Sekarang, di Wonogiri. Aku sedang bosan... jadinya, aku gak tidur. Main sama adik kayaknya seru! Udah deh, aku langsung ngajak mereka ke dalam kamar.
"Mainan apa nih?" Tanyaku.
Tiba-tiba, Arsyad membuka lemari dan duduk di situ. Tempatnya persegi. Arsyad dan Irsya pas buat duduk di situ.
Aku jadi inget sirkus, ada pesulap, dan relawan masuk lemari. Dikunci. Dan lemari dimasukan pedang panjang dan tajam. Saat pesulap mengatakan 'sim salabim!', dan pintu lemari akan dibuka. Saat dibuka, orangnya tidak apa-apa. Maka, aku mengajak mereka main itu.
Tapi, permainan ini dibuat agak beda. Kalau aku mengatakan 'sim salabim!'. Ar atau Ir menunjukkan anggota badan. Kalau aku menyuruh kaki, mereka mengetokkan kaki. Kalau kepala, ya kepala!
Aku sempet membuka pintu lemari di saat aku menyuruh Arsyad kepala. Saat dibuka Ir, ada yang mengagetkan! Kepala Ar ada di bawah. Kaki nyenden dinding, dan tangan memegang ujung lemari. Aku dan Ir sangat kaget. Aku mundur ke belakang dan tersandung kasur. AKu hanya tertawa sendiri. Ar sudah duduk kembali di dalam lemari. Aku menolongnya turun dan membereskan baju yang berantakan bersama kedua adikku ini.
Kalau mengingat wajah Ar yang serius dan mulutnya terbuka lebar saat kepalanya di bawah itu, aku hanya cekikikan. Seperti saat di warnet ini dan aku mengetiknya. AKu hanya tertawa sendiri dan orang lain kadang memandangku......
ANEH!
Senin, 2009 Juli 06
Sabtu, 2009 Juni 06
Huah, pedas.....!!!!!
Malam minggu. Selalu ramai di tempat umum. Aku biasanya ke ADA swalayan hanya untuk sekedar bermain atau sambil berbelanja. Saat pulang dari ADA, kami mampir di 'nasi goreng Ngesrep' untuk makan malam.
Bapak memesan dua nasgor tidak pedas dan satu nasgor pedas. Sambil menunggu, aku ke tempat pengisian air minum bersama Ar-Ir. Setelah dipanggil, kami bertiga duduk di karpet untuk menyantap nasgor.
Ibu berdua dengan aku, bapak sendiri, dan Ar-Ir setengah-setengah. Bapak menambahkan satu sendok miliknya ke masing-masing piring anak-anak. Aku memakan satu sendok nasgorku.
"Huah! Pedas....!!!" Aku meminum sebanyak-banyaknya air minum yang ada di depanku. Aku minum satu gelas, tapi masih tetap terasa pedasnya.
"Kok pedes sih, punyaku?" Protesku.
"Tadi kamu belum ngaduk paling. Kan dikasih satu yang pedes punya bapak." Ibu memberi saran. Aku mengaduk nasgor, lalu menyantapnya lagi.
"Kok masih pedes?" Air mataku keluar karena pedas. Aku meminum lagi air yang ada di depanku.
"Makanya, cepet-cepet di makan biar nggak pedes lagi." Ibu memberi saran lagi.
Aku memaksakan diri lagi. Aku menyendok nasgorku.
"Sepedes apa sih?" Tanya bapak. Bapak mengambil piringku lalu memasukkan satu sendok nasgor ke dalam mulut.
"Ini yang pedes! Yang bapak makan tadi kok rasanya nggak pedes banget? Lah, punyamu udah tak makan banyak, Bit." Seru bapak. Aku mengambil sapu tangan di kantung untuk mengelap air mataku gara-gara kepedasan. "Ibit nggak bohong." Tambah bapak lagi.
"Biar ditambahin Ar sama Ir aja dulu." Ibu mengambil piring, lalu mengambil masing-masing satu sendok dari piring Ar-Ir ke piringku. Arsyad sempat bingung, kenapa nasgornya diambil.
"Kok punyaku diambil?" Tanya nya.
"Ini buat Mbak Ibit, Ar." Jelas ibu sambil menyerahkan nasgorku. Lalu aku memakannya sampai ludes.
