, teman-teman Fira minta cemilan." Fira mengutarakan kedatangannya.
"Nggak ada. Buat aja sirup sama roti bakar." Mama menjawab dengan angkuh.
"Bukannya mesin pembuat roti bakarnya rusak?" Fira mengingatkan.
"Kan bisa dipanggang pakai wajan?"
"Fira takut dan nggak bisa. Buatin dong, Ma!"
"Nggak. Hari ini, music in my life khusus nggak ada iklan dan tayang dua jam. Mama nggak mau ninggalin televisi. Lagipula, kamu sudah besar. Kalau nggak bisa pakai wajan, harusnya kamu punya alternatif lain dong."
"Seperti?"
"Pikir saja sendiri, Fira! Kamu punya otak yang cerdas. Masa nggak bisa?" Mama bicara sambil tetap menatap televisi. Fira pun berjalan menuju dapur.
"Apa ada alternatif lain selain memanggang di atas wajan. Aku berani aja sih. Tapi aku nggak tahu kapan matangnya. Nanti, malah gosong deh. Hmm... apa ya? Berpikirlah Fira!" batin Fira sambil membuat sirup. "Kalau pakai mesin kan, otomatis."
"FIRA! Kamu lama banget sih?" panggil Lolli. Fira yang kaget, hampir saja memecahkan gelas kesayangan Mama.
"Untunglah...." ucap Fira lega. Lalu, Lolli menepuk pundak Fira. Fira kaget lagi, dan otomatis. Tangannya yang memegang gelas berisi sirup kental (belum dicampur air) langsung ke mulut Fira. Fira meminumnya dengan otomatis.
"HEI! Fira! Kamu kok minum sirup tanpa air?" tanya Lolli.
"Ini semua gara-gara kamu tau! Kamu mengagetkanku dua kali hingga gelas kesayangan Mama hampir pecah dan aku meminum sirup kental tanpa air setetes pun!" Fira mendorong Lolli pelan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Tapi... mana cemilannya? Teman-teman di kamarmu udah lembek banget tuh! Pada tiduran di ranjangmu semua. Aku juga termasuk. Tapi aku disuruh mendatangimu. Ada apa, kok lama banget? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Lolli sambil menuangkan air dingin ke gelas berisi sirup kental.
"Gini lho..." Fira pun mengutarakan masalahnya dengan panjang lebar.
"It's easy!" teriak Lolli senang. Lolli pun membisikkan rencananya pada Fira. Fira tersenyum lebar. Ia segera mengambil setrika di kamar Mama. Sedangkan Lolli mengambil selai cokelat, roti tawar, dan kantung makan tipis.
Setelah mengambil setrika, Fira membawanya ke dapur. Lolli sudah mengoleskan selai cokelat ke roti tawar. Dan roti itu dimasukkan ke kantung makan. Lolli mencolokkan stop kontak, lalu mulai menyetrika kantung makan yang berisi roti. Setengah jam mereka lakukan itu, akhirnya selesai juga. Sembilan roti bakar, dan sembilan sirup dingin, sudah siap! Fira membawa cemilan itu dengan nampan ke kamar.
"Hei! Mereka tertidur lelap di kasurmu.... Kasurmu empuk ya?" bisik Lolli. "Aku ingin punya kasur yang empuk dan bisa membuat orang tertidur.... iri deh!" tambah Lolli. Fira tersenyum.
"GUYS!! Cemilannya dah siap!!!" Fira berteriak. Sedangkan Lolli meletakkan nampannya di atas karpet.
Lina, Vera, Karin, Lola, Katherine, Mako, dan Lita serempak bangun. Dan berlari, lalu duduk di atas karpet dengan sigap. Lola yang melihat roti bakarnya duluan. "Hhhmmm... roti bakar setengah matang!" gumamnya. Air liurnya menetes saat melihat roti bakar setengah matang yang dibuat Lolli dan Karin.
"Hiii.... Lola NGGILANI (menjijikan).....!!!!!!!" teriak teman-teman yang lainnya dengan serempak.
"Nih, tissue. Sekarang, kita makan yuk!!! Kalau enak, kita kritik nggak enak. Kalau nggak enak, kita kritik enak biar terhibur!!!!" Mako mengambil satu gelas dan satu rotio bakar.
"KEJAM!!!" Lolli dan Fira menggelitik ketiak Mako.
"Jangan dong ah!" Mako terjatuh.
"Ayo kita tinggal mereka bertiga makan. Nyam....nyam...nyam.... enak!" Lita mengangkat jempolnya.
Langganan:
Postingan (Atom)