Memang, yang bapak makan sangat pedas! Bapak sampai-sampai tidak tahan juga. Aku memakan punyaku, tidak pedas sama sekali.
Wah, wah, wah. Ini adalah pengalaman lucu yang takkan pernah kulupakan.
Bapak memesan dua nasgor tidak pedas dan satu nasgor pedas. Sambil menunggu, aku ke tempat pengisian air minum bersama Ar-Ir. Setelah dipanggil, kami bertiga duduk di karpet untuk menyantap nasgor.
Ibu berdua dengan aku, bapak sendiri, dan Ar-Ir setengah-setengah. Bapak menambahkan satu sendok miliknya ke masing-masing piring anak-anak. Aku memakan satu sendok nasgorku.
"Huah! Pedas....!!!" Aku meminum sebanyak-banyaknya air minum yang ada di depanku. Aku minum satu gelas, tapi masih tetap terasa pedasnya.
"Kok pedes sih, punyaku?" Protesku.
"Tadi kamu belum ngaduk paling. Kan dikasih satu yang pedes punya bapak." Ibu memberi saran. Aku mengaduk nasgor, lalu menyantapnya lagi.
"Kok masih pedes?" Air mataku keluar karena pedas. Aku meminum lagi air yang ada di depanku.
"Makanya, cepet-cepet di makan biar nggak pedes lagi." Ibu memberi saran lagi.
Aku memaksakan diri lagi. Aku menyendok nasgorku.
"Sepedes apa sih?" Tanya bapak. Bapak mengambil piringku lalu memasukkan satu sendok nasgor ke dalam mulut.
"Ini yang pedes! Yang bapak makan tadi kok rasanya nggak pedes banget? Lah, punyamu udah tak makan banyak, Bit." Seru bapak. Aku mengambil sapu tangan di kantung untuk mengelap air mataku gara-gara kepedasan. "Ibit nggak bohong." Tambah bapak lagi.
"Biar ditambahin Ar sama Ir aja dulu." Ibu mengambil piring, lalu mengambil masing-masing satu sendok dari piring Ar-Ir ke piringku. Arsyad sempat bingung, kenapa nasgornya diambil.
"Kok punyaku diambil?" Tanya nya.
"Ini buat Mbak Ibit, Ar." Jelas ibu sambil menyerahkan nasgorku. Lalu aku memakannya sampai ludes.
Memang, yang bapak makan sangat pedas! Bapak sampai-sampai tidak tahan juga. Aku memakan punyaku, tidak pedas sama sekali.
Wah, wah, wah. Ini adalah pengalaman lucu yang takkan pernah kulupakan.
Sabtu, 2009 Mei 30
Hijaukan bumiku, sejahteralah bangsaku
Sekarang kata-kata itu sudah sering ditempeli dimana-mana. Seperti di Bank, sekolah, kantor, dan tempat-tempat umum lainnya. Aku berfikir. Mereka ternyata sudah tahu tentang pemanasan global yang sedang terjadi sekarang. Yang melakukan itu adalah salah orang-orang yang tidak tahu diri. Membuang sampah di sungai, menebang pohon sembarangan tanpa mengetahui muda atau tua, memakai alat transportasi yang tidak perlu, memakai AC berfreon, menggunakan parfum ber-CFC, dan lain sebagainya. Itu membuat bumi makin panas!
Ini akibatnya jika kalian semua masih melakuakn semua itu:
Membuang sampah di sungai pasti sudah tahu akibatnya. Jadi tidak perlu dijelaskan.
Menebang phon sembarangan. Manusia bisa kekurangan oksigen! Kenapa? Karena pohon dan tumbuhan lainnya adalh pabrik oksigen! Dari karbondioksida dibuat menjadi oksigen dan manusia menghirup oksigen lalu mengeluarkan karbondioksida dan diolah lagi menjadi oksigen oleh tumbuhan. Bagaimana kalau pohon-pohon di Indonesia sudah habis? Atau di seluruh dunia? Bayangkan!
Memakai alat transportasi terlalu banyak, itu dapat membolongi ozon bumi. Sinar matahari makin tambah banyak masuk ke bumi. Sinar matahari itu sangatlah panas. Dapat mencairkan es dalam sekejap. Jika lapisan ozon sudah habis kosong melompong, maka es di kutub akan mencair. Dan lautan semakin tinggi. Perkiraan profesor dunia, bumi bisa tertutup lautan kalau tidak cepat-cepat dicegah.
Memakai AC berfreon juga tidak baik! Sekarang sudah ada AC yang ramah lingkungan. Atau lebih hemat memakai kipas listrik biasa dan kipas sederhana.
Memakai parfum ber-CFC. Gasnya dapat melubangi lapisan ozon bumi.
Itu yang aku tahu. Mungkin masih lebih banyak hal-hal yang dapat membuat bumi tidak panas lagi.
AYO! Cegah pemanasan global secepatnya agar kita dapat hidup sejahtera!
Ini akibatnya jika kalian semua masih melakuakn semua itu:
Membuang sampah di sungai pasti sudah tahu akibatnya. Jadi tidak perlu dijelaskan.
Menebang phon sembarangan. Manusia bisa kekurangan oksigen! Kenapa? Karena pohon dan tumbuhan lainnya adalh pabrik oksigen! Dari karbondioksida dibuat menjadi oksigen dan manusia menghirup oksigen lalu mengeluarkan karbondioksida dan diolah lagi menjadi oksigen oleh tumbuhan. Bagaimana kalau pohon-pohon di Indonesia sudah habis? Atau di seluruh dunia? Bayangkan!
Memakai alat transportasi terlalu banyak, itu dapat membolongi ozon bumi. Sinar matahari makin tambah banyak masuk ke bumi. Sinar matahari itu sangatlah panas. Dapat mencairkan es dalam sekejap. Jika lapisan ozon sudah habis kosong melompong, maka es di kutub akan mencair. Dan lautan semakin tinggi. Perkiraan profesor dunia, bumi bisa tertutup lautan kalau tidak cepat-cepat dicegah.
Memakai AC berfreon juga tidak baik! Sekarang sudah ada AC yang ramah lingkungan. Atau lebih hemat memakai kipas listrik biasa dan kipas sederhana.
Memakai parfum ber-CFC. Gasnya dapat melubangi lapisan ozon bumi.
Itu yang aku tahu. Mungkin masih lebih banyak hal-hal yang dapat membuat bumi tidak panas lagi.
AYO! Cegah pemanasan global secepatnya agar kita dapat hidup sejahtera!
Jumat, 2009 Maret 27
Kalau si kembar berpisah.......
Tadi malam, adikku Arsyad dan Irsyad berpisah sebentar. Arsyad di ajak oleh bapak ibu ke luar (jalan-jalan), sedangkan Irsyad ditinggal bersama aku dan Mbak Ririn. Saat Arsayad sudah pergi jauh ke Semarang bawah, Irsyad diam seribu kata. Aku sudah mencoba untuk menghibur agar tidak bersedih. Aku berkata:'Dek, Ir. Jangan nangis. Masak kamu kalah sama Anda-Anin yang setiap hari pisah. Kan nanti ketemu lagi. Mana sih usilnya Ir? Mana berisiknya Ir? Ayo dong, semangat!' Aku cuma berrkata begitu. Irsyad malah tambah sedih dan menelungkup di bantal. Nyerah deh!
Tiba-tiba, telepon berdering. Mbak yang mengangkat. Dikiranya itu adalah Fafa, teman Irsyad. Tetapi itu ternyata Arsyad! Huh! Pasti nanti Irsyad nangis kalau Arsyad diajak kemana, gitu. Pokoknya tanpa Irsyad! Kuduga, Irsyad akan menangis meraung-raung. Tapi dugaanku salah! Irsyad sedih menitikkan air mata seperti..... IRI! Tetapi Irsyad tidak meraung. Hanya duduk di sofa, menangis sedih, dan tidak mempedulikanku atau Mbak.
Jam sepuluh telah tiba. Aku dan adikku tidur di kamar bapak ibu. Adikku itu sudah terlelap di alam mimpi. Tapi aku mendengar suara mesin mobil. Aku berdiri dari lamunanku, dan pergi ke ruang tamu. Akuu membuka pintu yang tadinya ku-kunci. Ternyata di luar sudah ada Arsyad, bapak, dan ibu. Mereka memberi salam dan hanya aku yang menjawab. Arsyad masuk. Dan kata ibu:'Tadi arsyad juga bilang, kalau.... "Nggak asyik kalau pergi tanpa Ir".' Aku mendesah. Walaupun mereka keseringan tidak akur atau rebutan, mereka tetap saling mencintai dan menyayangi. Kembar itu sungguh...... Tidak diragukan lagi kasih sayang mereka!
Tiba-tiba, telepon berdering. Mbak yang mengangkat. Dikiranya itu adalah Fafa, teman Irsyad. Tetapi itu ternyata Arsyad! Huh! Pasti nanti Irsyad nangis kalau Arsyad diajak kemana, gitu. Pokoknya tanpa Irsyad! Kuduga, Irsyad akan menangis meraung-raung. Tapi dugaanku salah! Irsyad sedih menitikkan air mata seperti..... IRI! Tetapi Irsyad tidak meraung. Hanya duduk di sofa, menangis sedih, dan tidak mempedulikanku atau Mbak.
Jam sepuluh telah tiba. Aku dan adikku tidur di kamar bapak ibu. Adikku itu sudah terlelap di alam mimpi. Tapi aku mendengar suara mesin mobil. Aku berdiri dari lamunanku, dan pergi ke ruang tamu. Akuu membuka pintu yang tadinya ku-kunci. Ternyata di luar sudah ada Arsyad, bapak, dan ibu. Mereka memberi salam dan hanya aku yang menjawab. Arsyad masuk. Dan kata ibu:'Tadi arsyad juga bilang, kalau.... "Nggak asyik kalau pergi tanpa Ir".' Aku mendesah. Walaupun mereka keseringan tidak akur atau rebutan, mereka tetap saling mencintai dan menyayangi. Kembar itu sungguh...... Tidak diragukan lagi kasih sayang mereka!
Sabtu, 2009 Maret 14
Bubur Ayam Banyumanik
Hari Minggu! Aku akan makan bubur ayam disana. Selain enak, nggak tau tuh kenapa, aku tiba-tiba jadi suka banget sama bubur ayamnya.
Biasanya, aku sisa in buburnya. Tapi sekarang..... Saking sudah lama banget nggak makan bubur ayam, langsung ngebut deh! Malahan, aku lebih cepat dari bapakku (Soalnya, kalau makan , bapakku cepet abizzzz)! Tapi, kenapa adikku ngak suka sih sama bubur ayam yang seenak itu? Udah empuk, anget, and, banyak kacangnya. Kalau udah dicampur, kuahnya juga manis (Eh! kayak Bondan Winarno aja. Ngabsen rasa makanan. He..he..he..).
Bubur ayam ini dijual di Banyumanik. Depan Sarinah. dan di deket toko peralat menjahit dan kain.
Udah dulu ya. Aku mau makan bubur ayam. Pengen ngalahin bapak lagi!
Biasanya, aku sisa in buburnya. Tapi sekarang..... Saking sudah lama banget nggak makan bubur ayam, langsung ngebut deh! Malahan, aku lebih cepat dari bapakku (Soalnya, kalau makan , bapakku cepet abizzzz)! Tapi, kenapa adikku ngak suka sih sama bubur ayam yang seenak itu? Udah empuk, anget, and, banyak kacangnya. Kalau udah dicampur, kuahnya juga manis (Eh! kayak Bondan Winarno aja. Ngabsen rasa makanan. He..he..he..).
Bubur ayam ini dijual di Banyumanik. Depan Sarinah. dan di deket toko peralat menjahit dan kain.
Udah dulu ya. Aku mau makan bubur ayam. Pengen ngalahin bapak lagi!
Sabtu, 2009 Maret 07
Jam kuno
Keluargaku, kalau setiap hari Sabtu dan Minggu selalu ke rumah nenek dan kakekku.
Hari Sabtu sudah tiba. Seperti biasa, aku mempersiapkan baju dan kebutuhanku yang lain bersama adikku, Lita.
Aku memasukkan celana rumah tiga, baju rumah tiga, pakaian dalam lima, kerudung dua, celana dan baju pergi dua. Lalu kumasukkan peralatan mendiku. Aku membantu adikku memasukkan celana jins-nya yang super tebal. Setelah selesai, aku dan adikku masuk mobil dan menaruh tas ransel kami dibawah tempat duduk. Ayah dan Ibu sudah menunggu di dalam mobil. Kamipun berangkat. Perjalanan menuju rumah nenek membutuhkan waktu selama tiga jam.
Selama tiga jam di dalam mobil. Akhirnya, sampai juga di rumah nenek. Aku dan adikku yang tadi tertidur membuka mata saat mobil berhenti tepat di dalam garasa rumah kakek dan nenek.
"Kakek! Nenek! Lita ada di sini!" Lita langsung memeluk nenek dan kakek saking kangennya. Padahal, kan selalu bertemu setiap seminggu sekali?
Aku memeluk kakek dan nenek, dan menyalimi beliau.
"Kakek. Besok pagi, kita ke sawah ya? Aku kepingin mencari keong lagi kek." Rengekku pada kakek.
"Iya. Ada yang mau bantu nenek nggak? Tuh! Nenek lagi kesusahan mengupas kentang dan wortel!" Kata Kakek menunjuk nenek. Aku dan adikku mengangguk.
Selesai memasak. Kami langsung makan sup buata kami yang masih hangat itu di ruang makan.
"Eh! Anak-anak! Nenek punya hadiah lho buat kalian!" Kata nenek sehabis makan.
"Kita cuci piring dulu ya!" Kata nenek lagi.
SEtelah mencuci piring, kami ke kamar nenek. Setelah itu, nenek mangambil kotak kecil diatas lemarinya.
"Kalian boleh membukanya." Aku dan adikku langsung membuka kado itu. Dan..... di dalamnya ada sebuah jam tangan!
"Wow! Keren banget! Walaupun kayaknya udah kuno! Tapi, masih keren!" Teriak Lita.
"Iya nek! makasih ya nek." Kataku berterima kasih.
"Sama-sama. Kalian tidur dulu ya. Besok kan mau ke sawah bersama teman-teman mu." Jawab nenek lembut. Aku dan adikku mengangguk lalu berjalan menuju kamarku. Kamar yang bersar dan cukup untuk aku dan adikku.
"SElamat malam, Lita"
"Selamat malam, kak."
SEmenit berikutnya, kami telah diciuim nenek, dan terlena di rangjang tidur yang empuk di sini.
Hari Sabtu sudah tiba. Seperti biasa, aku mempersiapkan baju dan kebutuhanku yang lain bersama adikku, Lita.
Aku memasukkan celana rumah tiga, baju rumah tiga, pakaian dalam lima, kerudung dua, celana dan baju pergi dua. Lalu kumasukkan peralatan mendiku. Aku membantu adikku memasukkan celana jins-nya yang super tebal. Setelah selesai, aku dan adikku masuk mobil dan menaruh tas ransel kami dibawah tempat duduk. Ayah dan Ibu sudah menunggu di dalam mobil. Kamipun berangkat. Perjalanan menuju rumah nenek membutuhkan waktu selama tiga jam.
Selama tiga jam di dalam mobil. Akhirnya, sampai juga di rumah nenek. Aku dan adikku yang tadi tertidur membuka mata saat mobil berhenti tepat di dalam garasa rumah kakek dan nenek.
"Kakek! Nenek! Lita ada di sini!" Lita langsung memeluk nenek dan kakek saking kangennya. Padahal, kan selalu bertemu setiap seminggu sekali?
Aku memeluk kakek dan nenek, dan menyalimi beliau.
"Kakek. Besok pagi, kita ke sawah ya? Aku kepingin mencari keong lagi kek." Rengekku pada kakek.
"Iya. Ada yang mau bantu nenek nggak? Tuh! Nenek lagi kesusahan mengupas kentang dan wortel!" Kata Kakek menunjuk nenek. Aku dan adikku mengangguk.
Selesai memasak. Kami langsung makan sup buata kami yang masih hangat itu di ruang makan.
"Eh! Anak-anak! Nenek punya hadiah lho buat kalian!" Kata nenek sehabis makan.
"Kita cuci piring dulu ya!" Kata nenek lagi.
SEtelah mencuci piring, kami ke kamar nenek. Setelah itu, nenek mangambil kotak kecil diatas lemarinya.
"Kalian boleh membukanya." Aku dan adikku langsung membuka kado itu. Dan..... di dalamnya ada sebuah jam tangan!
"Wow! Keren banget! Walaupun kayaknya udah kuno! Tapi, masih keren!" Teriak Lita.
"Iya nek! makasih ya nek." Kataku berterima kasih.
"Sama-sama. Kalian tidur dulu ya. Besok kan mau ke sawah bersama teman-teman mu." Jawab nenek lembut. Aku dan adikku mengangguk lalu berjalan menuju kamarku. Kamar yang bersar dan cukup untuk aku dan adikku.
"SElamat malam, Lita"
"Selamat malam, kak."
SEmenit berikutnya, kami telah diciuim nenek, dan terlena di rangjang tidur yang empuk di sini.
Senin, 2009 Februari 16
Salah seragam
Setelah ulangan semester dua. Sekolah kami mengadakan acara-acara menarik. Hari Senin, di sekolah acaranya bermain. Hari selasa, lomba memasak dan menata makanan. Hari Rabu, jalan sehat. Kamis, pelajarannya dikit, dan ada acara dari teman sekolah yang bisa humor dan membuat tertawa anak-anak (ya iyalah! Namanya juga humor!). Jum'at dan Sabtu libur.
Saat hari Rabu, anak-anak harus memakai seragam olah raga. Tapi, aku lupa. Jadi aku memakai seragam kotak-kotak ku. Aku berangkat menaiki mobila Ayah. Ibu sedang keluar kota. Ibu hanya diantar sampai ke seberang jalan raya.
Sampai di sekolah. Aku bingung sekali! Kenapa anak-anak se-sekolah memakai seragam olah raga? Batinku. Aku bertanya pada Sasa teman kelasku.
"Sasa, kok semuanya pakai seragam olah raga? Ini kan hari Rabu?" Tanyaku bingung pada Sasa.
"Kan sekarang ada jalan sehat Ni! Kenapa kamu lupa? Masih kecil, kok udah pikun sih Ni? Kamu tadi lihat jadwal nggak toh? Coba, aku lihat tasmu dong!" Kata Sasa.
Ah! Iya! Aku lupa! SEkarang aku malah bawa buku sekolah sama rukuh meneh! Batinku sambil tersenyum kecut.
"Ya Allah! Ani! Kamu bawa buku sama rukuh juga? Namanya bukan jalan sehat! Tapi mah! Ini sama aja sekolah terus belajar seperti biasa! Ani! Ani! Ya udah! Aku mau pergi dulu! Dah!" Kata Sasa menjauh sambil melambaikan tangannya.
Aku lemas. Ayah yang dari tadi masih menungguku masuk gerbang, hanya bingung setelah melihat kejadian itu.
"Ayah, kita pulang aja yuk! Aku ngga usah sekolah! Aku malu! Nanti kalau harus bawa tas, kan berat! Izin dulu dong yah!" Mohonku pada ayah.
"Oke!" Kata Ayah sambil berjalan keluar mobil ke kantor satpam.
Malu banget deh!
Saat hari Rabu, anak-anak harus memakai seragam olah raga. Tapi, aku lupa. Jadi aku memakai seragam kotak-kotak ku. Aku berangkat menaiki mobila Ayah. Ibu sedang keluar kota. Ibu hanya diantar sampai ke seberang jalan raya.
Sampai di sekolah. Aku bingung sekali! Kenapa anak-anak se-sekolah memakai seragam olah raga? Batinku. Aku bertanya pada Sasa teman kelasku.
"Sasa, kok semuanya pakai seragam olah raga? Ini kan hari Rabu?" Tanyaku bingung pada Sasa.
"Kan sekarang ada jalan sehat Ni! Kenapa kamu lupa? Masih kecil, kok udah pikun sih Ni? Kamu tadi lihat jadwal nggak toh? Coba, aku lihat tasmu dong!" Kata Sasa.
Ah! Iya! Aku lupa! SEkarang aku malah bawa buku sekolah sama rukuh meneh! Batinku sambil tersenyum kecut.
"Ya Allah! Ani! Kamu bawa buku sama rukuh juga? Namanya bukan jalan sehat! Tapi mah! Ini sama aja sekolah terus belajar seperti biasa! Ani! Ani! Ya udah! Aku mau pergi dulu! Dah!" Kata Sasa menjauh sambil melambaikan tangannya.
Aku lemas. Ayah yang dari tadi masih menungguku masuk gerbang, hanya bingung setelah melihat kejadian itu.
"Ayah, kita pulang aja yuk! Aku ngga usah sekolah! Aku malu! Nanti kalau harus bawa tas, kan berat! Izin dulu dong yah!" Mohonku pada ayah.
"Oke!" Kata Ayah sambil berjalan keluar mobil ke kantor satpam.
Malu banget deh!
Langgan:
Entri (Atom)
